26 C
Makassar
4 February 2026, 13:37 PM WITA

Dolar AS Terendah dalam 4 Tahun: Ancaman bagi Washington, Peluang Strategis bagi Indonesia

Overview

  • Nilai tukar dolar AS anjlok ke level terendah dalam empat tahun akibat tekanan kebijakan tarif, ketidakpastian politik, dan pergeseran kepercayaan investor global.

  • Pelemahan dolar memicu kenaikan harga impor di Amerika dan mendorong investor dunia mengalihkan dana ke emas serta pasar negara berkembang.

  • Akademisi Unhas menilai kondisi ini membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat industrialisasi, menarik investasi, dan mengurangi ketergantungan pada dolar.

SulawesiPos.com – Nilai tukar dolar Amerika Serikat merosot ke titik terendah dalam empat tahun terakhir setelah kebijakan tarif agresif, ketidakpastian politik, dan ketegangan geopolitik mengguncang kepercayaan pasar global, sebagaimana dilaporkan BBC News melalui jurnalis bisnis Natalie Sherman pada 30 Januari 2026.

Sepanjang 2025 pasar berharap stabilitas kembali, namun kenyataan berbalik ketika tekanan jual meningkat tajam sehingga dolar kehilangan sekitar 3 persen hanya dalam sepekan dan mencatat posisi terlemah terhadap sekeranjang mata uang utama seperti euro dan pound sterling.

Depresiasi ini menjadi sinyal psikologis bahwa keunggulan dolar sebagai “safe haven” mulai dipertanyakan investor, terutama setelah kebijakan tarif baru yang dijuluki pasar sebagai “Liberation Day Tariffs” memicu risiko perang dagang lanjutan.

Baca Juga: 
Wakil Ketua OJK Mirza Adityaswara Ikut Mengundurkan Diri

Melemahnya dolar langsung terasa di dalam negeri Amerika karena harga impor energi, pangan olahan, dan komponen teknologi naik, yang pada gilirannya berpotensi memicu inflasi baru dan menekan daya beli rumah tangga.

Di tingkat global, pelemahan tersebut menimbulkan diskusi serius mengenai status dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia, sebab dominasi ini selama puluhan tahun memberi Amerika keuntungan berupa biaya utang rendah dan arus modal internasional yang stabil.

Data indeks dolar sepanjang 2025 menunjukkan penurunan hampir 10 persen, menjadi performa terburuk sejak 2017, sementara harga emas melonjak signifikan sebagai lindung nilai, bahkan di beberapa pasar mencatat kenaikan mendekati dua kali lipat dalam setahun.

Investor institusional Eropa mulai mendiversifikasi portofolio dengan mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah AS, termasuk dana pensiun di Amsterdam dan Denmark, yang memindahkan dana ke pasar Asia dan negara berkembang.

Arus dana tersebut mendorong apresiasi lebih dari separuh mata uang emerging markets menurut pemantauan Oxford Economics, menandakan terjadinya redistribusi pusat gravitasi keuangan dunia dari Barat menuju kawasan Global South.

Baca Juga: 
KPK Periksa Gus Alex sebagai Saksi Meski Berstatus Tersangka Kasus Kuota Haji

Namun pasar saham Amerika yang masih relatif kuat menunjukkan bahwa fenomena “sell America” belum sepenuhnya terjadi, meskipun lembaga riset ING memprediksi dolar masih berpotensi turun tambahan 4–5 persen tahun ini jika suku bunga The Fed dilonggarkan.

Presiden Donald Trump sendiri mendorong penurunan suku bunga lebih cepat dengan alasan ekspor akan lebih kompetitif, tetapi sejumlah ekonom memperingatkan bahwa depresiasi akibat hilangnya kepercayaan pasar justru berbahaya secara struktural.

Overview

  • Nilai tukar dolar AS anjlok ke level terendah dalam empat tahun akibat tekanan kebijakan tarif, ketidakpastian politik, dan pergeseran kepercayaan investor global.

  • Pelemahan dolar memicu kenaikan harga impor di Amerika dan mendorong investor dunia mengalihkan dana ke emas serta pasar negara berkembang.

  • Akademisi Unhas menilai kondisi ini membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat industrialisasi, menarik investasi, dan mengurangi ketergantungan pada dolar.

SulawesiPos.com – Nilai tukar dolar Amerika Serikat merosot ke titik terendah dalam empat tahun terakhir setelah kebijakan tarif agresif, ketidakpastian politik, dan ketegangan geopolitik mengguncang kepercayaan pasar global, sebagaimana dilaporkan BBC News melalui jurnalis bisnis Natalie Sherman pada 30 Januari 2026.

Sepanjang 2025 pasar berharap stabilitas kembali, namun kenyataan berbalik ketika tekanan jual meningkat tajam sehingga dolar kehilangan sekitar 3 persen hanya dalam sepekan dan mencatat posisi terlemah terhadap sekeranjang mata uang utama seperti euro dan pound sterling.

Depresiasi ini menjadi sinyal psikologis bahwa keunggulan dolar sebagai “safe haven” mulai dipertanyakan investor, terutama setelah kebijakan tarif baru yang dijuluki pasar sebagai “Liberation Day Tariffs” memicu risiko perang dagang lanjutan.

Baca Juga: 
Eggi Sudjana Langsung Terbang ke Luar Negeri Usai Kasusnya Dihentikan

Melemahnya dolar langsung terasa di dalam negeri Amerika karena harga impor energi, pangan olahan, dan komponen teknologi naik, yang pada gilirannya berpotensi memicu inflasi baru dan menekan daya beli rumah tangga.

Di tingkat global, pelemahan tersebut menimbulkan diskusi serius mengenai status dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia, sebab dominasi ini selama puluhan tahun memberi Amerika keuntungan berupa biaya utang rendah dan arus modal internasional yang stabil.

Data indeks dolar sepanjang 2025 menunjukkan penurunan hampir 10 persen, menjadi performa terburuk sejak 2017, sementara harga emas melonjak signifikan sebagai lindung nilai, bahkan di beberapa pasar mencatat kenaikan mendekati dua kali lipat dalam setahun.

Investor institusional Eropa mulai mendiversifikasi portofolio dengan mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah AS, termasuk dana pensiun di Amsterdam dan Denmark, yang memindahkan dana ke pasar Asia dan negara berkembang.

Arus dana tersebut mendorong apresiasi lebih dari separuh mata uang emerging markets menurut pemantauan Oxford Economics, menandakan terjadinya redistribusi pusat gravitasi keuangan dunia dari Barat menuju kawasan Global South.

Baca Juga: 
Ressa Rizky Rossano Ternyata Pernah ke Rumah Denada, Disuruh Tunggu 3,5 Jam di Depan Pintu dan Tak Bertemu

Namun pasar saham Amerika yang masih relatif kuat menunjukkan bahwa fenomena “sell America” belum sepenuhnya terjadi, meskipun lembaga riset ING memprediksi dolar masih berpotensi turun tambahan 4–5 persen tahun ini jika suku bunga The Fed dilonggarkan.

Presiden Donald Trump sendiri mendorong penurunan suku bunga lebih cepat dengan alasan ekspor akan lebih kompetitif, tetapi sejumlah ekonom memperingatkan bahwa depresiasi akibat hilangnya kepercayaan pasar justru berbahaya secara struktural.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/