Sampah plastik dimasak selama dua hingga tiga jam hingga menghasilkan cairan bahan bakar yang kemudian melalui proses penyulingan.
“Sekitar 10 kilogram sampah plastik bisa menghasilkan satu liter bahan bakar. Hasil pembakarannya bisa menjadi solar, dan setelah melalui proses penyulingan bisa mendekati bensin setara premium,” terang dia.
Ia menambahkan, penggunaan oli bekas membuat proses produksi lebih efisien dan tetap ramah lingkungan.
Satu liter oli bekas diklaim mampu menopang proses pembakaran hingga dua jam.
Bahan baku plastik yang diolah berasal dari berbagai jenis sampah rumah tangga yang dikumpulkan dari warga maupun hasil pemungutan di kanal.
“Ini memang difokuskan pada pengolahan sampah plastik secara umum, tidak terbatas hanya pada botol atau gelas plastik,” ungkap Darwin.
Darwin berharap inovasi yang dirintis anak muda di Bontoala ini dapat menjadi contoh pengelolaan sampah mandiri berbasis warga.
Ia menekankan pentingnya kehadiran negara dalam mendukung teknologi dan kebijakan lingkungan.
“Inovasi kami warga tidak boleh berjalan sendiri. Pemerintah harus hadir dengan regulasi, pendampingan, dan sistem yang memastikan pengelolaan limbah berjalan aman dan berkelanjutan,” pungkasnya.

