SulawesiPos.com – Jalan Lanto Daeng Pasewang di pusat Kota Makassar kembali terasa tenang dan dipenuhi kibaran Merah Putih pada peringatan HUT ke-81 RI, Senin (17/8/2026), dua hari setelah ruas ini ikut disorot karena menjadi titik berkumpul mahasiswa Papua sebelum bergerak ke lokasi aksi di Jalan Sultan Alauddin.
Ruas jalan yang membelah koridor Ujung Pandang dan Mamajang itu kini dikenal sebagai salah satu nadi aktivitas perkotaan, dengan lalu lintas harian yang padat serta deretan fungsi kota yang berbaur, mulai dari rumah sakit, markas aparat, asrama mahasiswa, hingga permukiman warga.
Karena itu, nama Jalan Lanto Daeng Pasewang tidak sekadar hadir sebagai penanda alamat. Di tengah dinamika kota modern, ruas ini juga memikul ingatan tentang tokoh Sulawesi yang namanya diabadikan pada salah satu jalur penting di Makassar.
Nama Jalan dari Tokoh Sulawesi Awal Republik
Lanto Daeng Pasewang dikenal sebagai tokoh asal Jeneponto yang pernah menjabat Gubernur Sulawesi pada 1953 hingga 1956, saat wilayah Sulawesi masih berada dalam satu provinsi besar sebelum pemekaran.
Namanya lekat dengan fase awal konsolidasi pemerintahan di kawasan timur Indonesia, ketika daerah-daerah di Sulawesi masih menghadapi tantangan penataan birokrasi, pemulihan sosial, dan stabilitas politik pascakemerdekaan.

Pengabadian namanya sebagai nama jalan di Makassar menjadi cara paling dekat agar jejak sejarah itu tetap hidup di ruang publik, tidak hanya di arsip atau buku pelajaran, tetapi juga di lintasan harian warga kota.
Ruang Kota yang Terus Bergerak
Dalam beberapa hari terakhir, Jalan Lanto Daeng Pasewang kembali masuk perhatian publik setelah disebut sebagai titik kumpul mahasiswa Papua sebelum aksi yang berujung ricuh di Jalan Sultan Alauddin pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Namun pada Hari Kemerdekaan hari ini, suasana di sepanjang jalan terpantau kembali kondusif.
Lalu lintas berjalan normal, aktivitas warga berangsur rutin, dan bendera Merah Putih terlihat berkibar di sejumlah titik di koridor jalan tersebut.
Kontras itu memperlihatkan bagaimana sebuah ruas jalan di tengah kota bisa memuat banyak lapisan sekaligus: ruang sejarah, ruang pergerakan sosial, dan ruang hidup sehari-hari masyarakat urban Makassar.
Pada momentum 17 Agustus, Jalan Lanto Daeng Pasewang terasa seperti monumen hidup yang mengingatkan bahwa nama jalan bukan sekadar penunjuk arah, melainkan juga cara kota merawat ingatan terhadap tokoh, peristiwa, dan semangat kebangsaan yang terus bergerak bersama zaman.

