24 C
Makassar
3 February 2026, 5:06 AM WITA

IHSG Menguat di Tengah Tekanan Global, Pasar Waspadai Isu Greenland

Overview

  • IHSG dibuka menguat pada perdagangan Selasa meski pasar saham Asia dan global masih berada di bawah tekanan.

  • Penguatan IHSG ditopang aliran dana asing ke saham perbankan besar dan emiten berkapitalisasi besar, namun potensi koreksi tetap membayangi karena indeks berada di zona ATH.

  • Pelaku pasar menyoroti RDG BI serta sentimen global yang tertekan akibat ancaman tarif AS ke Eropa terkait isu Greenland.

SulawesiPos.com – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Selasa (20/1/2026) menunjukkan tren positif, meski tekanan masih membayangi pasar saham kawasan Asia dan global.

IHSG dibuka menguat 22,32 poin atau 0,24 persen ke level 9.156,19. Namun, penguatan indeks utama tidak sepenuhnya diikuti 45 saham unggulan, tercermin dari indeks LQ45 yang justru terkoreksi 1,37 poin atau 0,15 persen ke posisi 891,75.

Dilansir dari Antara, Pengamat Pasar Modal Indonesia Reydi Octa, menilai pasar masih merespons positif prospek pelonggaran kebijakan moneter global, sementara stabilitas kebijakan domestik serta kinerja emiten berkapitalisasi besar tetap solid.

Baca Juga: 
Menkeu Purbaya Optimis Rupiah Menguat Dalam Dua Pekan

“Penguatan IHSG juga didukung oleh masuknya aliran dana asing yang cenderung terfokus pada saham-saham perbankan besar, dan emiten big cap lainnya, termasuk saham-saham konglomerasi yang kembali menjadi penopang,” jelasnya.

Meski demikian, Reydi mengingatkan pelaku pasar untuk tetap waspada. Saat ini IHSG berada di zona all time high (ATH), sehingga potensi koreksi terbuka lebar seiring valuasi pasar yang mulai dinilai mahal.

Keberlanjutan kinerja emiten akan menjadi faktor kunci dalam menjaga momentum penguatan.

“Karena IHSG sedang berada dalam zona ATH, sehingga rawan koreksi karena valuasi pasar yang mulai tinggi,” ujar Reydi.

Dari dalam negeri, fokus pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada Selasa (20/1/2026) dan Rabu (21/1/2026).

Bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75 persen, di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah.

Sementara itu, tekanan di pasar global masih terasa. Bursa saham Eropa dan Asia melemah pada perdagangan Senin (19/1/2026), meski Wall Street tidak beroperasi karena libur Martin Luther King Jr. Day.

Baca Juga: 
Ekonomi Kreatif Sumbang Rp24,4 Triliun ke PDB Selama Libur Nataru, Kuliner Jadi Penopang Utama

Overview

  • IHSG dibuka menguat pada perdagangan Selasa meski pasar saham Asia dan global masih berada di bawah tekanan.

  • Penguatan IHSG ditopang aliran dana asing ke saham perbankan besar dan emiten berkapitalisasi besar, namun potensi koreksi tetap membayangi karena indeks berada di zona ATH.

  • Pelaku pasar menyoroti RDG BI serta sentimen global yang tertekan akibat ancaman tarif AS ke Eropa terkait isu Greenland.

SulawesiPos.com – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Selasa (20/1/2026) menunjukkan tren positif, meski tekanan masih membayangi pasar saham kawasan Asia dan global.

IHSG dibuka menguat 22,32 poin atau 0,24 persen ke level 9.156,19. Namun, penguatan indeks utama tidak sepenuhnya diikuti 45 saham unggulan, tercermin dari indeks LQ45 yang justru terkoreksi 1,37 poin atau 0,15 persen ke posisi 891,75.

Dilansir dari Antara, Pengamat Pasar Modal Indonesia Reydi Octa, menilai pasar masih merespons positif prospek pelonggaran kebijakan moneter global, sementara stabilitas kebijakan domestik serta kinerja emiten berkapitalisasi besar tetap solid.

Baca Juga: 
Saat Pasar Bergejolak, Prajogo Pangestu Borong Saham CUAN Lebih dari Rp100 Miliar

“Penguatan IHSG juga didukung oleh masuknya aliran dana asing yang cenderung terfokus pada saham-saham perbankan besar, dan emiten big cap lainnya, termasuk saham-saham konglomerasi yang kembali menjadi penopang,” jelasnya.

Meski demikian, Reydi mengingatkan pelaku pasar untuk tetap waspada. Saat ini IHSG berada di zona all time high (ATH), sehingga potensi koreksi terbuka lebar seiring valuasi pasar yang mulai dinilai mahal.

Keberlanjutan kinerja emiten akan menjadi faktor kunci dalam menjaga momentum penguatan.

“Karena IHSG sedang berada dalam zona ATH, sehingga rawan koreksi karena valuasi pasar yang mulai tinggi,” ujar Reydi.

Dari dalam negeri, fokus pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada Selasa (20/1/2026) dan Rabu (21/1/2026).

Bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75 persen, di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah.

Sementara itu, tekanan di pasar global masih terasa. Bursa saham Eropa dan Asia melemah pada perdagangan Senin (19/1/2026), meski Wall Street tidak beroperasi karena libur Martin Luther King Jr. Day.

Baca Juga: 
Menlu Sugiono Beberkan Alasan Prabowo Tandatangani Piagam 'Board of Peace' Buatan Trump

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/