27 C
Makassar
27 February 2026, 19:18 PM WITA

Bukan Cuma Lagi Viral, Ini Alasan Matcha Jadi Favorit Banyak Orang

SulawesiPos.com – Belakangan ini, warna hijau khas matcha seolah mengambil alih rak minuman di kafe hingga linimasa media sosial.

Dari es matcha latte sampai cake dan croffle rasa matcha, popularitasnya terus naik.

Banyak orang mulai mengganti kopi dengan matcha karena dianggap memberi energi lebih stabil dan terasa “lebih ringan” di tubuh.

Tapi di balik hype tersebut, muncul pertanyaan yang wajar: apakah matcha memang sebaik itu untuk kesehatan?

Bukan Teh Biasa

Matcha memang berasal dari tanaman teh yang sama dengan teh hijau, yaitu Camellia sinensis. Namun proses penanamannya berbeda.

Daun teh untuk matcha ditumbuhkan di bawah naungan agar kandungan klorofil dan asam aminonya meningkat.

Setelah dipanen, daun dikeringkan lalu digiling sangat halus hingga menjadi bubuk.

Perbedaannya ada di cara konsumsi. Jika teh hijau biasa hanya diminum air seduhannya, matcha diminum bersama seluruh bubuk daunnya.

Artinya, zat aktif yang masuk ke tubuh juga lebih banyak.

Tak heran jika sejak dulu matcha digunakan dalam tradisi minum teh Jepang. Kini, penyajiannya jauh lebih fleksibel, bisa panas, dingin, hingga diolah jadi campuran makanan.

Kenapa Banyak Orang Beralih ke Matcha?

Salah satu alasan utamanya adalah efek energinya. Matcha mengandung kafein, tetapi juga memiliki L-theanine, asam amino yang memberi sensasi rileks.

Kombinasi keduanya menciptakan kondisi “fokus tanpa tegang”. Energi terasa bertahan lebih lama dan tidak terlalu membuat jantung berdebar seperti kopi pada sebagian orang.

Selain itu, matcha dikenal kaya antioksidan, terutama katekin jenis EGCG. Antioksidan berperan melawan radikal bebas yang bisa merusak sel tubuh.

Inilah yang membuat matcha sering dikaitkan dengan pencegahan penyakit kronis dan penuaan dini.

Beberapa penelitian juga menunjukkan potensi manfaat lain, seperti:

  • Membantu menjaga kesehatan jantung
  • Mendukung metabolisme tubuh
  • Menunjang pembakaran kalori saat olahraga
  • Berkontribusi pada kestabilan mood

Meski demikian, klaim-klaim tersebut tetap perlu dilihat secara proporsional. Matcha bukan “minuman ajaib”, melainkan bagian dari pola hidup sehat secara keseluruhan.

Kandungan Nutrisi di Baliknya

Dalam satu sajian matcha, terdapat berbagai zat yang berperan bagi tubuh, antara lain:

  • Antioksidan (terutama EGCG)
  • Vitamin seperti A, C, E, dan K
  • Mineral termasuk zat besi dan magnesium
  • L-theanine
  • Serat alami

Karena dikonsumsi dalam bentuk utuh, kadar antioksidannya relatif lebih tinggi dibanding teh hijau seduhan biasa.

Ada Risiko Jika Berlebihan?

Meski punya reputasi sehat, matcha tetap mengandung kafein. Jika diminum terlalu banyak, bisa memicu sulit tidur, gelisah, atau gangguan lambung.

Kandungan katekin juga dapat mengganggu penyerapan zat besi jika dikonsumsi berlebihan, terutama pada orang yang rentan anemia.

Hal lain yang sering luput diperhatikan adalah kualitas produk.

Karena matcha dibuat dari daun utuh yang digiling, ada kemungkinan kandungan zat tertentu ikut terbawa jika bahan bakunya tidak terjaga dengan baik.

Itu sebabnya memilih produk berkualitas menjadi penting.

Batas aman konsumsi umumnya sekitar satu hingga dua cangkir per hari untuk orang dewasa sehat.

Cara Memilih Matcha yang Layak Dikonsumsi

Agar manfaatnya optimal, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan sebelum membeli:

  • Warna bubuk hijau cerah, bukan kusam
  • Tekstur sangat halus dan lembut
  • Komposisi murni tanpa campuran gula atau pewarna
  • Dikemas rapat untuk menghindari paparan udara dan cahaya
  • Memiliki informasi asal produksi yang jelas

Matcha berkualitas biasanya memiliki rasa lembut dengan sedikit pahit alami.

Jadi, Layak Dicoba?

Kalau dilihat dari kandungan nutrisinya, matcha memang punya potensi manfaat yang menarik.

Ia bisa menjadi alternatif minuman berkafein dengan efek yang lebih stabil bagi sebagian orang. Namun tetap, kuncinya ada pada keseimbangan.

Matcha bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat, asalkan dikonsumsi secukupnya dan tidak menggantikan kebutuhan nutrisi lain. Tren boleh diikuti, tapi tetap dengan kesadaran.

