Tak Hanya Anaknya, Ibu Ketua BEM UGM Juga Diteror Usai Tiyo Kritik MBG

SulawesiPos.com – Teror yang menimpa Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, tidak hanya menyasar dirinya secara personal, tetapi juga merembet ke lingkungan keluarga.

Tiyo mengungkapkan bahwa ibundanya menerima pesan intimidatif melalui WhatsApp pada Sabtu malam (14/2/2026).

Pesan tersebut berisi tuduhan bahwa dirinya menggelapkan dana kampus.

Pengirim juga menyertakan foto Tiyo disertai narasi yang menuduhnya menilep dana penggalangan bagi mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar.

Ia menyebut pesan itu sempat membuat ibunya cemas sebelum akhirnya berhasil ia tenangkan.

Teror diduga bermula setelah Tiyo melontarkan kritik terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kritik tersebut muncul sebagai respons atas tragedi seorang anak di Nusa Tenggara Timur yang meninggal dunia akibat bunuh diri, diduga karena kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah.

Pada Jumat (13/2/2026), Tiyo tetap hadir dan berorasi dalam aksi Komunitas Suara Ibu Indonesia di Bundaran UGM bersama akademisi dan aktivis.

BACA JUGA: 
Bertemu Tenaga Ahli Wakil Kepala I BGN RI, Bupati Bone Dorong Percepatan MBG hingga Wilayah Pedalaman

Dalam aksi itu, ia mengenakan kaus bertuliskan “Maling Berkedok Gizi” sebagai simbol kritik terhadap program MBG.

Teror ke Tiyo

Sehari setelah aksi, Tiyo mendapat informasi adanya ancaman serius.

Seorang mahasiswa menyampaikan bahwa ada pihak yang mengincarnya dan mengancam akan membunuhnya.

Ia juga menerima pesan ancaman penculikan dari nomor asing berkode Inggris, beberapa hari setelah BEM UGM melayangkan kritik pada 6 Februari 2026.

Dalam pesan tersebut, ia bahkan dituduh sebagai agen asing pencari sensasi.

Selain ancaman digital, Tiyo mengaku sempat diikuti dua orang tak dikenal di sebuah kedai. Keduanya disebut memotret dirinya sebelum meninggalkan lokasi.

Menurut Tiyo, pihak rektorat Universitas Gadjah Mada telah menjalin komunikasi dan menawarkan pendampingan melalui Direktorat Kemahasiswaan.

Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UGM, Herlambang P. Wiratraman, mengecam keras aksi teror tersebut.

Ia menegaskan kritik mahasiswa merupakan ekspresi sah dalam negara demokrasi yang dilindungi konstitusi. Karena itu, ia mendesak negara bertindak aktif mengungkap serta menghentikan praktik intimidasi terhadap mahasiswa dan aktivis.

BACA JUGA: 
Pigai: Penolakan Makan Bergizi Gratis Sama dengan Menentang HAM

Surat ke UNICEF

Sebelumnya, kritik BEM UGM juga disampaikan melalui surat terbuka kepada UNICEF pada 6 Februari 2026.

Surat itu merespons tragedi siswa sekolah dasar di NTT yang diduga bunuh diri akibat tidak mampu membeli perlengkapan sekolah. Tiyo menilai peristiwa tersebut mencerminkan kegagalan negara dalam menjamin hak dasar anak, khususnya akses pendidikan.

Di tengah berbagai tekanan, ia menyampaikan apresiasi atas dukungan publik dan menegaskan tidak gentar menghadapi intimidasi.

“Penguasa yang zalim tidak akan pernah hidup tenang selama masih ada orang-orang waras di republik ini,” ujarnya.

SulawesiPos.com – Teror yang menimpa Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, tidak hanya menyasar dirinya secara personal, tetapi juga merembet ke lingkungan keluarga.

Tiyo mengungkapkan bahwa ibundanya menerima pesan intimidatif melalui WhatsApp pada Sabtu malam (14/2/2026).

Pesan tersebut berisi tuduhan bahwa dirinya menggelapkan dana kampus.

Pengirim juga menyertakan foto Tiyo disertai narasi yang menuduhnya menilep dana penggalangan bagi mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar.

Ia menyebut pesan itu sempat membuat ibunya cemas sebelum akhirnya berhasil ia tenangkan.

Teror diduga bermula setelah Tiyo melontarkan kritik terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kritik tersebut muncul sebagai respons atas tragedi seorang anak di Nusa Tenggara Timur yang meninggal dunia akibat bunuh diri, diduga karena kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah.

Pada Jumat (13/2/2026), Tiyo tetap hadir dan berorasi dalam aksi Komunitas Suara Ibu Indonesia di Bundaran UGM bersama akademisi dan aktivis.

BACA JUGA: 
Pigai: Penolakan Makan Bergizi Gratis Sama dengan Menentang HAM

Dalam aksi itu, ia mengenakan kaus bertuliskan “Maling Berkedok Gizi” sebagai simbol kritik terhadap program MBG.

Teror ke Tiyo

Sehari setelah aksi, Tiyo mendapat informasi adanya ancaman serius.

Seorang mahasiswa menyampaikan bahwa ada pihak yang mengincarnya dan mengancam akan membunuhnya.

Ia juga menerima pesan ancaman penculikan dari nomor asing berkode Inggris, beberapa hari setelah BEM UGM melayangkan kritik pada 6 Februari 2026.

Dalam pesan tersebut, ia bahkan dituduh sebagai agen asing pencari sensasi.

Selain ancaman digital, Tiyo mengaku sempat diikuti dua orang tak dikenal di sebuah kedai. Keduanya disebut memotret dirinya sebelum meninggalkan lokasi.

Menurut Tiyo, pihak rektorat Universitas Gadjah Mada telah menjalin komunikasi dan menawarkan pendampingan melalui Direktorat Kemahasiswaan.

Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UGM, Herlambang P. Wiratraman, mengecam keras aksi teror tersebut.

Ia menegaskan kritik mahasiswa merupakan ekspresi sah dalam negara demokrasi yang dilindungi konstitusi. Karena itu, ia mendesak negara bertindak aktif mengungkap serta menghentikan praktik intimidasi terhadap mahasiswa dan aktivis.

BACA JUGA: 
Usai Viral Menu Lele Mentah, Operasional Program MBG di Pamekasan Dihentikan Sementara

Surat ke UNICEF

Sebelumnya, kritik BEM UGM juga disampaikan melalui surat terbuka kepada UNICEF pada 6 Februari 2026.

Surat itu merespons tragedi siswa sekolah dasar di NTT yang diduga bunuh diri akibat tidak mampu membeli perlengkapan sekolah. Tiyo menilai peristiwa tersebut mencerminkan kegagalan negara dalam menjamin hak dasar anak, khususnya akses pendidikan.

Di tengah berbagai tekanan, ia menyampaikan apresiasi atas dukungan publik dan menegaskan tidak gentar menghadapi intimidasi.

“Penguasa yang zalim tidak akan pernah hidup tenang selama masih ada orang-orang waras di republik ini,” ujarnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru