Jalan La Maddukelleng: Mengenang Kisah Raja Wajo yang Gigih Lawan Belanda

Armada kapalnya dilengkapi persenjataan, termasuk meriam yang dibeli dari Inggris.

Perjalanan pulang bukan tanpa hambatan. Armada La Maddukelleng harus menghadapi serangan Belanda.

Dalam perjalanan menuju Makassar, armadanya dua kali diserang pasukan Belanda, yakni pada 8 Maret 1734 dan 12 Maret 1734. Namun, serangan tersebut berhasil dipatahkan.

Ketika armada La Maddukelleng berlayar di antara Pulau Lae-Lae dan Rotterdam, Belanda kembali melancarkan serangan menggunakan meriam.

Pasukan La Maddukelleng mampu memberikan perlawanan dan membalas tembakan armada Belanda.

Diangkat Menjadi Raja Wajo XXXIV

Setelah melewati berbagai pertempuran, La Maddukelleng bersama pasukannya akhirnya tiba di Peneki, Kerajaan Wajo.

Ia kemudian diangkat menjadi Raja Matowa Wajo XXXIV pada 8 November 1736, meneruskan kedudukan yang sebelumnya diwariskan oleh ayahnya.

Kedatangan La Maddukelleng ke Wajo sekaligus memperkuat perlawanan terhadap Belanda.

Belanda kemudian mengerahkan pasukan dalam jumlah besar dan mendapat bantuan dari pasukan Bone. Pertempuran besar pun terjadi di Wajo.

Namun, masyarakat Wajo tidak gentar. Perlawanan berlangsung sengit hingga akhirnya pasukan Bone menghentikan peperangan dan memilih mengadakan perjanjian damai dengan La Maddukelleng.

BACA JUGA:  Jalan Abu Bakar Lambogo: Sosok Pejuang Asal Enrekang yang Namanya Diabadikan di Makassar

Menyerang Benteng Rotterdam di Ujung Pandang

Perlawanan La Maddukelleng tidak berhenti setelah pertempuran di Wajo.

Pada Mei 1739, La Maddukelleng bersama pasukannya bergerak menuju Ujung Pandang dengan tujuan menyerang Benteng Rotterdam.

Namun, serangan tersebut tidak berhasil dan pasukannya kembali ke Wajo.

Pada periode yang sama, Belanda kembali mengajak La Maddukelleng berdamai. Namun, tawaran tersebut ditolak.

Penolakan itu membuat Belanda kembali menggempur pasukan La Maddukelleng. Pertempuran kembali terjadi dan berkali-kali dimenangkan oleh pihak La Maddukelleng.

Belanda kembali menawarkan perdamaian. Namun, La Maddukelleng tetap teguh pada pendiriannya dan kembali menolak tawaran tersebut.

Mendapat Gelar Petta Pammadekaenggi Wajo

Kegigihan La Maddukelleng dalam mempertahankan wilayah Wajo membuat masyarakat memberikan gelar kehormatan Petta Pammadekaenggi Wajo, yang berarti Tuan yang Memerdekakan Wajo.

Gelar tersebut menjadi bentuk penghormatan masyarakat Wajo terhadap perjuangannya mempertahankan wilayah leluhur dari tekanan kekuasaan asing.

Armada kapalnya dilengkapi persenjataan, termasuk meriam yang dibeli dari Inggris.

Perjalanan pulang bukan tanpa hambatan. Armada La Maddukelleng harus menghadapi serangan Belanda.

Dalam perjalanan menuju Makassar, armadanya dua kali diserang pasukan Belanda, yakni pada 8 Maret 1734 dan 12 Maret 1734. Namun, serangan tersebut berhasil dipatahkan.

Ketika armada La Maddukelleng berlayar di antara Pulau Lae-Lae dan Rotterdam, Belanda kembali melancarkan serangan menggunakan meriam.

Pasukan La Maddukelleng mampu memberikan perlawanan dan membalas tembakan armada Belanda.

Diangkat Menjadi Raja Wajo XXXIV

Setelah melewati berbagai pertempuran, La Maddukelleng bersama pasukannya akhirnya tiba di Peneki, Kerajaan Wajo.

Ia kemudian diangkat menjadi Raja Matowa Wajo XXXIV pada 8 November 1736, meneruskan kedudukan yang sebelumnya diwariskan oleh ayahnya.

Kedatangan La Maddukelleng ke Wajo sekaligus memperkuat perlawanan terhadap Belanda.

Belanda kemudian mengerahkan pasukan dalam jumlah besar dan mendapat bantuan dari pasukan Bone. Pertempuran besar pun terjadi di Wajo.

Namun, masyarakat Wajo tidak gentar. Perlawanan berlangsung sengit hingga akhirnya pasukan Bone menghentikan peperangan dan memilih mengadakan perjanjian damai dengan La Maddukelleng.

BACA JUGA:  Jalan Petta Punggawa: Jejak Panglima Tertinggi Bone yang Gugur dalam Perang 1905

Menyerang Benteng Rotterdam di Ujung Pandang

Perlawanan La Maddukelleng tidak berhenti setelah pertempuran di Wajo.

Pada Mei 1739, La Maddukelleng bersama pasukannya bergerak menuju Ujung Pandang dengan tujuan menyerang Benteng Rotterdam.

Namun, serangan tersebut tidak berhasil dan pasukannya kembali ke Wajo.

Pada periode yang sama, Belanda kembali mengajak La Maddukelleng berdamai. Namun, tawaran tersebut ditolak.

Penolakan itu membuat Belanda kembali menggempur pasukan La Maddukelleng. Pertempuran kembali terjadi dan berkali-kali dimenangkan oleh pihak La Maddukelleng.

Belanda kembali menawarkan perdamaian. Namun, La Maddukelleng tetap teguh pada pendiriannya dan kembali menolak tawaran tersebut.

Mendapat Gelar Petta Pammadekaenggi Wajo

Kegigihan La Maddukelleng dalam mempertahankan wilayah Wajo membuat masyarakat memberikan gelar kehormatan Petta Pammadekaenggi Wajo, yang berarti Tuan yang Memerdekakan Wajo.

Gelar tersebut menjadi bentuk penghormatan masyarakat Wajo terhadap perjuangannya mempertahankan wilayah leluhur dari tekanan kekuasaan asing.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru