27 C
Makassar
18 January 2026, 19:07 PM WITA

Makassar Jadi Contoh Pengelolaan Sampah Terpadu, Pemkab Sigi Pelajari Sistem Persampahan

SulawesiPos.com — Kota Makassar kini menjadi acuan bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) dalam pengelolaan lingkungan, khususnya sektor persampahan.

Pemerintah Kabupaten Sigi mempelajari sistem pengelolaan sampah yang diterapkan di Makassar sebagai upaya membangun tata kelola sampah yang terintegrasi dan berkelanjutan di daerahnya.

Bupati Sigi Moh Rizal Intjenae menilai Makassar telah mampu menangani persoalan sampah secara mandiri dan terstruktur, mulai dari proses pemilahan, pengangkutan, pengolahan, hingga pemanfaatan akhir.

Capaian tersebut menjadi pertimbangan utama Pemkab Sigi menjadikan Makassar sebagai daerah rujukan dalam pengembangan sistem persampahan.

Rizal menyampaikan bahwa ke depan pihaknya berencana menjalin kolaborasi dengan Pemerintah Kota Makassar agar pola pengelolaan sampah terintegrasi yang diterapkan di ibu kota Sulawesi Selatan itu dapat diadaptasi di Kabupaten Sigi.

“Tentunya ke depan Pemkab Sigi akan bekerja sama dengan Kota Makassar dalam pengelolaan sampah, sehingga nantinya seluruh sistem tata kelola sampah secara terintegrasi itu bisa diterapkan di Kabupaten Sigi,” kata Rizal saat ditemui awak media di Dolo, Minggu (4/1/2025).

Baca Juga: 
Keluar Rumah Beli Nasi Kuning, Remaja di Makassar Diserang Busur Panah OTK

Salah satu inovasi Makassar yang menarik perhatian adalah pengelolaan sampah plastik yang berbasis pemilahan serta bernilai ekonomi. Pendekatan ini dinilai tidak hanya berdampak positif terhadap lingkungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Kami berharap dengan mempelajari sistem tata kelola sampah plastik ini bisa memberikan nilai tambah ekonomi untuk dikelola secara optimal oleh daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Kabupaten Sigi memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngatabaru dengan luas sekitar 30 hektare. Dari total luasan tersebut, baru sekitar lima hektare yang dimanfaatkan, sehingga masih tersedia lahan cukup luas untuk pengembangan pengelolaan sampah modern.

Rizal menyebutkan, setiap hari TPA Ngatabaru mampu menghasilkan sampah plastik hingga dua ton. Potensi tersebut diharapkan dapat dikelola secara maksimal dengan mengadopsi sistem pengelolaan sampah seperti yang diterapkan di Makassar.

“Harapannya melalui pengelolaan sampah plastik bisa memberikan penghasilan tambahan bagi petugas kebersihan dan masyarakat sekitar TPA,” kata Rizal. (tar)

SulawesiPos.com — Kota Makassar kini menjadi acuan bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) dalam pengelolaan lingkungan, khususnya sektor persampahan.

Pemerintah Kabupaten Sigi mempelajari sistem pengelolaan sampah yang diterapkan di Makassar sebagai upaya membangun tata kelola sampah yang terintegrasi dan berkelanjutan di daerahnya.

Bupati Sigi Moh Rizal Intjenae menilai Makassar telah mampu menangani persoalan sampah secara mandiri dan terstruktur, mulai dari proses pemilahan, pengangkutan, pengolahan, hingga pemanfaatan akhir.

Capaian tersebut menjadi pertimbangan utama Pemkab Sigi menjadikan Makassar sebagai daerah rujukan dalam pengembangan sistem persampahan.

Rizal menyampaikan bahwa ke depan pihaknya berencana menjalin kolaborasi dengan Pemerintah Kota Makassar agar pola pengelolaan sampah terintegrasi yang diterapkan di ibu kota Sulawesi Selatan itu dapat diadaptasi di Kabupaten Sigi.

“Tentunya ke depan Pemkab Sigi akan bekerja sama dengan Kota Makassar dalam pengelolaan sampah, sehingga nantinya seluruh sistem tata kelola sampah secara terintegrasi itu bisa diterapkan di Kabupaten Sigi,” kata Rizal saat ditemui awak media di Dolo, Minggu (4/1/2025).

Baca Juga: 
Prakiraan Cuaca Makassar 8 Januari 2026: Waspada Hujan Seharian dan Potensi Banjir

Salah satu inovasi Makassar yang menarik perhatian adalah pengelolaan sampah plastik yang berbasis pemilahan serta bernilai ekonomi. Pendekatan ini dinilai tidak hanya berdampak positif terhadap lingkungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Kami berharap dengan mempelajari sistem tata kelola sampah plastik ini bisa memberikan nilai tambah ekonomi untuk dikelola secara optimal oleh daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Kabupaten Sigi memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngatabaru dengan luas sekitar 30 hektare. Dari total luasan tersebut, baru sekitar lima hektare yang dimanfaatkan, sehingga masih tersedia lahan cukup luas untuk pengembangan pengelolaan sampah modern.

Rizal menyebutkan, setiap hari TPA Ngatabaru mampu menghasilkan sampah plastik hingga dua ton. Potensi tersebut diharapkan dapat dikelola secara maksimal dengan mengadopsi sistem pengelolaan sampah seperti yang diterapkan di Makassar.

“Harapannya melalui pengelolaan sampah plastik bisa memberikan penghasilan tambahan bagi petugas kebersihan dan masyarakat sekitar TPA,” kata Rizal. (tar)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/