27 C
Makassar
18 January 2026, 17:35 PM WITA

Bannang-Bannang, Kue Tradisional Sulsel yang Sarat Makna Pernikahan

SulawesiPos.com – Di tengah kekayaan kuliner Nusantara, Sulawesi Selatan memiliki bannang-bannang, kue tradisional yang tidak hanya memanjakan lidah tetapi juga melambangkan manisnya pernikahan dan kehidupan berumah tangga.

Bannang-bannang merupakan makanan khas Sulawesi Selatan yang dalam bahasa Makassar disebut bannang-bannang dan dalam bahasa Bugis dikenal sebagai nennu’-nennu’.

Kue ini terbuat dari tepung beras dan gula merah dengan bentuk menyerupai benang kusut yang menjadi ciri khas utamanya.

Bannang-bannang menjadi salah satu kue yang selalu hadir dalam prosesi lamaran hingga pernikahan di Sulawesi Selatan.

Filosofi dan Makna Bannang-bannang

Bentuk benang kusut pada bannang-bannang memiliki makna bahwa manusia tidak perlu mempermasalahkan siapa dirinya atau asal-usulnya, selama perbuatannya mulia.

Bentuk benang yang saling terkait juga menggambarkan kehidupan rumah tangga atau pernikahan sebagai satu kesatuan yang menyatukan dua keluarga yang saling bekerja sama.

Semakin kusut benang, semakin sulit untuk diurai, yang melambangkan ikatan rumah tangga yang tidak mudah dipisahkan hingga maut memisahkan.

Rasa gurih dan manis yang dihasilkan dari bannang-bannang melambangkan harapan manisnya perjalanan pernikahan dan kehidupan berumah tangga.

Baca Juga: 
Poteng, Makanan Fermentasi Tradisional Khas Sulawesi Selatan yang Sehat

Proses Pembuatan Bannang-bannang

Bannang-bannang dibuat dari campuran beras putih yang sudah digiling atau ditumbuk halus, gula merah, air, dan minyak kelapa.

SulawesiPos.com – Di tengah kekayaan kuliner Nusantara, Sulawesi Selatan memiliki bannang-bannang, kue tradisional yang tidak hanya memanjakan lidah tetapi juga melambangkan manisnya pernikahan dan kehidupan berumah tangga.

Bannang-bannang merupakan makanan khas Sulawesi Selatan yang dalam bahasa Makassar disebut bannang-bannang dan dalam bahasa Bugis dikenal sebagai nennu’-nennu’.

Kue ini terbuat dari tepung beras dan gula merah dengan bentuk menyerupai benang kusut yang menjadi ciri khas utamanya.

Bannang-bannang menjadi salah satu kue yang selalu hadir dalam prosesi lamaran hingga pernikahan di Sulawesi Selatan.

Filosofi dan Makna Bannang-bannang

Bentuk benang kusut pada bannang-bannang memiliki makna bahwa manusia tidak perlu mempermasalahkan siapa dirinya atau asal-usulnya, selama perbuatannya mulia.

Bentuk benang yang saling terkait juga menggambarkan kehidupan rumah tangga atau pernikahan sebagai satu kesatuan yang menyatukan dua keluarga yang saling bekerja sama.

Semakin kusut benang, semakin sulit untuk diurai, yang melambangkan ikatan rumah tangga yang tidak mudah dipisahkan hingga maut memisahkan.

Rasa gurih dan manis yang dihasilkan dari bannang-bannang melambangkan harapan manisnya perjalanan pernikahan dan kehidupan berumah tangga.

Baca Juga: 
Sarabba, Minuman Hangat Khas Bugis yang Melekat dengan Budaya Makassar

Proses Pembuatan Bannang-bannang

Bannang-bannang dibuat dari campuran beras putih yang sudah digiling atau ditumbuk halus, gula merah, air, dan minyak kelapa.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/