31 C
Makassar
2 March 2026, 17:21 PM WITA

Kisah Mentan Amran dan Springbed Pajangan

Penulis: Ahmad Musa Said
Pengurus Pusat IKA Unhas

ADA kisah unik di Ramadan kali ini. Bermula saat Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mentraktir saudara dan puluhan pengurus IKA Unhas bersama staf perusahaannya untuk membeli baju baru di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Makassar, Minggu (1/3/2026).

Ketika staf dan pengurus IKA Unhas asyik memilih pakaian, Mentan Amran mengajak saudaranya serta beberapa tokoh senior IKA Unhas untuk ikut memilih baju di outlet.

Setelah mentraktir mereka, Mentan Amran pun berniat pulang sambil merangkul adik kandungnya. Sambil ngobrol Ketua Umum IKA Unhas ini sempat duduk di salah satu springbed pajangan di tengah pusat perbelanjaan tersebut.

IMG-20260302-WA0029
Ahmad Musa Said

Merasa agak lelah, karena telah beraktivitas sejak subuh, Andi Amran Sulaiman berbaring sejenak di springbed tersebut.

Sekitar lima menit bercerita sambil berbaring di springbed didampingi saudara dan koleganya, Mentan Amran pun beranjak meninggalkan pusat perbelanjaan.

Setiba di kediaman, istri owner Tiran Group ini meminta salah satu stafnya agar kembali ke pusat perbelanjaan tersebut dan membeli satu set springbed yang sempat digunakan Mentan Amran berisitirahat.

Staf tersebut pun kembali ke pusat perbelanjaan, lalu membeli springbed tersebut.

Sales girl yang bertugas sempat menyatakan bahwa ini barang pajangan, nanti diantarkan yang dari gudang.

Namun, staf Mentan Amran berkeras bahwa yang mau dibeli adalah yang digunakan Mentan Amran tadi dan harus diantar langsung.

Sang sales sebelumnya menjelaskan bahwa sudah biasa orang menumpang duduk ataupun istirahat ketika melewati springbed tersebut.

Sang staf menimpali bahwa Mentan Amran tidak ingin terbebani dengan pertanyaan di akhirat kelak, bahwa dirinya telah menggunakan barang dagangan orang namun tidak membelinya.

Kebiasaan seperti ini sudah sering terjadi pada Mentan Amran.

Pernah salah seorang staf perusahaan diturunkan dari taksi saat menuju bandara karena telah membawa tusuk gigi dari hotel yang ditempati menginap.

Staf perusahaan tersebut akhirnya ketinggalan pesawat, tiketnya hangus.

Harga tusuk gigi tersebut mungkin tidak ada artinya sama sekali dibandingkan harga tiket yang hangus, namun di mata Mentan Amran, pertanyaan di akhirat kelak jauh lebih mengkhawatirkan baginya daripada hangusnya harga tiket tersebut.

Pria yang pernah menjadi Penyuluh Pertanian Lapangan ini sangat memegang teguh pesan kedua orangtuanya yang selalu menekankan agar jangan ambil yang bukan hakmu.

Setelah tiba di kediaman, springbed tersebut tidak dimasukkan ke dalam rumah, namun dihadiahkan kepada adik bungsu yang menemaninya ngobrol saat di pusat perbelanjaan tadi.

Sikap Wara’

Dalam tinjauan Islam, sifat ini disebut wara’, yaitu perilaku hati-hati seorang Muslim dengan meninggalkan segala perkara syubhat (samar hukumnya antara halal dan haram), serta menjauhi hal makruh atau berlebihan dalam perkara mubah, demi menjaga kesucian diri dan keimanan.

Wara’ ini bertujuan membentengi diri dari dosa dan maksiat.

Contoh sikap wara’ adalah menghindari syubhat yaitu meninggalkan makanan, harta, atau tindakan yang diragukan kehalalannya.

Menurut para ulama, sikap wara’ ini menjadikan seseorang lebih fokus pada amalan yang benar-benar diridhai Allah dan dapat menjadi salah satu tanda kebaikan Islam seseorang.

Sikap wara’ ini pulalah yang menyebabkan Koordinator Presidium HIMPUNI ini masih bimbang mewujudkan rencananya untuk membeli atau membangun hotel komersial, karena khawatir jika ada dosa dan maksiat yang terjadi dalam hotel tersebut menjadi tanggungjawabnya di akhirat kelak.

Hotel Pantai Gapura di Kota Makassar yang saat ini sudah dimilikinya hanya digunakan untuk pribadi dan tidak dikomersialkan.

Sembari menulis ini, saya lalu memikirkan sudah berapa kali saya menggunakan maupun memanfaatkan sesuatu yang bukan hak saya selama hidup ini.

Kalau terhadap yang haram saja terkadang kita masih abai, bagaimana lagi dengan yang syubhat (samar-samar)?

