Categories: Kuliner

Sarabba, Minuman Hangat Khas Bugis yang Melekat dengan Budaya Makassar

SulawesiPos.com – Sarabba merupakan salah satu minuman tradisional khas masyarakat Bugis yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial di Sulawesi Selatan, khususnya di Kota Makassar.

Minuman berbahan dasar rempah ini dikenal luas sebagai penghangat tubuh yang cocok dinikmati pada malam hari atau saat cuaca dingin.

Tak heran, sarabba mudah dijumpai di berbagai sudut kota Makassar, bahkan hingga ke daerah lain di Sulawesi seperti Manado dan Kendari.

Di tengah hiruk-pikuk kota, menyeruput segelas sarabba hangat menjadi kebiasaan yang terasa akrab bagi masyarakat Makassar.

Sensasi pedas, manis, dan aromatik dari rempah-rempahnya menjadikan sarabba lebih dari sekadar minuman, ia adalah bagian dari identitas budaya.

Asal-usul Sarabba: Antara Gowa-Tallo dan Pengaruh Timur Tengah

Hingga kini, tidak ada catatan sejarah tunggal yang benar-benar memastikan asal-usul sarabba.

Sejumlah sumber menyebutkan bahwa minuman ini telah dikenal sejak abad ke-17 pada masa Kerajaan Gowa-Tallo, salah satu kerajaan Islam terbesar di Sulawesi Selatan.

Pada masa itu, penggunaan rempah-rempah dalam minuman dipercaya berkaitan erat dengan tradisi kesehatan dan spiritual.

Namun, ada pula pendapat lain yang menyatakan bahwa sarabba memiliki kemiripan dengan minuman hangat khas Arab Saudi, khususnya yang disajikan di Kota Makkah saat waktu berbuka puasa.

Kemiripan bahan dan fungsi sebagai penghangat tubuh memunculkan dugaan adanya pengaruh budaya Timur Tengah yang masuk melalui jalur perdagangan dan penyebaran Islam.

Komposisi Rempah dan Cita Rasa Khas Sarabba

Keistimewaan sarabba terletak pada racikan rempah-rempah alaminya.

Jahe menjadi bahan utama yang memberikan sensasi hangat dan pedas, berpadu dengan gula aren atau gula merah yang menghadirkan rasa manis alami.

Tambahan merica bubuk memperkuat rasa pedas, sementara santan memberikan tekstur lembut dan gurih.

Untuk memperkaya aroma, biasanya ditambahkan kayu manis, cengkeh, dan daun pandan.

Kombinasi inilah yang menghasilkan karakter rasa sarabba yang kuat, seimbang, dan khas, pedas di awal, manis di akhir, serta menghangatkan tubuh secara perlahan.

Varian Sarabba yang Populer di Makassar

Seiring waktu, sarabba berkembang dalam beberapa varian yang disesuaikan dengan selera masyarakat.

Umumnya, sarabba dijual dalam tiga jenis utama:

  • Sarabba Original, disajikan tanpa tambahan bahan lain, menonjolkan rasa rempah yang autentik.
  • Sarabba Telur, menggunakan tambahan kuning telur yang membuat teksturnya lebih kental dan dipercaya menambah stamina.
  • Sarabba Susu, dengan campuran susu yang memberi rasa lebih creamy dan ringan di lidah.

Masing-masing varian memiliki penggemar tersendiri dan kerap dijajakan di warung-warung tradisional hingga kaki lima.

Dalam keseharian masyarakat Bugis-Makassar, sarabba jarang dinikmati sendirian.

Minuman ini biasanya disantap bersama jajanan tradisional seperti pisang goreng, ubi goreng, pisang epe, atau kue apem.

Kombinasi sarabba hangat dan camilan goreng menciptakan pengalaman kuliner yang sederhana namun mengesankan, terutama saat malam hari.

Manfaat Sarabba bagi Kesehatan

Selain nikmat, sarabba juga dikenal memiliki berbagai manfaat kesehatan karena dibuat dari bahan-bahan alami.

Kandungan jahe membantu melancarkan peredaran darah, meredakan perut kembung, dan mengurangi sakit kepala atau migrain.

Gula aren berperan dalam meningkatkan energi dan membantu mencegah anemia.

Santan kelapa mengandung zat besi serta dipercaya membantu menjaga kesehatan kulit.

Efek hangat sarabba yang membuat tubuh berkeringat juga diyakini dapat membantu proses pemulihan saat tubuh kurang fit.

Karena tidak mengandung bahan kimia, sarabba relatif aman dikonsumsi tanpa efek samping berarti.

Bahan-Bahan Dasar Sarabba

Berikut bahan yang umum digunakan untuk membuat sarabba tradisional:

  1. 150 gram jahe, dikupas dan dibakar
  2. 100 gram gula aren
  3. 6 cm kayu manis
  4. 5 butir cengkeh
  5. 12 butir lada hitam
  6. 1 lembar daun pandan
  7. 600 ml air
  8. 65 ml santan kental instan

Di tengah gempuran minuman modern, sarabba tetap bertahan sebagai simbol kehangatan dan kearifan lokal masyarakat Bugis-Makassar.

Minuman ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga cerita, tradisi, dan kebersamaan.

Menikmati sarabba berarti ikut merasakan jejak budaya yang telah diwariskan lintas generasi di Sulawesi Selatan. (ayi)

Admin

Share
Published by
Admin
Tags: makanan sulsel minuman sulsel sarabba