Beras putih yang digiling atau ditumbuk halus dicampur dengan gula merah dan air, lalu diaduk hingga adonan encer dan rata.
Setelah itu, adonan dimasukkan ke dalam batok kelapa berbentuk timba yang bagian bawahnya dilubangi untuk tempat keluarnya adonan.
Adonan kemudian dituangkan ke dalam minyak kelapa panas di atas wajan hingga membentuk benang-benang yang saling bertaut.
Selama penggorengan, gula merah yang sudah dihaluskan ditaburkan di atas adonan hingga matang sebelum diangkat dari wajan.
Adonan yang sudah matang kemudian digulung, dan bannang-bannang pun siap untuk disajikan.
Bannang-bannang hingga kini tetap dilestarikan sebagai warisan kuliner Sulawesi Selatan dan simbol nilai budaya yang sarat filosofi tentang rumah tangga dan pernikahan. (tar)

