Overview
-
Buras adalah makanan tradisional Bugis-Makassar berbahan beras dan santan yang menjadi simbol kebersamaan dan kearifan lokal Sulawesi Selatan.
-
Hidangan ini hampir selalu hadir saat Idul Fitri dan Idul Adha, sekaligus dikenal sebagai bekal praktis untuk perjalanan jauh.
-
Di tengah modernisasi, buras tetap lestari dan kini hadir dengan kemasan lebih modern tanpa kehilangan cita rasa aslinya.
SulawesiPos.com – Di tanah Bugis-Makassar, makanan bukan sekadar pengganjal perut, tapi bagian dari cerita hidup.
Buras atau Burasa’ adalah salah satunya, hidangan tradisional yang hampir selalu hadir di momen penting, mulai dari lebaran, hajatan keluarga, hingga bekal perjalanan jauh.
Dibungkus daun pisang dan dimasak dengan santan, buras bukan cuma soal rasa gurih, tapi juga simbol kebersamaan dan kearifan lokal orang Sulawesi Selatan.
Apa Itu Buras?
Buras adalah makanan berbahan dasar beras yang dimasak dengan santan, kemudian dibungkus daun pisang dan diikat rapi menggunakan tali.
Sekilas, bentuknya mirip lontong, tetapi cita rasanya jauh lebih gurih karena proses pemasakan menggunakan santan.
Tekstur buras cenderung lebih lembut, pulen, dan kaya rasa. Inilah yang membedakannya dari lontong biasa.

