24 C
Makassar
6 February 2026, 19:12 PM WITA

Putu Pesse’: Kue Ketan Tradisional yang Simple Dibuat Tanpa Proses Masak

Overview

  • Putu Pesse’ merupakan kue tradisional khas Sulawesi Selatan berbahan beras ketan sangrai, kelapa parut, dan gula dengan proses pembuatan sederhana tanpa dimasak ulang.
  • Kue ini dikenal sebagai palu oleh masyarakat Makassar dan putu pesse’ oleh orang Bugis, serta sejak lama menjadi bekal petani karena kaya karbohidrat.
  • Selain bernilai budaya, putu pesse’ juga memiliki kisah menarik sebagai camilan favorit Presiden ke-3 RI, BJ Habibie.

SulawesiPos.com – Putu Pesse’ merupakan salah satu penganan tradisional khas Sulawesi Selatan yang sederhana, namun sarat makna dan rasa.

Berdasarkan Ensiklopedia Kuliner Khas Sulawesi Selatan terbitan Kemdikbud RI, kue ini dikenal dengan sebutan palu oleh masyarakat Makassar, sementara orang Bugis menyebutnya putu pesse’.

Nama putu pesse’ berasal dari cara pembuatannya, yakni adonan dimasukkan ke dalam cetakan lalu dipadatkan menggunakan jempol, karena kata pesse’ berarti menekan dengan jempol.

Bahan utama kue ini adalah beras ketan yang disangrai hingga wangi, kemudian dihaluskan menjadi tepung bertekstur lembut dan aromatik.

Baca Juga: 
Bajabuk, Abon Ikan Khas Bugis-Makassar yang Pernah Jadi Bekal Wajib Jamaah Haji

Tepung ketan sangrai tersebut kemudian dicampur dengan kelapa parut serta gula aren atau gula pasir, menghasilkan perpaduan rasa manis legit dan gurih alami.

Menariknya, putu pesse’ tidak memerlukan proses pemasakan ulang karena tepung ketannya sudah matang sejak proses sangrai.

Di Tonrorita, Kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa, putu pesse’ dikenal sebagai bekal tradisional yang biasa dibawa petani ke sawah atau kebun.

Kandungan karbohidratnya yang tinggi menjadikan kue ini cocok sebagai sumber energi bagi mereka yang melakukan aktivitas fisik berat.

Overview

  • Putu Pesse’ merupakan kue tradisional khas Sulawesi Selatan berbahan beras ketan sangrai, kelapa parut, dan gula dengan proses pembuatan sederhana tanpa dimasak ulang.
  • Kue ini dikenal sebagai palu oleh masyarakat Makassar dan putu pesse’ oleh orang Bugis, serta sejak lama menjadi bekal petani karena kaya karbohidrat.
  • Selain bernilai budaya, putu pesse’ juga memiliki kisah menarik sebagai camilan favorit Presiden ke-3 RI, BJ Habibie.

SulawesiPos.com – Putu Pesse’ merupakan salah satu penganan tradisional khas Sulawesi Selatan yang sederhana, namun sarat makna dan rasa.

Berdasarkan Ensiklopedia Kuliner Khas Sulawesi Selatan terbitan Kemdikbud RI, kue ini dikenal dengan sebutan palu oleh masyarakat Makassar, sementara orang Bugis menyebutnya putu pesse’.

Nama putu pesse’ berasal dari cara pembuatannya, yakni adonan dimasukkan ke dalam cetakan lalu dipadatkan menggunakan jempol, karena kata pesse’ berarti menekan dengan jempol.

Bahan utama kue ini adalah beras ketan yang disangrai hingga wangi, kemudian dihaluskan menjadi tepung bertekstur lembut dan aromatik.

Baca Juga: 
Onde-Onde, Warisan Kuliner Bugis-Makassar yang Wajib Hadir di Acara Adat

Tepung ketan sangrai tersebut kemudian dicampur dengan kelapa parut serta gula aren atau gula pasir, menghasilkan perpaduan rasa manis legit dan gurih alami.

Menariknya, putu pesse’ tidak memerlukan proses pemasakan ulang karena tepung ketannya sudah matang sejak proses sangrai.

Di Tonrorita, Kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa, putu pesse’ dikenal sebagai bekal tradisional yang biasa dibawa petani ke sawah atau kebun.

Kandungan karbohidratnya yang tinggi menjadikan kue ini cocok sebagai sumber energi bagi mereka yang melakukan aktivitas fisik berat.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/