Jalan Petta Punggawa: Jejak Panglima Tertinggi Bone yang Gugur dalam Perang 1905

SulawesiPos.com – Jalan Petta Punggawa di Makassar bukan hanya ruas penghubung kawasan Bontoala dan Tallo, tetapi juga menyimpan jejak sejarah Andi Abdul Hamid Baso Pagilingi Petta Ponggawae, panglima perang legendaris Kerajaan Bone yang memimpin laskar Bone melawan invasi militer kolonial Belanda dalam Perang Bone 1905.

Nama jalan itu kini lekat di tengah aktivitas harian warga, tetapi berasal dari sosok penting dalam sejarah perlawanan Bugis.

Di Kota Makassar, Jalan Petta Punggawa melintasi dua wilayah kecamatan, yakni Kecamatan Bontoala pada sisi barat dan selatan di Kelurahan Timungan Lompoa, serta Kecamatan Tallo pada sisi timur dan utara di Kelurahan Kalukuang.

Ruas jalan ini berfungsi sebagai penghubung penting di kawasan pemukiman dan perdagangan lokal.

Sepanjang jalur itu, aktivitas warga ditopang oleh keberadaan fasilitas pendidikan seperti SMP Tujuh Lima Makassar dan SD Al Mubarak Cendekia Islamic School, serta layanan logistik dan transportasi seperti Perwakilan Bus Garuda untuk rute antardaerah.

BACA JUGA:  13 Sapi Dikurbankan Tiran Group dan AAS Foundation, 1.900 Kupon Daging Dibagikan di Makassar

Sejumlah usaha kuliner lokal juga tumbuh di sepanjang jalan tersebut, termasuk warung makan yang dikenal warga seperti Kedai Mbk Yul.

Karena itu, nama Petta Punggawa hadir bukan hanya sebagai penanda jalan, tetapi juga bagian dari keseharian kawasan yang padat aktivitas.

Nama Jalan yang Berasal dari Gelar Panglima

Petta Punggawa atau Petta Ponggawae merujuk pada Andi Abdul Hamid Baso Pagilingi, putra La Pawawoi Karaeng Segeri, Raja Bone ke-31, dan I Karimbo Daeng Tamene.

Dalam tradisi Kerajaan Bone, gelar Punggawa atau Ponggawae merupakan gelar militer tertinggi yang bermakna panglima tertinggi pasukan kerajaan.

Ia dikenal sebagai pemimpin pasukan elit Bone yang mengenakan Songko’ Borrong, penutup kepala khas berwarna merah marun gelap.

Peran itu menguat ketika Kerajaan Bone menolak tunduk pada perjanjian yang membatasi kedaulatan mereka dan menolak membayar pajak kepada Belanda.

Konflik tersebut memuncak dalam Perang Bone 1905 yang dalam sejarah lokal dikenal dengan sebutan Rumpa’na Bone.

BACA JUGA:  PSM Makassar Siapkan Empat Jersey Musim 2026/2027, Dua Edisi Spesial Sambut HUT Klub dan Kota

Dalam fase perang itu, Petta Punggawa memimpin laskar Bone menghadapi invasi besar-besaran militer kolonial Belanda.

Gugur dalam Perang Bone 1905

Pasukan Bone disebut kalah persenjataan setelah dikepung di wilayah pegunungan.

Petta Punggawa kemudian gugur diterjang peluru di Pegunungan Awo pada 1905.

Kematian putra mahkota Bone itu disebut memukul Raja La Pawawoi Karaeng Segeri hingga melontarkan ungkapan “Rumpa’ni Bone”, yang dimaknai sebagai runtuh atau bobolnya benteng pertahanan Bone.

namanya berasal dari Andi Abdul Hamid Baso Pagilingi Petta Ponggawae, panglima perang Bone yang gugur dalam Perang Bone 1905.
Namanya berasal dari Andi Abdul Hamid Baso Pagilingi Petta Ponggawae, panglima perang Bone yang gugur dalam Perang Bone 1905.

Sebelum menghadapi Belanda secara langsung pada 1905, Petta Punggawa juga tercatat pernah memimpin ekspedisi militer Bone ke dataran tinggi Toraja pada kisaran 1880-an hingga 1890.

Ekspedisi itu berkaitan dengan perebutan pengaruh atas jalur perdagangan kopi dan senjata, termasuk benturan dengan kelompok Pong Tiku di wilayah Pangala’.

Kini, jejak namanya tidak hanya hidup di Makassar.

Jasadnya disemayamkan di Kompleks Makam Petta Ponggawae di Desa Matuju, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, sementara namanya juga diabadikan pada jalan utama di Watampone dan pada replika Istana Saoraja Petta Ponggawae sebagai simbol sejarah dan kebesaran Bone.

