SulawesiPos.com – Pagi hari di Sulawesi Selatan tidak lengkap tanpa aroma hangat bassang.
Bayangkan bangun pagi, duduk santai sambil menyeruput teh hangat, lalu menikmati makanan tradisional yang sederhana tapi penuh rasa.
Itulah pengalaman sarapan ala Sulsel.
Bassang, meskipun tampak sederhana, menyimpan sejarah dan tradisi yang kaya di balik setiap gigitannya.
Bassang sudah ada sejak zaman dahulu sebagai sarapan sehari-hari masyarakat Bugis dan Makassar.
Dahulu, jagung pulut atau jagung ketan adalah bahan yang mudah didapat di pedesaan.
Masyarakat memanfaatkan bahan lokal ini untuk membuat makanan yang praktis, bernutrisi, dan bisa bertahan lama, terutama untuk memulai hari sebelum pergi bekerja atau bertani.
Selain menjadi makanan harian, bassang juga kerap hadir dalam acara adat dan tradisi lokal.
Makanan ini bukan sekadar pengisi perut, tetapi juga bagian dari identitas kuliner Sulawesi Selatan yang terus dilestarikan hingga sekarang.
Bassang biasanya disajikan hangat di pagi hari. Teksturnya yang lembut dan kenyal membuatnya nyaman dikunyah, sementara rasa manis alami dari jagung pulut menghadirkan sensasi sarapan yang sederhana tapi memuaskan.
Bassang mengandung beragam nutrisi yang membuatnya ideal sebagai menu sarapan.
Bubur tradisional ini kaya akan karbohidrat dan vitamin, dua zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh untuk memulai aktivitas sehari-hari.
Dengan mengonsumsinya di pagi hari, seseorang bisa mendapatkan energi yang cukup dari makanan tradisional ini.
Dalam penyajiannya, bassang bisa langsung disantap begitu saja atau dipadukan dengan gula pasir.
Namun, kini penjual bassang juga kerap mencampurkannya dengan susu bubuk untuk memberikan pilihan variasi rasa kepada konsumen.
Sayangnya, seiring perkembangan zaman, bassang mulai tergerus dan semakin jarang ditemukan.
Banyak generasi muda yang lebih memilih sarapan cepat dan modern, sementara pembuat bassang tradisional pun mulai berkurang.
Padahal, makanan ini menyimpan nilai sejarah dan budaya yang penting untuk dilestarikan.
Kini, menemukan bassang asli di pasar tradisional atau sarapan pagi Sulsel bukan hal yang mudah lagi.
Meski kini mulai jarang ditemukan, mencicipi bassang bukan hanya soal rasa, tetapi juga pengalaman merasakan warisan budaya dan tradisi leluhur secara langsung. (ayi)