Overview
- Pemekaran Luwu Raya disebut berakar dari janji lisan Presiden Soekarno kepada Datu Luwu Andi Djemma.
- Narasi sejarah ini diwariskan lintas generasi dan menjadi dasar moral perjuangan pemekaran.
- Realisasi pemekaran tertunda akibat dinamika politik dan wafatnya Andi Djemma sebelum janji terwujud.
SulawesiPos.com – Wacana pemekaran Luwu Raya kembali mengemuka dengan narasi sejarah yang menempatkan janji Presiden pertama RI, Soekarno, kepada Datu Luwu Andi Djemma sebagai akar utama aspirasi pembentukan daerah otonomi baru tersebut.
Pandangan itu disampaikan pemerhati Luwu Raya sekaligus putra daerah Luwu, Drs. Hidayat Hafied, dalam Forum Diskusi Terbatas dengan tajuk “Pemekaran Luwu Raya, Akankah?” di kantor SulawesiPos.com, Makassar.
Hafied menegaskan bahwa kehendak pemekaran Luwu Raya tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah panjang Luwu dalam konteks perjuangan bangsa Indonesia.

Ia menyebut adanya pengakuan lisan dari Presiden Soekarno yang dipahami sebagai bentuk penghormatan terhadap kontribusi historis Luwu.
“Momentum itu, momentum tersebut Soekarno mengeluarkan ucapan secara lisan kepada Andi Djemma bahwa Luwu dengan latarbelakang kesejarahan yang sangat ikhas kepada Republik akan diberikan hak istimewa, diterjemahkan sebagai daerah istimewa, diterjemahkan sebagai provinsi,” beber Hafied, Rabu (28/1/2026).
Menurutnya, pernyataan tersebut kemudian diwariskan secara turun-temurun dan menjadi spirit perjuangan masyarakat Luwu hingga hari ini.
“Itulah warisan kesejarahan dari generasi ke generasi, tidak putus,” tambah Hafied.

