Di balik itu semua, ada makna simbolik yang lebih dalam. Air mata sering dikaitkan dengan emosi.
Dalam konteks kuliner, “menangis” bisa dimaknai sebagai luapan rasa, entah haru, nostalgia, atau sekadar bahagia karena menikmati makanan hangat di malam hari.
Nama ini membuat putu menangis bukan hanya enak, tapi juga emosional.
Sederhana, Tapi Bikin Nagih
Secara bahan, putu menangis tergolong simpel. Adonannya terbuat dari tepung beras yang dibasahi hingga bertekstur lembut dan sedikit berbutir.
Adonan ini kemudian dimasukkan ke dalam cetakan silinder, biasanya berlubang di bagian tengah.
Bagian inti yang paling ditunggu tentu saja isiannya. Campuran gula merah atau gula aren dimasukkan ke tengah adonan, lalu ditutup lagi dengan lapisan tepung beras. Di atasnya ditambahkan parutan kelapa yang memberi sentuhan gurih.
Setelah itu, cetakan disusun di atas kukusan. Uap panas perlahan mematangkan adonan hingga mengembang dan padat.
Begitu matang, kue diangkat dalam kondisi masih hangat, ini momen terbaik untuk menikmatinya.
Teksturnya kenyal namun lembut. Begitu digigit, gula merah di dalamnya langsung meleleh dan menyebar di lidah.
Rasa manisnya tidak berlebihan, justru berpadu pas dengan gurihnya kelapa parut. Kombinasi ini menciptakan pengalaman rasa yang sederhana tapi memorable.

