SulawesiPos.com –Â Ada beberapa makanan yang tidak pernah benar-benar hilang, hanya cara menikmatinya yang berubah. Salah satunya adalah jajanan khas di Kota Makassar, putu cangkir.
Disebut putu cangkir karena bentuknya yang menyerupai cangkir kecil yang dibalik. Ukurannya mungil, tapi cukup untuk jadi teman santai, apalagi saat masih hangat.
Jajanan tradisional ini seringkali ditemui di Kota Daeng, baik pagi maupun sore hari.
Aromanya sangat khas, perpaduan wangi daun pandan dan kelapa yang baru dikukus, sering kali sudah tercium bahkan sebelum penjualnya terlihat.
Proses pembuatannya pun masih mempertahankan cara lama, dikukus perlahan hingga matang.
Bahannya sederhana, dari tepung beras, tepung ketan, gula merah, dan kelapa parut.
Tapi menariknya, inovasi mengenai putu cangkir tidak berhenti di situ, ia beradaptasi mengikuti zamannya.
Varian Warna dan Isian Putu Cangkir
Di tengah banyaknya jajanan modern, kue ini ikut mengalami perubahan dan modifikasi.
Kalau dulu jajanan ini hanya dikenal dengan rasa original atau gula merah, sekarang pilihannya semakin beragam.
Terdapat beberapa varian warna, antara lain:
- Original
- Pandan
- Ketan Hitam
- Red Velvet
Isiannya pun ikut berubah, menyesuaikan selera generasi masa sekarang tanpa meninggalkan ciri khasnya. Beberapa isian yang sering kali dijajakan, antara lain:
- Kelapa Parut
- Gula Merah
- Cokelat
- Keju
Lokasi Penjual Putu Cangkir
Salah satu tempat yang masih bisa ditemukan adalah di pelataran Baji Pamai Supermarket, tepatnya di Jalan Ranggong.
Di sini, putu cangkir dijual tiap hari, sekitar pukul 17.00 hingga 22.00 Wita.
Harganya pun masih sangat terjangkau:
- Original: Rp2.500
- Isi cokelat / keju / gula merah: Rp3.000
Selain itu, putu cangkir juga mudah ditemukan di Desa Tanete, Jalan Poros Sungguminasa-Takalar.
Di sepanjang jalan, penjual berjejer dengan berbagai pilihan warna, mulai dari original, pandan, ketan hitam, sampai red velvet, dengan harga mulai dari Rp1.000
Menariknya, meski tampil lebih modern, cara menikmatinya tetap sama.
Disantap hangat, sederhana, dan sering kali tanpa sadar jadi teman ngobrol atau sekadar pengganjal lapar.
Di tengah banyaknya tren makanan yang datang dan pergi, putu cangkir justru menunjukkan hal sebaliknya.
Ia tidak perlu berubah total untuk tetap ada, cukup menyesuaikan sedikit, tanpa kehilangan rasa yang membuatnya dikenal sejak dulu. (Mg2)