Semoga momen ini menjadi penyemangat untuk kembali mengevaluasi diri. Umar RA pernah berkata: Haasibuu anfusakum qabla an tuhaasabuu, evaluasilah dirimu sebelum dievaluasi kelak di akhirat sana.*

Penulis: Ahmad Musa Said
Pengurus Pusat IKA Unhas

ADA kisah unik di Ramadan kali ini. Bermula saat Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mentraktir saudara dan puluhan pengurus IKA Unhas bersama staf perusahaannya untuk membeli baju baru di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Makassar, Minggu (1/3/2026).

Ketika staf dan pengurus IKA Unhas asyik memilih pakaian, Mentan Amran mengajak saudaranya serta beberapa tokoh senior IKA Unhas untuk ikut memilih baju di outlet.

Setelah mentraktir mereka, Mentan Amran pun berniat pulang sambil merangkul adik kandungnya. Sambil ngobrol Ketua Umum IKA Unhas ini sempat duduk di salah satu springbed pajangan di tengah pusat perbelanjaan tersebut.

IMG-20260302-WA0029
Ahmad Musa Said

Merasa agak lelah, karena telah beraktivitas sejak subuh, Andi Amran Sulaiman berbaring sejenak di springbed tersebut.

Sekitar lima menit bercerita sambil berbaring di springbed didampingi saudara dan koleganya, Mentan Amran pun beranjak meninggalkan pusat perbelanjaan.

Setiba di kediaman, istri owner Tiran Group ini meminta salah satu stafnya agar kembali ke pusat perbelanjaan tersebut dan membeli satu set springbed yang sempat digunakan Mentan Amran berisitirahat.

Staf tersebut pun kembali ke pusat perbelanjaan, lalu membeli springbed tersebut.

Sales girl yang bertugas sempat menyatakan bahwa ini barang pajangan, nanti diantarkan yang dari gudang.

Namun, staf Mentan Amran berkeras bahwa yang mau dibeli adalah yang digunakan Mentan Amran tadi dan harus diantar langsung.

Sang sales sebelumnya menjelaskan bahwa sudah biasa orang menumpang duduk ataupun istirahat ketika melewati springbed tersebut.

Sang staf menimpali bahwa Mentan Amran tidak ingin terbebani dengan pertanyaan di akhirat kelak, bahwa dirinya telah menggunakan barang dagangan orang namun tidak membelinya.

Kebiasaan seperti ini sudah sering terjadi pada Mentan Amran.

Pernah salah seorang staf perusahaan diturunkan dari taksi saat menuju bandara karena telah membawa tusuk gigi dari hotel yang ditempati menginap.

Staf perusahaan tersebut akhirnya ketinggalan pesawat, tiketnya hangus.

Harga tusuk gigi tersebut mungkin tidak ada artinya sama sekali dibandingkan harga tiket yang hangus, namun di mata Mentan Amran, pertanyaan di akhirat kelak jauh lebih mengkhawatirkan baginya daripada hangusnya harga tiket tersebut.

Pria yang pernah menjadi Penyuluh Pertanian Lapangan ini sangat memegang teguh pesan kedua orangtuanya yang selalu menekankan agar jangan ambil yang bukan hakmu.

Setelah tiba di kediaman, springbed tersebut tidak dimasukkan ke dalam rumah, namun dihadiahkan kepada adik bungsu yang menemaninya ngobrol saat di pusat perbelanjaan tadi.

Sikap Wara’

Dalam tinjauan Islam, sifat ini disebut wara’, yaitu perilaku hati-hati seorang Muslim dengan meninggalkan segala perkara syubhat (samar hukumnya antara halal dan haram), serta menjauhi hal makruh atau berlebihan dalam perkara mubah, demi menjaga kesucian diri dan keimanan.

Wara’ ini bertujuan membentengi diri dari dosa dan maksiat.

Contoh sikap wara’ adalah menghindari syubhat yaitu meninggalkan makanan, harta, atau tindakan yang diragukan kehalalannya.

Menurut para ulama, sikap wara’ ini menjadikan seseorang lebih fokus pada amalan yang benar-benar diridhai Allah dan dapat menjadi salah satu tanda kebaikan Islam seseorang.

Sikap wara’ ini pulalah yang menyebabkan Koordinator Presidium HIMPUNI ini masih bimbang mewujudkan rencananya untuk membeli atau membangun hotel komersial, karena khawatir jika ada dosa dan maksiat yang terjadi dalam hotel tersebut menjadi tanggungjawabnya di akhirat kelak.

Hotel Pantai Gapura di Kota Makassar yang saat ini sudah dimilikinya hanya digunakan untuk pribadi dan tidak dikomersialkan.

Sembari menulis ini, saya lalu memikirkan sudah berapa kali saya menggunakan maupun memanfaatkan sesuatu yang bukan hak saya selama hidup ini.

Kalau terhadap yang haram saja terkadang kita masih abai, bagaimana lagi dengan yang syubhat (samar-samar)?

Semoga momen ini menjadi penyemangat untuk kembali mengevaluasi diri. Umar RA pernah berkata: Haasibuu anfusakum qabla an tuhaasabuu, evaluasilah dirimu sebelum dievaluasi kelak di akhirat sana.*

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/