Mengapa Orang Terjebak Dalam Duka?

SulawesiPos.com – Laporan mendalam tentang fenomena manusia yang “terjebak dalam duka” pertama kali dipublikasikan oleh Newsweek pada 18 Februari 2026 melalui artikel karya Daniella Gray berjudul “Some People Get ‘Stuck’ in Grief—Now Scientists Think They Know Why.”

Artikel tersebut mengangkat temuan ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal Trends in Neurosciences yang menelusuri mekanisme neurobiologis di balik kondisi yang kini dikenal sebagai Prolonged Grief Disorder (PGD) atau Gangguan Duka Berkepanjangan.

Dalam proses berduka yang normal, nyeri emosional secara bertahap mereda seiring adaptasi psikologis dan rekonstruksi makna hidup, namun pada sebagian individu duka justru menetap secara intens dan mengganggu fungsi sosial maupun biologis.

Kondisi ini secara resmi diakui sebagai diagnosis psikiatri pada 2018 meskipun pengalaman klinis tentang duka patologis telah lama dicatat dalam literatur psikologi dan psikiatri modern.

Richard Bryant dari University of New South Wales menyebut gangguan ini sebagai “pendatang baru dalam klasifikasi diagnosis,” meski pola klinisnya telah lama diamati dalam praktik trauma dan kehilangan.

Ilustrasi gangguan duka berkepanjangan.
Ilustrasi bagaimana Gangguan Duka Berkepanjangan (Prolonged Grief Disorder/PGD) berkaitan dengan hiperaktivitas sirkuit penghargaan di otak.

Sekitar satu dari dua puluh individu yang mengalami kehilangan menunjukkan gejala yang menetap lebih dari enam bulan tanpa perbaikan signifikan, dengan ciri utama berupa kerinduan intens, ketidakmampuan menerima kematian, dan hilangnya makna hidup.

Kajian neuroimaging yang dipaparkan dalam jurnal tersebut menunjukkan bahwa PGD berkaitan dengan hiperaktivasi jaringan reward system otak, khususnya pada nucleus accumbens dan korteks orbitofrontal.

Aktivasi ini membuat otak terus “mengharapkan” kehadiran sosok yang telah tiada, sehingga kenangan berubah menjadi dorongan biologis berulang yang menyerupai mekanisme kecanduan.

Area amigdala dan insula yang memproses nyeri emosional juga menunjukkan aktivitas persisten, berbeda dengan pola adaptif pada proses berduka normal.

Temuan ini menjelaskan bahwa pada PGD, memori tentang orang yang hilang tidak sekadar menjadi ingatan pasif, melainkan pemicu sirkuit motivasi yang terus menyala.

Dampak neurobiologis tersebut meluas ke sistem respons stres melalui peningkatan hormon kortisol yang berkepanjangan.

Kortisol kronis diketahui berdampak pada gangguan tidur, perubahan metabolisme, nyeri muskuloskeletal, hingga penurunan daya tahan tubuh akibat supresi sistem imun.

Sejumlah studi epidemiologis menunjukkan bahwa individu dengan duka berat berkepanjangan memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit kardiovaskular, inflamasi kronis, dan gangguan metabolik.

Wartawan SulawesiPos.com mengonfirmasi temuan tersebut kepada dr. Nurhadi Ibrahim, PhD, Dosen dan Peneliti Departemen Fisiologi dan Biofisika Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

dr. Nurhadi Ibrahim, Ph.D., Dosen dan Peneliti Departemen Fisiologi dan Biofisika Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
dr. Nurhadi Ibrahim, Ph.D., Dosen dan Peneliti Departemen Fisiologi dan Biofisika Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Menurut dr. Nurhadi, inti Gangguan Duka Berkepanjangan terletak pada perubahan jejaring neuron yang berkaitan dengan pengendalian rasa kehilangan mendalam.

“Stres emosional berat yang berlangsung lama meningkatkan kadar kortisol di otak sehingga memicu kerusakan neuron, terutama pada jaringan yang terlibat dalam regulasi emosi dan motivasi,” jelasnya saat dihubungi, Sabtu (21/2/2026).

Kerusakan tersebut memunculkan fenomena yang dikenal sebagai neuroplastisitas maladaptif, yakni perubahan struktur dan fungsi sirkuit saraf yang tidak lagi adaptif terhadap realitas.

Neuroplastisitas maladaptif ini, lanjutnya, merupakan dasar dari banyak gangguan neurologis dan psikiatri karena otak membentuk pola konektivitas baru yang justru mempertahankan gangguan tersebut.

“Kemajuan teknologi neuroimaging, biologi molekuler, dan genetika kini memungkinkan ilmuwan menelusuri gangguan ini dari tingkat molekul hingga tingkat perilaku individu,” tegas dia.

