SulawesiPos.com – Menjelang Ramadhan 1447 Hijriah, pertanyaan soal kapan warga Nahdlatul Ulama (NU) mulai berpuasa kembali mencuat.
Hingga kini, belum ada pengumuman resmi dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terkait penetapan 1 Ramadhan 1447 H.
Melalui Lembaga Falakiyah PBNU, NU sebenarnya telah melakukan perhitungan posisi hilal.
Berdasarkan metode hisab jama’i atau tahqiqy tadqiky ashri kontemporer, awal Ramadhan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Perkiraan tersebut menggunakan mekanisme istikmal, yakni menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.
Meski demikian, secara organisatoris NU tidak menetapkan awal bulan Hijriah secara mandiri.
ejak keputusan Muktamar ke-20 tahun 1954, NU menggunakan mekanisme ikhbar, yaitu mengikuti dan meneruskan keputusan resmi pemerintah kepada warga nahdliyin.
Prinsip ini merujuk pada pandangan Rois Akbar PBNU, KH Hasyim Asy’ari, mengenai pentingnya keselarasan penetapan awal bulan Hijriah dengan keputusan otoritas negara.
Artinya, kepastian kapan puasa dimulai bagi warga NU tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah.
NU juga tetap menghormati proses rukyatul hilal yang dilakukan bersama berbagai pihak.
Sidang Isbat
Sementara itu, Kementerian Agama Republik Indonesia dijadwalkan menggelar sidang isbat penetapan awal Ramadhan 1447 H pada hari ini Selasa (17/2/2026), di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kemenag RI, Jakarta.
Sidang tersebut akan melibatkan unsur pemerintah, perwakilan ormas Islam, serta para ahli astronomi untuk membahas hasil hisab dan rukyat sebelum keputusan diumumkan ke publik.
Dengan demikian, meski secara perhitungan awal Ramadhan diproyeksikan jatuh pada 19 Februari 2026, warga NU tetap menunggu pengumuman resmi pemerintah sebagai pedoman bersama dalam memulai ibadah puasa.

