Pembuatan buras membutuhkan kesabaran. Beras dimasak setengah matang bersama santan dan garam, lalu dibungkus daun pisang.
Setelah itu, buras direbus kembali hingga matang sempurna. Proses inilah yang membuat rasa santan meresap kuat ke dalam nasi.
Dalam tradisi Bugis-Makassar, proses membuat buras sering dilakukan secara gotong royong, terutama menjelang hari besar keagamaan.
Makanan Wajib Saat Hari Raya
Buras selalu hadir saat Idul Fitri dan Idul Adha di Sulawesi Selatan. Kehadirannya menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan kepada tamu.
Tak hanya itu, buras juga sejak dulu dikenal sebagai bekal perjalanan jauh, karena tahan lama, praktis dibawa, dan mengenyangkan, menjadi teman setia masyarakat Bugis-Makassar saat merantau, melaut, atau menempuh perjalanan antarkampung.
Buras kerap dianggap sebagai makanan pokok suku Bugis yang menjadi pengganti nasi.
Biasanya, buras disajikan bersama:
- Opor ayam
- Coto Makassar
- Ayam kari
- Ayam goreng atau rendang khas Sulsel
- Konro
- Bakso dan masih banyak lagi.

