SulawesiPos.com – Kebijakan pembatasan penggunaan gawai di sekolah menuai beragam respons dari kalangan siswa.
Di SMAN 11 Makassar, penerapan aturan ini tak hanya berdampak pada pola belajar, tetapi juga memunculkan pro dan kontra di kalangan pelajar.
Sebagian siswa menilai kebijakan ini membawa dampak positif, terutama dalam meningkatkan kemampuan literasi dan fokus belajar.
Hal itu disampaikan oleh Muhammad Nabil, siswa kelas XII SMAN 11 Makassar.
Menurutnya, pembatasan gawai membantu siswa lebih mandiri dalam memahami materi pelajaran tanpa bergantung pada ponsel.
“Saya setuju, karena melihat kondisi sekarang banyak teman-teman yang kurang dalam literasi. Dikasih soal, padahal jawabannya ada di teks, tapi tidak bisa ditemukan,” kata kepada SulawesiPos.com di sekolahnya, Rabu (1/4/2026).
Nabil menilai, tanpa gawai, siswa terdorong untuk lebih aktif membaca dan memahami isi materi, bukan sekadar mencari jawaban instan.
Namun, tidak semua siswa memiliki pandangan yang sama. Ahmad Khalil, siswa kelas X SMAN 11 Makassar, mengaku berada di posisi tengah, setuju sekaligus tidak setuju dengan kebijakan tersebut.
Ia mengakui ada manfaat dari pembatasan gawai, terutama dalam melatih kemampuan berpikir kritis dan meningkatkan interaksi sosial antar siswa.
“Bagusnya karena kita dilatih berpikir kritis dan lebih bersosialisasi sama teman-teman,” katanya.
Meski demikian, Khalil juga menyoroti beberapa kendala yang dirasakan siswa. Salah satunya terkait akses informasi, terutama saat ada tugas yang belum sempat didokumentasikan.
“Kadang tidak setuju juga, karena kalau ada tugas yang tertinggal jadi tidak bisa difoto, apalagi kalau langsung pulang,” pungkasnya.