Meski demikian, dr. Nurhadi menilai penelitian yang ada masih memerlukan pendalaman terkait faktor genetik dan mekanisme kerusakan jejaring neuron yang spesifik pada PGD.

Pendekatan integratif yang menggabungkan kajian molekular, selular, sistemik, dan psikososial dinilai sangat penting untuk memahami dinamika kausalitas antara perubahan neural dan pengalaman kehilangan.

“Terapi tidak dapat berhenti pada pendekatan farmakologis atau psikoterapi semata karena dimensi spiritual dan religius memiliki peran signifikan dalam pemulihan makna hidup,” imbuh dr. Nurhadi.

Menurutnya, aspek religiusitas dapat membantu menstabilkan respons stres melalui regulasi kognitif dan emosional yang berdampak pada sistem saraf otonom.

Secara ilmiah, praktik spiritual seperti doa, meditasi, dan refleksi terbukti dapat menurunkan aktivitas simpatis, menstabilkan denyut jantung, serta mengurangi kadar kortisol.

Pendekatan psikoterapi berbasis bukti seperti terapi kognitif dan terapi pemrosesan emosi tetap menjadi pilar utama dalam membantu individu merekonstruksi identitas diri pascakehilangan.

Dukungan sosial dari keluarga dan komunitas terbukti berfungsi sebagai faktor protektif yang mempercepat reorganisasi sirkuit emosional menuju pola yang lebih adaptif.

Aktivitas fisik ringan, tidur cukup, dan nutrisi seimbang berperan dalam menjaga stabilitas sistem saraf dan keseimbangan hormonal.

Menulis jurnal reflektif atau bergabung dalam kelompok dukungan juga terbukti membantu ekspresi emosi secara konstruktif dan mengurangi aktivasi sirkuit stres.

Keseluruhan temuan ini menegaskan bahwa duka bukan sekadar fenomena psikologis, melainkan proses neurobiologis kompleks yang melibatkan interaksi antara hormon, sirkuit saraf, memori, identitas diri, dan relasi sosial.

Dengan pemahaman yang semakin presisi tentang mekanisme molekular dan neuroplastisitas maladaptif, ilmu pengetahuan membuka peluang terapi yang lebih personal dan berbasis bukti.

Pada akhirnya, riset mutakhir menunjukkan bahwa meskipun duka dapat mengunci otak dalam lingkaran kerinduan biologis, intervensi integratif yang tepat mampu membentuk kembali jejaring saraf menuju pemulihan, ketahanan psikologis, dan pertumbuhan batin yang lebih matang. (Ali)

SulawesiPos.com – Laporan mendalam tentang fenomena manusia yang “terjebak dalam duka” pertama kali dipublikasikan oleh Newsweek pada 18 Februari 2026 melalui artikel karya Daniella Gray berjudul “Some People Get ‘Stuck’ in Grief—Now Scientists Think They Know Why.”

Artikel tersebut mengangkat temuan ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal Trends in Neurosciences yang menelusuri mekanisme neurobiologis di balik kondisi yang kini dikenal sebagai Prolonged Grief Disorder (PGD) atau Gangguan Duka Berkepanjangan.

Dalam proses berduka yang normal, nyeri emosional secara bertahap mereda seiring adaptasi psikologis dan rekonstruksi makna hidup, namun pada sebagian individu duka justru menetap secara intens dan mengganggu fungsi sosial maupun biologis.

Kondisi ini secara resmi diakui sebagai diagnosis psikiatri pada 2018 meskipun pengalaman klinis tentang duka patologis telah lama dicatat dalam literatur psikologi dan psikiatri modern.

Richard Bryant dari University of New South Wales menyebut gangguan ini sebagai “pendatang baru dalam klasifikasi diagnosis,” meski pola klinisnya telah lama diamati dalam praktik trauma dan kehilangan.

Ilustrasi gangguan duka berkepanjangan.
Ilustrasi bagaimana Gangguan Duka Berkepanjangan (Prolonged Grief Disorder/PGD) berkaitan dengan hiperaktivitas sirkuit penghargaan di otak.

Sekitar satu dari dua puluh individu yang mengalami kehilangan menunjukkan gejala yang menetap lebih dari enam bulan tanpa perbaikan signifikan, dengan ciri utama berupa kerinduan intens, ketidakmampuan menerima kematian, dan hilangnya makna hidup.

Kajian neuroimaging yang dipaparkan dalam jurnal tersebut menunjukkan bahwa PGD berkaitan dengan hiperaktivasi jaringan reward system otak, khususnya pada nucleus accumbens dan korteks orbitofrontal.

Aktivasi ini membuat otak terus “mengharapkan” kehadiran sosok yang telah tiada, sehingga kenangan berubah menjadi dorongan biologis berulang yang menyerupai mekanisme kecanduan.

Area amigdala dan insula yang memproses nyeri emosional juga menunjukkan aktivitas persisten, berbeda dengan pola adaptif pada proses berduka normal.