BACA JUGA:  Kabur Lompat ke Sungai, Residivis Pencurian Rumah di Maros Akhirnya Ditangkap di Pelabuhan Makassar

SulawesiPos.com – Jalan Petta Punggawa di Makassar bukan hanya ruas penghubung kawasan Bontoala dan Tallo, tetapi juga menyimpan jejak sejarah Andi Abdul Hamid Baso Pagilingi Petta Ponggawae, panglima perang legendaris Kerajaan Bone yang memimpin laskar Bone melawan invasi militer kolonial Belanda dalam Perang Bone 1905.

Nama jalan itu kini lekat di tengah aktivitas harian warga, tetapi berasal dari sosok penting dalam sejarah perlawanan Bugis.

Di Kota Makassar, Jalan Petta Punggawa melintasi dua wilayah kecamatan, yakni Kecamatan Bontoala pada sisi barat dan selatan di Kelurahan Timungan Lompoa, serta Kecamatan Tallo pada sisi timur dan utara di Kelurahan Kalukuang.

Ruas jalan ini berfungsi sebagai penghubung penting di kawasan pemukiman dan perdagangan lokal.

Sepanjang jalur itu, aktivitas warga ditopang oleh keberadaan fasilitas pendidikan seperti SMP Tujuh Lima Makassar dan SD Al Mubarak Cendekia Islamic School, serta layanan logistik dan transportasi seperti Perwakilan Bus Garuda untuk rute antardaerah.

BACA JUGA:  Makassar Mulai Bersih-bersih Iklan Rokok, Reklame Dekat Sekolah dan Taman Disasar

Sejumlah usaha kuliner lokal juga tumbuh di sepanjang jalan tersebut, termasuk warung makan yang dikenal warga seperti Kedai Mbk Yul.

Karena itu, nama Petta Punggawa hadir bukan hanya sebagai penanda jalan, tetapi juga bagian dari keseharian kawasan yang padat aktivitas.

Nama Jalan yang Berasal dari Gelar Panglima

Petta Punggawa atau Petta Ponggawae merujuk pada Andi Abdul Hamid Baso Pagilingi, putra La Pawawoi Karaeng Segeri, Raja Bone ke-31, dan I Karimbo Daeng Tamene.

Dalam tradisi Kerajaan Bone, gelar Punggawa atau Ponggawae merupakan gelar militer tertinggi yang bermakna panglima tertinggi pasukan kerajaan.

Ia dikenal sebagai pemimpin pasukan elit Bone yang mengenakan Songko’ Borrong, penutup kepala khas berwarna merah marun gelap.

Peran itu menguat ketika Kerajaan Bone menolak tunduk pada perjanjian yang membatasi kedaulatan mereka dan menolak membayar pajak kepada Belanda.

Konflik tersebut memuncak dalam Perang Bone 1905 yang dalam sejarah lokal dikenal dengan sebutan Rumpa’na Bone.

BACA JUGA:  Gasak Uang Angpao Rp50 Juta, Pemuda di Makassar Diringkus Kurang dari 24 Jam

Dalam fase perang itu, Petta Punggawa memimpin laskar Bone menghadapi invasi besar-besaran militer kolonial Belanda.

Gugur dalam Perang Bone 1905

Pasukan Bone disebut kalah persenjataan setelah dikepung di wilayah pegunungan.

Petta Punggawa kemudian gugur diterjang peluru di Pegunungan Awo pada 1905.

Kematian putra mahkota Bone itu disebut memukul Raja La Pawawoi Karaeng Segeri hingga melontarkan ungkapan “Rumpa’ni Bone”, yang dimaknai sebagai runtuh atau bobolnya benteng pertahanan Bone.

namanya berasal dari Andi Abdul Hamid Baso Pagilingi Petta Ponggawae, panglima perang Bone yang gugur dalam Perang Bone 1905.
Namanya berasal dari Andi Abdul Hamid Baso Pagilingi Petta Ponggawae, panglima perang Bone yang gugur dalam Perang Bone 1905.

Sebelum menghadapi Belanda secara langsung pada 1905, Petta Punggawa juga tercatat pernah memimpin ekspedisi militer Bone ke dataran tinggi Toraja pada kisaran 1880-an hingga 1890.

Ekspedisi itu berkaitan dengan perebutan pengaruh atas jalur perdagangan kopi dan senjata, termasuk benturan dengan kelompok Pong Tiku di wilayah Pangala’.

Kini, jejak namanya tidak hanya hidup di Makassar.

Jasadnya disemayamkan di Kompleks Makam Petta Ponggawae di Desa Matuju, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, sementara namanya juga diabadikan pada jalan utama di Watampone dan pada replika Istana Saoraja Petta Ponggawae sebagai simbol sejarah dan kebesaran Bone.

BACA JUGA:  Oknum Dosen PNUP Makassar Diduga Lakukan Pelecehan Seksual, Tiga Mahasiswi Buka Suara

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru