24 C
Makassar
3 February 2026, 5:02 AM WITA

Ahok Klaim Laba Pertamina Tertinggi Sepanjang Sejarah Tercapai Lewat MyPertamina

Overview:

  • Ahok menyebut Pertamina mencatat laba terbesar sepanjang sejarah saat dirinya menjabat Komisaris Utama.
  • Puncak keuntungan terjadi pada 2023, mencapai USD 4,7 miliar, ditopang pengawasan ketat dan digitalisasi MyPertamina.
  • Ahok menyesalkan gagalnya reformasi subsidi energi berbasis voucher digital yang dinilainya berpotensi menghemat anggaran negara.

SulawesiPos.com – Mantan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, mengungkapkan bahwa kinerja keuangan Pertamina mencatatkan keuntungan terbesar sepanjang sejarah perusahaan saat dirinya menjabat pada periode 2019–2024.

Capaian tersebut, menurut Ahok, tidak lepas dari terobosan digital melalui aplikasi MyPertamina.

Ahok menyampaikan bahwa laba Pertamina terus meningkat dari tahun ke tahun dan mencapai puncaknya pada 2023 dengan nilai USD 4,7 miliar.

“Di masa kami, Pertamina mencapai keuntungan terbesar sepanjang sejarahnya. Setiap tahun naik, puncaknya pada 2023 sebesar USD 4,7 miliar. Itu bisa kami laporkan sebagai keuntungan setahun,” kata Ahok saat bersaksi dalam sidang dugaan korupsi tata kelola minyak mentah di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Baca Juga: 
Interpol Terbitkan Red Notice Riza Chalid, Polri Klaim Sudah Kantongi Lokasi Buronan

Dalam kesaksiannya, Ahok menegaskan bahwa Dewan Komisaris menjalankan fungsi pengawasan secara ketat.

Pengawasan tersebut dilakukan melalui komite audit serta sistem pemantauan berbasis digital yang dinilainya efektif menutup celah penyimpangan.

Menurut Ahok, penerapan sistem digital, termasuk MyPertamina, menjadi salah satu faktor utama yang mendorong capaian kinerja keuangan terbaik Pertamina sejak perusahaan itu berdiri.

Ia juga menyebut istilah ‘anak muda’ yang dilekatkan kepada sejumlah terdakwa dalam perkara ini, yakni Riva Siahaan, Maya Kusmaya, dan Edward Corne.

Menurut Ahok, mereka merupakan figur-figur yang memiliki kapasitas membangun ekosistem digital di tubuh Pertamina.

Namun demikian, Ahok mengaku kecewa lantaran gagasannya untuk mereformasi skema subsidi energi tidak mendapat restu pemerintah.

Overview:

  • Ahok menyebut Pertamina mencatat laba terbesar sepanjang sejarah saat dirinya menjabat Komisaris Utama.
  • Puncak keuntungan terjadi pada 2023, mencapai USD 4,7 miliar, ditopang pengawasan ketat dan digitalisasi MyPertamina.
  • Ahok menyesalkan gagalnya reformasi subsidi energi berbasis voucher digital yang dinilainya berpotensi menghemat anggaran negara.

SulawesiPos.com – Mantan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, mengungkapkan bahwa kinerja keuangan Pertamina mencatatkan keuntungan terbesar sepanjang sejarah perusahaan saat dirinya menjabat pada periode 2019–2024.

Capaian tersebut, menurut Ahok, tidak lepas dari terobosan digital melalui aplikasi MyPertamina.

Ahok menyampaikan bahwa laba Pertamina terus meningkat dari tahun ke tahun dan mencapai puncaknya pada 2023 dengan nilai USD 4,7 miliar.

“Di masa kami, Pertamina mencapai keuntungan terbesar sepanjang sejarahnya. Setiap tahun naik, puncaknya pada 2023 sebesar USD 4,7 miliar. Itu bisa kami laporkan sebagai keuntungan setahun,” kata Ahok saat bersaksi dalam sidang dugaan korupsi tata kelola minyak mentah di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Baca Juga: 
Kementan Buka Dokumen Klarifikasi RS Usai Indah Megahwati Sebarkan Narasi Menyesatkan ke Publik

Dalam kesaksiannya, Ahok menegaskan bahwa Dewan Komisaris menjalankan fungsi pengawasan secara ketat.

Pengawasan tersebut dilakukan melalui komite audit serta sistem pemantauan berbasis digital yang dinilainya efektif menutup celah penyimpangan.

Menurut Ahok, penerapan sistem digital, termasuk MyPertamina, menjadi salah satu faktor utama yang mendorong capaian kinerja keuangan terbaik Pertamina sejak perusahaan itu berdiri.

Ia juga menyebut istilah ‘anak muda’ yang dilekatkan kepada sejumlah terdakwa dalam perkara ini, yakni Riva Siahaan, Maya Kusmaya, dan Edward Corne.

Menurut Ahok, mereka merupakan figur-figur yang memiliki kapasitas membangun ekosistem digital di tubuh Pertamina.

Namun demikian, Ahok mengaku kecewa lantaran gagasannya untuk mereformasi skema subsidi energi tidak mendapat restu pemerintah.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/