Temuan ini menjelaskan bahwa pada PGD, memori tentang orang yang hilang tidak sekadar menjadi ingatan pasif, melainkan pemicu sirkuit motivasi yang terus menyala.

Dampak neurobiologis tersebut meluas ke sistem respons stres melalui peningkatan hormon kortisol yang berkepanjangan.

Kortisol kronis diketahui berdampak pada gangguan tidur, perubahan metabolisme, nyeri muskuloskeletal, hingga penurunan daya tahan tubuh akibat supresi sistem imun.

Sejumlah studi epidemiologis menunjukkan bahwa individu dengan duka berat berkepanjangan memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit kardiovaskular, inflamasi kronis, dan gangguan metabolik.

Wartawan SulawesiPos.com mengonfirmasi temuan tersebut kepada dr. Nurhadi Ibrahim, PhD, Dosen dan Peneliti Departemen Fisiologi dan Biofisika Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

dr. Nurhadi Ibrahim, Ph.D., Dosen dan Peneliti Departemen Fisiologi dan Biofisika Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
dr. Nurhadi Ibrahim, Ph.D., Dosen dan Peneliti Departemen Fisiologi dan Biofisika Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Menurut dr. Nurhadi, inti Gangguan Duka Berkepanjangan terletak pada perubahan jejaring neuron yang berkaitan dengan pengendalian rasa kehilangan mendalam.

“Stres emosional berat yang berlangsung lama meningkatkan kadar kortisol di otak sehingga memicu kerusakan neuron, terutama pada jaringan yang terlibat dalam regulasi emosi dan motivasi,” jelasnya saat dihubungi, Sabtu (21/2/2026).

Kerusakan tersebut memunculkan fenomena yang dikenal sebagai neuroplastisitas maladaptif, yakni perubahan struktur dan fungsi sirkuit saraf yang tidak lagi adaptif terhadap realitas.

Neuroplastisitas maladaptif ini, lanjutnya, merupakan dasar dari banyak gangguan neurologis dan psikiatri karena otak membentuk pola konektivitas baru yang justru mempertahankan gangguan tersebut.

“Kemajuan teknologi neuroimaging, biologi molekuler, dan genetika kini memungkinkan ilmuwan menelusuri gangguan ini dari tingkat molekul hingga tingkat perilaku individu,” tegas dia.

Meski demikian, dr. Nurhadi menilai penelitian yang ada masih memerlukan pendalaman terkait faktor genetik dan mekanisme kerusakan jejaring neuron yang spesifik pada PGD.

Pendekatan integratif yang menggabungkan kajian molekular, selular, sistemik, dan psikososial dinilai sangat penting untuk memahami dinamika kausalitas antara perubahan neural dan pengalaman kehilangan.

“Terapi tidak dapat berhenti pada pendekatan farmakologis atau psikoterapi semata karena dimensi spiritual dan religius memiliki peran signifikan dalam pemulihan makna hidup,” imbuh dr. Nurhadi.

Menurutnya, aspek religiusitas dapat membantu menstabilkan respons stres melalui regulasi kognitif dan emosional yang berdampak pada sistem saraf otonom.

Secara ilmiah, praktik spiritual seperti doa, meditasi, dan refleksi terbukti dapat menurunkan aktivitas simpatis, menstabilkan denyut jantung, serta mengurangi kadar kortisol.

Pendekatan psikoterapi berbasis bukti seperti terapi kognitif dan terapi pemrosesan emosi tetap menjadi pilar utama dalam membantu individu merekonstruksi identitas diri pascakehilangan.

Dukungan sosial dari keluarga dan komunitas terbukti berfungsi sebagai faktor protektif yang mempercepat reorganisasi sirkuit emosional menuju pola yang lebih adaptif.

Aktivitas fisik ringan, tidur cukup, dan nutrisi seimbang berperan dalam menjaga stabilitas sistem saraf dan keseimbangan hormonal.

Menulis jurnal reflektif atau bergabung dalam kelompok dukungan juga terbukti membantu ekspresi emosi secara konstruktif dan mengurangi aktivasi sirkuit stres.

Keseluruhan temuan ini menegaskan bahwa duka bukan sekadar fenomena psikologis, melainkan proses neurobiologis kompleks yang melibatkan interaksi antara hormon, sirkuit saraf, memori, identitas diri, dan relasi sosial.

Dengan pemahaman yang semakin presisi tentang mekanisme molekular dan neuroplastisitas maladaptif, ilmu pengetahuan membuka peluang terapi yang lebih personal dan berbasis bukti.

Pada akhirnya, riset mutakhir menunjukkan bahwa meskipun duka dapat mengunci otak dalam lingkaran kerinduan biologis, intervensi integratif yang tepat mampu membentuk kembali jejaring saraf menuju pemulihan, ketahanan psikologis, dan pertumbuhan batin yang lebih matang. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru