26 C
Makassar
4 February 2026, 14:58 PM WITA

Dolar AS Terendah dalam 4 Tahun: Ancaman bagi Washington, Peluang Strategis bagi Indonesia

Bagi dunia, fluktuasi dolar menentukan harga minyak, gandum, logam industri, serta beban utang negara berkembang, sehingga setiap pelemahan tajam berimbas langsung pada stabilitas sosial dan kesejahteraan miliaran manusia.

Analisis Akademisi Unhas: Peluang di Balik Krisis

Dalam wawancara dengan wartawan SulawesiPos.com pada Selasa (3/2/2026), Dr. A. Nur Bau Massepe, SE., MM., CRBC., dosen pada Program Studi Bisnis Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, menilai bahwa pelemahan ekonomi Amerika bukan semata ancaman, melainkan jendela strategis bagi negara berkembang untuk menata ulang orientasi perdagangan.

Dosen FEB Unhas, Nur Bau Massepe
Dosen FEB Unhas, Nur Bau Massepe

Ia menegaskan bahwa Indonesia seharusnya memperluas kerja sama dengan negara-negara nonblok dan relatif netral secara geopolitik seperti India, Arab Saudi, Afrika Selatan, dan Nigeria, karena negara-negara tersebut memiliki pertumbuhan kelas menengah tinggi serta kebutuhan impor manufaktur yang besar.

Menurutnya, langkah beberapa investor Eropa seperti Belanda dan Denmark yang mulai mengurangi eksposur di pasar obligasi dan saham Amerika justru membuka peluang bagi Indonesia untuk menawarkan stabilitas makroekonomi, bonus demografi, serta pasar domestik yang besar sebagai magnet investasi alternatif.

Baca Juga: 
Rupiah Sentuh Titik Terlemah, HSBC Prediksi Tembus Rp17.000 per Dolar AS pada Akhir 2026

Ia menjelaskan bahwa fluktuasi nilai tukar dolar dapat dimanfaatkan industri nasional untuk mempercepat substitusi impor, terutama pada sektor kimia organik, komponen pesawat, mesin industri, dan barang antara yang selama ini didominasi produk Amerika.

Strategi tersebut, katanya, akan mendorong industrialisasi berbasis komponen lokal, memperkuat rantai pasok domestik, menekan defisit neraca perdagangan, serta menciptakan lapangan kerja manufaktur bernilai tambah tinggi.

Dr. Massepe menambahkan bahwa momentum de-dolarisasi global dan diversifikasi investasi harus disambut dengan kebijakan fiskal yang pro-industri, insentif riset teknologi, serta diplomasi ekonomi yang agresif agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi produsen.

Ia juga mengingatkan bahwa krisis mata uang global selalu melahirkan peta kekuatan baru, sehingga negara yang cepat beradaptasi akan menjadi pusat pertumbuhan berikutnya, sedangkan yang lambat akan tertinggal sebagai konsumen.

Pada akhirnya, ia menyimpulkan bahwa pelemahan dolar adalah alarm sekaligus peluang, karena di tengah retaknya dominasi keuangan Amerika tersimpan kesempatan historis bagi Indonesia dan Global South untuk membangun kemandirian industri, memperkuat ketahanan ekonomi, dan merancang masa depan yang lebih berdaulat. (ali)

Baca Juga: 
Weird Genius Batal Manggung Usai Duka Lula Lahfah, Reza Arap Tak Kondusif Tampil

Bagi dunia, fluktuasi dolar menentukan harga minyak, gandum, logam industri, serta beban utang negara berkembang, sehingga setiap pelemahan tajam berimbas langsung pada stabilitas sosial dan kesejahteraan miliaran manusia.

Analisis Akademisi Unhas: Peluang di Balik Krisis

Dalam wawancara dengan wartawan SulawesiPos.com pada Selasa (3/2/2026), Dr. A. Nur Bau Massepe, SE., MM., CRBC., dosen pada Program Studi Bisnis Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, menilai bahwa pelemahan ekonomi Amerika bukan semata ancaman, melainkan jendela strategis bagi negara berkembang untuk menata ulang orientasi perdagangan.

Dosen FEB Unhas, Nur Bau Massepe
Dosen FEB Unhas, Nur Bau Massepe

Ia menegaskan bahwa Indonesia seharusnya memperluas kerja sama dengan negara-negara nonblok dan relatif netral secara geopolitik seperti India, Arab Saudi, Afrika Selatan, dan Nigeria, karena negara-negara tersebut memiliki pertumbuhan kelas menengah tinggi serta kebutuhan impor manufaktur yang besar.

Menurutnya, langkah beberapa investor Eropa seperti Belanda dan Denmark yang mulai mengurangi eksposur di pasar obligasi dan saham Amerika justru membuka peluang bagi Indonesia untuk menawarkan stabilitas makroekonomi, bonus demografi, serta pasar domestik yang besar sebagai magnet investasi alternatif.

Baca Juga: 
Laras Faizati Divonis 6 Bulan Penjara, Tapi Tidak Perlu Dijalani

Ia menjelaskan bahwa fluktuasi nilai tukar dolar dapat dimanfaatkan industri nasional untuk mempercepat substitusi impor, terutama pada sektor kimia organik, komponen pesawat, mesin industri, dan barang antara yang selama ini didominasi produk Amerika.

Strategi tersebut, katanya, akan mendorong industrialisasi berbasis komponen lokal, memperkuat rantai pasok domestik, menekan defisit neraca perdagangan, serta menciptakan lapangan kerja manufaktur bernilai tambah tinggi.

Dr. Massepe menambahkan bahwa momentum de-dolarisasi global dan diversifikasi investasi harus disambut dengan kebijakan fiskal yang pro-industri, insentif riset teknologi, serta diplomasi ekonomi yang agresif agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi produsen.

Ia juga mengingatkan bahwa krisis mata uang global selalu melahirkan peta kekuatan baru, sehingga negara yang cepat beradaptasi akan menjadi pusat pertumbuhan berikutnya, sedangkan yang lambat akan tertinggal sebagai konsumen.

Pada akhirnya, ia menyimpulkan bahwa pelemahan dolar adalah alarm sekaligus peluang, karena di tengah retaknya dominasi keuangan Amerika tersimpan kesempatan historis bagi Indonesia dan Global South untuk membangun kemandirian industri, memperkuat ketahanan ekonomi, dan merancang masa depan yang lebih berdaulat. (ali)

Baca Juga: 
Denada Disebut Akui Ressa sebagai Anak, Kuasa Hukum Tegaskan Sudah Dibiayai dan Difasilitasi

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/