Categories: News

“Locked and Loaded”: Ketika Bahasa Militer Trump Membuka Ancaman Intervensi atas Iran

SulawesiPos.com – Sebuah frasa bernuansa militer yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memantik ketegangan antara Washington dan Teheran, ketika ia menyatakan Amerika Serikat berada dalam kondisi we are locked and loaded dalam menanggapi situasi protes di Iran.

Pernyataan itu disampaikan Trump melalui unggahan di Truth Social pada Jumat dini hari waktu Washington, dengan ancaman bahwa Amerika Serikat akan “turun tangan” jika Republik Islam Iran, menurut versinya, melakukan kekerasan terhadap para demonstran.

Dalam bahasa Persia, ungkapan locked and loaded diterjemahkan sebagai āmade-bāsh-e kāmel atau “siaga penuh”, namun secara substantif frasa tersebut memiliki makna yang jauh lebih spesifik dan berbahaya, karena berasal dari terminologi klasik militer yang berarti senjata telah dikunci, terisi peluru, dan siap ditembakkan.

Istilah ini bukan metafora retoris biasa, melainkan perintah kesiapan tempur yang telah dikenal dalam doktrin militer Amerika Serikat sejak abad ke-18 dan secara resmi masuk dalam buku pedoman senjata pada 1940, bersamaan dengan Perang Dunia II.

Karena itu, penggunaan frasa tersebut oleh seorang presiden aktif tidak dapat dilepaskan dari pesan ancaman operasional, terlebih ketika diarahkan pada negara berdaulat yang tengah menghadapi dinamika sosial internal.

Pemerintah Iran menilai pernyataan Trump sebagai bentuk intervensi terbuka dalam urusan domestik negara lain, yang berpotensi mengguncang stabilitas kawasan secara luas.

Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan bahwa campur tangan Amerika Serikat dalam persoalan internal Iran akan membawa konsekuensi serius bagi kepentingan Washington sendiri.

“Trump seharusnya menyadari bahwa intervensi Amerika dalam masalah internal ini akan berarti destabilisasi seluruh kawasan dan penghancuran kepentingan Amerika,” ujar Larijani dalam pernyataannya di platform X.

Ia juga mengingatkan bahwa Amerika Serikat memiliki kehadiran militer yang luas di Irak dan kawasan Teluk Persia, sehingga setiap eskalasi akan menempatkan pasukan Amerika dalam posisi rawan.

Lebih jauh, Larijani membedakan secara tegas antara para pedagang dan warga yang menyampaikan protes ekonomi secara sah dengan aktor-aktor perusuh yang berupaya mengeksploitasi situasi demi menciptakan kekacauan.

Pernyataan ini menegaskan posisi resmi Iran bahwa negara tidak menolak aspirasi ekonomi rakyat, namun menolak keras politisasi dan internasionalisasi protes oleh kekuatan asing.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa protes yang terjadi dipicu oleh melemahnya nilai tukar rial dan melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok, sebuah krisis yang secara luas diakui sebagai dampak langsung dari sanksi ekonomi internasional yang menjerat Iran selama bertahun-tahun.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahkan telah mengambil langkah-langkah konkret untuk meredakan ketegangan dengan menjanjikan revisi rencana kenaikan pajak serta mengakui bahwa sebagian tuntutan perubahan yang disuarakan masyarakat bersifat sah.

Namun demikian, upaya pemerintah Iran untuk mengelola situasi secara internal justru dibalas oleh Trump dengan ancaman militer yang kabur dan tanpa penjelasan konkret mengenai bentuk tindakan yang dimaksud.

Gedung Putih sendiri tidak memberikan klarifikasi resmi, sebagaimana Trump juga tidak menyebutkan jenis operasi apa yang akan ditempuh jika ancamannya dijalankan.

Pengamat kebijakan luar negeri Amerika, Michael O’Hanlon, menilai sikap Trump mencerminkan kepercayaan diri berlebihan setelah melihat serangkaian serangan terbatas Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dan sekutunya dalam dua tahun terakhir.

Namun bahkan di dalam negeri Amerika Serikat, ancaman Trump menuai kritik.

Anggota Kongres dari Partai Republik, Thomas Massie, menegaskan bahwa Amerika memiliki persoalan serius di dalam negeri dan tidak seharusnya menghamburkan sumber daya militer untuk mencampuri urusan internal negara lain tanpa persetujuan Kongres.

“Ancaman ini bukan tentang kebebasan berbicara di Iran, melainkan soal dolar, minyak, dan Israel,” ujar Massie secara terbuka.

Sebaliknya, senator garis keras Lindsey Graham justru mendukung pernyataan Trump, menyebutnya sebagai bentuk ketegasan menghadapi “kejahatan”, bahkan mengaitkannya dengan agenda politik yang lebih luas bersama Israel.

Trump sendiri sebelumnya mengeluarkan peringatan serangan terhadap Iran usai bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dengan dalih program nuklir dan pengembangan rudal balistik Teheran.

Bagi Iran, rangkaian pernyataan ini memperjelas bahwa isu protes domestik telah digunakan sebagai pintu masuk baru bagi tekanan geopolitik Amerika Serikat.

Dan ketika bahasa militer digunakan untuk merespons persoalan ekonomi rakyat suatu negara, batas antara kepedulian kemanusiaan dan ancaman agresi pun menjadi semakin kabur. (ali)

Admin

Share
Published by
Admin
Tags: ancaman militer Iran locked and loaded Trump