24 C
Makassar
25 February 2026, 13:06 PM WITA

Mencekam! 10 Ribu Tentara Dikerahkan Usai Kematian Bos Narkoba Meksiko

SulawesiPos.com – Situasi keamanan di Meksiko memanas setelah operasi militer yang menargetkan pemimpin kartel paling diburu, Nemesio Oseguera Cervantes, berujung pada kematiannya.

Pemerintah merespons gelombang kekerasan susulan dengan mengerahkan sekitar 10.000 personel militer untuk mengamankan sejumlah wilayah rawan.

Tokoh yang dikenal dengan julukan El Mencho itu merupakan pimpinan Cartel de Jalisco Nueva Generación (CJNG), salah satu organisasi kriminal paling berpengaruh di negara tersebut.

Tewasnya sang pemimpin memicu aksi balasan dari jaringan kartel di berbagai daerah. Blokade jalan dilaporkan terjadi di sedikitnya 20 negara bagian. Sejumlah kendaraan dibakar dan beberapa tempat usaha dirusak.

Di negara bagian Jalisco, kerusuhan bahkan merembet ke lembaga pemasyarakatan setelah kelompok bersenjata menyerang fasilitas tersebut. Sedikitnya 23 narapidana dilaporkan melarikan diri dalam kekacauan itu.

Dalam rangkaian bentrokan antara aparat dan kelompok bersenjata, korban jiwa terus bertambah.

Laporan resmi menyebutkan, 27 aparat keamanan, 46 pelaku kriminal, dan satu warga sipil tewas.

Pemerintah pusat kemudian mengirim tambahan sekitar 2.500 tentara ke Jalisco, sehingga total pasukan yang disiagakan di wilayah itu mencapai 10.000 personel.

Langkah ini diambil untuk memulihkan ketertiban, terutama di Guadalajara yang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan salah satu lokasi tuan rumah Piala Dunia.

Dampak di Ruang Publik

Sekolah-sekolah di Guadalajara diliburkan, sementara sebagian layanan transportasi umum dihentikan sementara.

Warga terlihat berbondong-bondong membeli bahan pokok untuk mengantisipasi situasi yang belum sepenuhnya stabil.

Dukungan Intelijen dari Amerika Serikat

Operasi militer yang menewaskan El Mencho juga mendapat dukungan dari Amerika Serikat. Pemerintah AS mengakui memberikan bantuan berupa informasi intelijen kepada otoritas Meksiko.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa data intelijen dibagikan untuk membantu operasi di wilayah Tapalpa, Jalisco.

“Amerika Serikat memberikan dukungan intelijen kepada pemerintah Meksiko untuk membantu operasi di Tapalpa, Jalisco, Meksiko,” kata Leavitt melalui platform X.

Sementara Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum menegaskan, tidak ada keterlibatan pasukan AS secara langsung di lapangan.

Tewas karena Kekasih

Menteri Pertahanan Meksiko, Ricardo Trevilla, mengungkapkan bahwa operasi berawal dari pelacakan terhadap salah satu kekasih El Mencho.

Pergerakannya tersebut mengarahkan aparat ke lokasi persembunyian di kawasan resor di Tapalpa.

Setelah posisi target terkonfirmasi, pasukan khusus melakukan penyergapan.

El Mencho dilaporkan mengalami luka berat dan meninggal dalam perjalanan menuju fasilitas medis.

Sementara tangan kanan El Mencho, Hugo H alias El Tuli juga dilaporkan tewas. Dua anggota kartel lainnya ditangkap dan sejumlah senjata berat disita.

SulawesiPos.com – Situasi keamanan di Meksiko memanas setelah operasi militer yang menargetkan pemimpin kartel paling diburu, Nemesio Oseguera Cervantes, berujung pada kematiannya.

Pemerintah merespons gelombang kekerasan susulan dengan mengerahkan sekitar 10.000 personel militer untuk mengamankan sejumlah wilayah rawan.

Tokoh yang dikenal dengan julukan El Mencho itu merupakan pimpinan Cartel de Jalisco Nueva Generación (CJNG), salah satu organisasi kriminal paling berpengaruh di negara tersebut.

Tewasnya sang pemimpin memicu aksi balasan dari jaringan kartel di berbagai daerah. Blokade jalan dilaporkan terjadi di sedikitnya 20 negara bagian. Sejumlah kendaraan dibakar dan beberapa tempat usaha dirusak.

Di negara bagian Jalisco, kerusuhan bahkan merembet ke lembaga pemasyarakatan setelah kelompok bersenjata menyerang fasilitas tersebut. Sedikitnya 23 narapidana dilaporkan melarikan diri dalam kekacauan itu.

Dalam rangkaian bentrokan antara aparat dan kelompok bersenjata, korban jiwa terus bertambah.

Laporan resmi menyebutkan, 27 aparat keamanan, 46 pelaku kriminal, dan satu warga sipil tewas.

Pemerintah pusat kemudian mengirim tambahan sekitar 2.500 tentara ke Jalisco, sehingga total pasukan yang disiagakan di wilayah itu mencapai 10.000 personel.

Langkah ini diambil untuk memulihkan ketertiban, terutama di Guadalajara yang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan salah satu lokasi tuan rumah Piala Dunia.

Dampak di Ruang Publik

Sekolah-sekolah di Guadalajara diliburkan, sementara sebagian layanan transportasi umum dihentikan sementara.

Warga terlihat berbondong-bondong membeli bahan pokok untuk mengantisipasi situasi yang belum sepenuhnya stabil.

Dukungan Intelijen dari Amerika Serikat

Operasi militer yang menewaskan El Mencho juga mendapat dukungan dari Amerika Serikat. Pemerintah AS mengakui memberikan bantuan berupa informasi intelijen kepada otoritas Meksiko.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa data intelijen dibagikan untuk membantu operasi di wilayah Tapalpa, Jalisco.

“Amerika Serikat memberikan dukungan intelijen kepada pemerintah Meksiko untuk membantu operasi di Tapalpa, Jalisco, Meksiko,” kata Leavitt melalui platform X.

Sementara Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum menegaskan, tidak ada keterlibatan pasukan AS secara langsung di lapangan.

Tewas karena Kekasih

Menteri Pertahanan Meksiko, Ricardo Trevilla, mengungkapkan bahwa operasi berawal dari pelacakan terhadap salah satu kekasih El Mencho.

Pergerakannya tersebut mengarahkan aparat ke lokasi persembunyian di kawasan resor di Tapalpa.

Setelah posisi target terkonfirmasi, pasukan khusus melakukan penyergapan.

El Mencho dilaporkan mengalami luka berat dan meninggal dalam perjalanan menuju fasilitas medis.

Sementara tangan kanan El Mencho, Hugo H alias El Tuli juga dilaporkan tewas. Dua anggota kartel lainnya ditangkap dan sejumlah senjata berat disita.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/