Menurut Prof Indrabayu, belanja besar ini memang mempercepat kemajuan teknologi, tetapi juga bisa menimbulkan risiko kapasitas berlebihan dan harga saham yang naik terlalu cepat sebelum keuntungan bisnisnya benar-benar stabil.
Ia mengingatkan bahwa masyarakat perlu membedakan antara AI sebagai infrastruktur masa depan yang hampir pasti dipakai luas, dengan saham AI yang tetap bisa naik dan turun karena sentimen pasar.
Valuasi Ekstrem dan Pertumbuhan Nyata
Beberapa perusahaan yang dikaitkan dengan AI diperdagangkan pada valuasi sangat tinggi, yang sering dijadikan contoh risiko ekspektasi berlebihan.
Perusahaan analitik data Palantir Technologies disebut memiliki rasio harga terhadap laba sangat tinggi, sementara saham Broadcom dan AMD juga melonjak tajam karena harapan mengejar dominasi Nvidia.
Di sisi lain, ada perusahaan yang pertumbuhannya lebih nyata karena benar-benar didorong permintaan komputasi dan chip AI, sehingga tidak semua perusahaan berlabel AI berada dalam kondisi yang sama.
Menurut Prof Indrabayu, masyarakat perlu memahami perbedaan ini agar tidak menganggap semua investasi AI pasti berisiko atau pasti untung, karena sebagian didukung pendapatan nyata sementara sebagian lain masih ditopang cerita pertumbuhan.
Dampak Terhadap Pekerjaan
Bill Gates juga menyoroti bahwa perubahan dunia kerja akibat AI bisa terjadi lebih cepat daripada kesiapan pemerintah, sementara di Davos muncul perdebatan antara optimisme penciptaan pekerjaan baru dan kekhawatiran pemangkasan tenaga kerja.
Bagi Prof Indrabayu, AI bukan sepenuhnya menggantikan manusia, melainkan menggeser standar keterampilan sehingga pekerja yang lambat beradaptasi berisiko tertinggal.

