24 C
Makassar
3 February 2026, 3:22 AM WITA

Jokowi Terbuka Dukung PSI, Bos PPI: Kapitalisasi Jokowi Jadi Pertaruhan Politik

Overview

  • Presiden Jokowi secara terbuka mendukung PSI, tetapi Direktur Eksekutif PPI, Adi Prayitno, menilai langkah ini memiliki risiko sekaligus peluang politik.
  • Menurut Adi, keberhasilan PSI meraih suara, khususnya di desa, akan menjadi tolok ukur apakah Jokowi masih dianggap sakti setelah tidak lagi menjabat presiden.
  • Upaya PSI sebelumnya di Pemilu 2024 untuk mengkapitalisasi Jokowi dinilai masih terbatas, sehingga partai gagal lolos ke parlemen.

SulawesiPos.com – Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) secara terbuka berada di sisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), dan hal ini disebut Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno sebagai bentuk kapitalisasi Jokowi.

Adi menilai langkah Jokowi memiliki sisi positif sekaligus risiko.

PSI perlu mengurangi resistensi terhadap Jokowi sekaligus menonjolkan aspek positif dari figur mantan presiden itu.

Secara strategis, keberhasilan PSI menggaet suara pemilih akan sangat bergantung pada pendekatan langsung ke masyarakat di tingkat bawah, bukan hanya melalui wacana di permukaan.

“Selama ini PSI itu identik dengan pemilih kota. PR terbesarnya itu, bagaimana PSI penetrasi ke pemilih di desa yang jumlahnya sangat mayoritas,” ujar Adi kepada wartawan, Minggu (1/2/2026).

Baca Juga: 
Helikopter Caracal Sisir Lokasi Pesawat ATR Jatuh di Leang-Leang dan Gunung Bulusaraung

Adi menambahkan, pada Pemilu 2024 PSI sebenarnya sudah mulai mengkapitalisasi Jokowi, misalnya melalui atribut kampanye yang menampilkan foto Jokowi dengan tagline ‘PSI Partai Jokowi’.

Namun, menurutnya, upaya PSI kala itu masih terbatas dan terkesan malu-malu, sehingga partai gagal lolos ke parlemen.

“Yang jelas, ini pertaruhan politik Jokowi. Kalau PSI lolos parlemen, Jokowi bakal disanjung puji dan pasti disebut masih sakti. Sebaliknya, jika PSI tak lolos parlemen, maka Jokowi bakal banyak dikritik karena sudah tak sakti lagi,” pungkas Adi.

Overview

  • Presiden Jokowi secara terbuka mendukung PSI, tetapi Direktur Eksekutif PPI, Adi Prayitno, menilai langkah ini memiliki risiko sekaligus peluang politik.
  • Menurut Adi, keberhasilan PSI meraih suara, khususnya di desa, akan menjadi tolok ukur apakah Jokowi masih dianggap sakti setelah tidak lagi menjabat presiden.
  • Upaya PSI sebelumnya di Pemilu 2024 untuk mengkapitalisasi Jokowi dinilai masih terbatas, sehingga partai gagal lolos ke parlemen.

SulawesiPos.com – Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) secara terbuka berada di sisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), dan hal ini disebut Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno sebagai bentuk kapitalisasi Jokowi.

Adi menilai langkah Jokowi memiliki sisi positif sekaligus risiko.

PSI perlu mengurangi resistensi terhadap Jokowi sekaligus menonjolkan aspek positif dari figur mantan presiden itu.

Secara strategis, keberhasilan PSI menggaet suara pemilih akan sangat bergantung pada pendekatan langsung ke masyarakat di tingkat bawah, bukan hanya melalui wacana di permukaan.

“Selama ini PSI itu identik dengan pemilih kota. PR terbesarnya itu, bagaimana PSI penetrasi ke pemilih di desa yang jumlahnya sangat mayoritas,” ujar Adi kepada wartawan, Minggu (1/2/2026).

Baca Juga: 
Cucu Pendiri Napan Group, Rylan Henry Pribadi Wafat di Usia 17 Tahun Akibat Kecelakaan Ski di Jepang

Adi menambahkan, pada Pemilu 2024 PSI sebenarnya sudah mulai mengkapitalisasi Jokowi, misalnya melalui atribut kampanye yang menampilkan foto Jokowi dengan tagline ‘PSI Partai Jokowi’.

Namun, menurutnya, upaya PSI kala itu masih terbatas dan terkesan malu-malu, sehingga partai gagal lolos ke parlemen.

“Yang jelas, ini pertaruhan politik Jokowi. Kalau PSI lolos parlemen, Jokowi bakal disanjung puji dan pasti disebut masih sakti. Sebaliknya, jika PSI tak lolos parlemen, maka Jokowi bakal banyak dikritik karena sudah tak sakti lagi,” pungkas Adi.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/