SulawesiPos.com – Kemarau berkepanjangan mulai menekan ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kota Makassar. Pemerintah Kota Makassar melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) merespons kondisi tersebut dengan kembali menyalurkan air bersih secara langsung kepada warga yang terdampak.
Pada Sabtu (22/8/2026), BPBD Makassar mendistribusikan air bersih ke 23 titik yang tersebar di lima kecamatan, yakni Biringkanaya, Tamalanrea, Ujung Tanah, Tallo, dan Panakkukang.
Air diangkut menggunakan mobil tangki dan disalurkan ke lokasi yang sebelumnya telah melalui asesmen.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar, mengatakan penyaluran tersebut merupakan bentuk respons pemerintah terhadap warga yang mulai kesulitan memperoleh air bersih.
“Penyaluran air bersih ini bentuk kepedulian pemerintah kota kepada masyarakat yang terdampak kekeringan. Hari ini ada 23 titik yang kita distribusikan langsung,” kata Fadli.
Puluhan Ribu Warga Terdampak
Persoalan kekeringan di Makassar bukan lagi bersifat sporadis.
Berdasarkan data BPBD per 5 Agustus 2026, sebanyak 47.252 jiwa dari 13.929 kepala keluarga terdampak kekeringan.
Dampaknya tersebar di enam kecamatan, yaitu Ujung Tanah, Tallo, Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang, dan Manggala.
Biringkanaya menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak terbesar, mencapai 14.787 jiwa, disusul Tallo 10.672 jiwa dan Tamalanrea 9.947 jiwa.
Kondisi tersebut membuat pemerintah menetapkan langkah tanggap darurat dan memperkuat operasi pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.
Bukan Hanya Lima Kecamatan
Meski distribusi pada Sabtu menyasar 23 titik di lima kecamatan, BPBD menyatakan layanan bantuan air bersih dapat diajukan masyarakat dari wilayah lain yang mengalami kesulitan.
Enam kecamatan yang berdasarkan asesmen BPBD terdampak secara langsung dan sistemik adalah Tallo, Ujung Tanah, Panakkukang, Tamalanrea, Biringkanaya, dan Manggala.
Namun, warga dari kecamatan lain tetap dapat melaporkan kondisi kekurangan air untuk kemudian diverifikasi petugas.
Fadli menegaskan pemenuhan air bersih menjadi prioritas karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
“Untuk kebutuhan mendasar kehidupan manusia itu adalah air bersih. Jadi hari ini kita buka kembali penyaluran air bersih untuk masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah Siapkan Sumber Air Alternatif
Penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan melalui pengiriman air menggunakan mobil tangki.
Pemerintah juga menyiapkan langkah jangka menengah agar warga memiliki sumber air yang lebih mandiri.
Dinas Pekerjaan Umum (PU) Makassar telah mengerjakan sejumlah titik sumur dalam di beberapa kecamatan.
Sumber air tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap distribusi air tangki selama musim kemarau.
Dalam pelaksanaannya, BPBD juga melibatkan sejumlah unsur lain, termasuk Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Palang Merah Indonesia (PMI), Dinas Lingkungan Hidup, serta pemerintah kecamatan.
Fadli menegaskan penanganan kekeringan merupakan tanggung jawab bersama pemerintah kota, bukan hanya BPBD.
“Ini bukan hanya BPBD yang bergerak. Ini Pemerintah Kota Makassar. Ada aktivasi Komando Bencana Kekeringan dan Tanggap Darurat Bencana Kekeringan Kota Makassar,” tegasnya.
Dengan distribusi air yang terus dilakukan dan pengembangan sumber air alternatif, Pemkot Makassar berupaya memastikan warga tetap mendapatkan kebutuhan dasar selama kemarau berlangsung.
Pemerintah juga meminta masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih segera melapor agar bantuan dapat diprioritaskan berdasarkan kondisi di lapangan.

