SulawesiPos.com – Makassar tidak hanya dikenal dengan coto, konro, atau pisang ijo. Di balik ragam kuliner basahnya, kota ini juga memiliki jajanan kering tradisional yang tak kalah khas, salah satunya Putu Kacang.
Kue kering ini telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat Makassar dan kerap hadir sebagai sajian tamu maupun oleh-oleh.
Putu Kacang merupakan penganan yang dibuat dari tepung kacang hijau yang dicampur dengan gula, kemudian dicetak dan dikeringkan.
Bentuknya beragam, mulai dari persegi panjang hingga bulat, dengan permukaan bermotif ukiran khas karena dibuat menggunakan cetakan khusus.
Keunikan lainnya, seluruh permukaan kue ini diselimuti gula pasir yang memberikan rasa manis sekaligus tekstur khas saat digigit.
Proses pembuatannya masih dilakukan secara tradisional. Setelah dicetak, putu kacang biasanya dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering.
Cara ini membuat kue memiliki daya simpan yang cukup lama dan cita rasa yang tetap terjaga.
Sesuai namanya, bahan utama putu kacang berasal dari kacang hijau kering yang ditumbuk hingga halus.
Kesederhanaan bahan dan ketelitian proses menjadikan kue ini memiliki karakter rasa yang lembut, manis, dan autentik.
Resep Putu Kacang
Putu kacang bisa dibuat dengan mudah hanya dengan dua bahan yaitu kacang hijau dan gula bubuk.
Berikut resep selengkapnya:
Bahan-bahan
- 1 kg kacang hijau
- ½ kg gula bubuk
Cara Membuat
- Sangrai kacang hijau selama kurang lebih 2 jam dengan api kecil. Pastikan tidak ada kacang yang hangus. Jika ada yang gosong, segera pisahkan dan buang. Sekali sangrai maksimal 2 kg kacang hijau.
- Setelah disangrai, dinginkan kacang hijau, lalu tumbuk hingga kulit arinya terlepas. Buang kulit kacang hijau tersebut.
- Kacang hijau yang sudah bersih kemudian diayak hingga menjadi tepung halus, lalu dikisar kembali agar teksturnya merata.
- Campurkan gula bubuk ke dalam tepung kacang hijau, aduk hingga tercampur sempurna.
- Cetak adonan menggunakan cetakan khusus, lalu panggang hingga kering. Tanda kue matang bukan pada bagian bawah yang kecokelatan. Jika bagian bawah berubah cokelat, berarti kue sudah hangus.
Dengan cita rasa sederhana namun khas, Putu Kacang menjadi bukti bahwa kuliner tradisional Makassar tidak hanya lezat, tetapi juga sarat nilai budaya dan kearifan lokal yang patut dilestarikan.

