Para pakar infrastruktur internet menilai Iran telah menerapkan sistem whitelisting, di mana hanya situs dan akun tertentu yang diizinkan hidup, memungkinkan negara beroperasi dalam kondisi “terdegradasi” untuk waktu yang lama tanpa harus memulihkan internet publik sepenuhnya (The Guardian, 10 Januari 2026).
Dalam konteks ini, keberhasilan Iran mematikan Starlink menjadi simbol pergeseran besar dalam peta kekuasaan digital global, karena selama ini jaringan satelit dianggap kebal terhadap sensor negara dan mustahil dikendalikan dari darat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan mengakui persoalan tersebut dengan menyatakan akan berbicara langsung dengan Elon Musk terkait upaya pemulihan internet di Iran, seraya memuji kemampuan teknis SpaceX (Sky News, 12 Januari 2026).
Namun bagi para analis, pesan utama dari Teheran sudah jelas: bahkan teknologi luar angkasa sekalipun kini dapat ditaklukkan oleh negara yang menguasai spektrum frekuensi dan peperangan elektronik.
Iran, dengan langkah ini, bukan hanya memadamkan internet, melainkan menegaskan bahwa di era baru geopolitik, kedaulatan tidak lagi berhenti di daratan dan laut, melainkan menjangkau langit dan sinyal tak kasat mata di atas kepala manusia. (ali)

