Cara Makan Kapurung
Kapurung disantap dengan cara diseruput atau disendok langsung bersama kuah dan lauknya.
Bola-bola sagu tidak dikunyah seperti nasi, melainkan ditelan perlahan agar teksturnya yang kenyal terasa maksimal.
Sensasi hangat, asam segar, dan gurih membuat kapurung terasa ringan namun tetap mengenyangkan.
Dalam tradisi lokal, kapurung kerap disantap bersama-sama sebagai simbol kebersamaan, baik di rumah, acara keluarga, maupun hajatan adat.
Waktu Makan yang Paling Pas
Keunikan kapurung terletak pada perpaduan rasa asam, gurih, dan segar.
Kuahnya berasal dari ikan yang dimasak dengan asam jawa, ditambah aneka sayuran seperti kangkung, kacang panjang, dan jagung.
Kapurung cocok disantap kapan saja, namun paling nikmat dinikmati saat siang atau malam hari.
Banyak orang Sulsel menyantap kapurung saat cuaca dingin atau setelah beraktivitas seharian karena kuahnya yang hangat mampu memulihkan tenaga.
Untuk pengalaman makan yang lebih lengkap, kapurung biasanya ditemani dengan dange (olahan sagu kering yang dipanggang), ikan masak kuah kuning atau ikan bakar, ikan asin goreng, dan sambal khas Sulawesi Selatan
Kombinasi ini memperkaya tekstur dan rasa, dari kenyal, renyah, hingga gurih pedas.