Pada akhirnya, bukan soal ikut arus atau tidak. Yang penting, tubuh tetap jadi prioritas utama.

SulawesiPos.com – Belakangan ini, warna hijau khas matcha seolah mengambil alih rak minuman di kafe hingga linimasa media sosial.

Dari es matcha latte sampai cake dan croffle rasa matcha, popularitasnya terus naik.

Banyak orang mulai mengganti kopi dengan matcha karena dianggap memberi energi lebih stabil dan terasa “lebih ringan” di tubuh.

Tapi di balik hype tersebut, muncul pertanyaan yang wajar: apakah matcha memang sebaik itu untuk kesehatan?

Bukan Teh Biasa

Matcha memang berasal dari tanaman teh yang sama dengan teh hijau, yaitu Camellia sinensis. Namun proses penanamannya berbeda.

Daun teh untuk matcha ditumbuhkan di bawah naungan agar kandungan klorofil dan asam aminonya meningkat.

Setelah dipanen, daun dikeringkan lalu digiling sangat halus hingga menjadi bubuk.

Perbedaannya ada di cara konsumsi. Jika teh hijau biasa hanya diminum air seduhannya, matcha diminum bersama seluruh bubuk daunnya.

Artinya, zat aktif yang masuk ke tubuh juga lebih banyak.

Tak heran jika sejak dulu matcha digunakan dalam tradisi minum teh Jepang. Kini, penyajiannya jauh lebih fleksibel, bisa panas, dingin, hingga diolah jadi campuran makanan.

Kenapa Banyak Orang Beralih ke Matcha?

Salah satu alasan utamanya adalah efek energinya. Matcha mengandung kafein, tetapi juga memiliki L-theanine, asam amino yang memberi sensasi rileks.

Kombinasi keduanya menciptakan kondisi “fokus tanpa tegang”. Energi terasa bertahan lebih lama dan tidak terlalu membuat jantung berdebar seperti kopi pada sebagian orang.

Selain itu, matcha dikenal kaya antioksidan, terutama katekin jenis EGCG. Antioksidan berperan melawan radikal bebas yang bisa merusak sel tubuh.

Inilah yang membuat matcha sering dikaitkan dengan pencegahan penyakit kronis dan penuaan dini.

Beberapa penelitian juga menunjukkan potensi manfaat lain, seperti:

  • Membantu menjaga kesehatan jantung
  • Mendukung metabolisme tubuh
  • Menunjang pembakaran kalori saat olahraga
  • Berkontribusi pada kestabilan mood

Meski demikian, klaim-klaim tersebut tetap perlu dilihat secara proporsional. Matcha bukan “minuman ajaib”, melainkan bagian dari pola hidup sehat secara keseluruhan.

Kandungan Nutrisi di Baliknya

Dalam satu sajian matcha, terdapat berbagai zat yang berperan bagi tubuh, antara lain:

  • Antioksidan (terutama EGCG)
  • Vitamin seperti A, C, E, dan K
  • Mineral termasuk zat besi dan magnesium
  • L-theanine
  • Serat alami

Karena dikonsumsi dalam bentuk utuh, kadar antioksidannya relatif lebih tinggi dibanding teh hijau seduhan biasa.

Ada Risiko Jika Berlebihan?

Meski punya reputasi sehat, matcha tetap mengandung kafein. Jika diminum terlalu banyak, bisa memicu sulit tidur, gelisah, atau gangguan lambung.

Kandungan katekin juga dapat mengganggu penyerapan zat besi jika dikonsumsi berlebihan, terutama pada orang yang rentan anemia.

Hal lain yang sering luput diperhatikan adalah kualitas produk.

Karena matcha dibuat dari daun utuh yang digiling, ada kemungkinan kandungan zat tertentu ikut terbawa jika bahan bakunya tidak terjaga dengan baik.

Itu sebabnya memilih produk berkualitas menjadi penting.

Batas aman konsumsi umumnya sekitar satu hingga dua cangkir per hari untuk orang dewasa sehat.

Cara Memilih Matcha yang Layak Dikonsumsi

Agar manfaatnya optimal, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan sebelum membeli:

  • Warna bubuk hijau cerah, bukan kusam
  • Tekstur sangat halus dan lembut
  • Komposisi murni tanpa campuran gula atau pewarna
  • Dikemas rapat untuk menghindari paparan udara dan cahaya
  • Memiliki informasi asal produksi yang jelas

Matcha berkualitas biasanya memiliki rasa lembut dengan sedikit pahit alami.

Jadi, Layak Dicoba?

Kalau dilihat dari kandungan nutrisinya, matcha memang punya potensi manfaat yang menarik.

Ia bisa menjadi alternatif minuman berkafein dengan efek yang lebih stabil bagi sebagian orang. Namun tetap, kuncinya ada pada keseimbangan.

Matcha bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat, asalkan dikonsumsi secukupnya dan tidak menggantikan kebutuhan nutrisi lain. Tren boleh diikuti, tapi tetap dengan kesadaran.

Pada akhirnya, bukan soal ikut arus atau tidak. Yang penting, tubuh tetap jadi prioritas utama.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/