Overview
-
Filosofi “Touch this earth lightly” karya Glenn Murcutt menawarkan pendekatan arsitektur yang relevan dengan tantangan pembangunan ASEAN.
-
Pesatnya urbanisasi dan ancaman krisis iklim di Asia Tenggara menuntut desain bangunan yang adaptif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
-
Simposium arsitektur ASEAN menegaskan pentingnya kolaborasi regional dan pemanfaatan material modern seperti baja untuk masa depan arsitektur yang tangguh.
SulawesiPos.com – Di tengah percepatan pembangunan infrastruktur Asia Tenggara yang kian agresif mengejar pertumbuhan ekonomi, muncul pertanyaan mendasar: Bagaimana kita membangun tanpa merusak? Bagaimana arsitektur modern tetap menghormati identitas lokal sekaligus tangguh menghadapi krisis iklim?
Jawabannya mungkin terletak pada sebuah filosofi sederhana: “Touch this earth lightly” atau sentuhlah bumi ini dengan lembut.
Prinsip ini diperkenalkan oleh Glenn Murcutt, satu-satunya arsitek asal Australia peraih Pritzker Architecture Prize, penghargaan tertinggi dunia arsitektur.
Filosofi ini menjadi kompas bagi pergerakan arsitektur berkelanjutan di kawasan ASEAN.
Murcutt menegaskan bahwa bangunan yang baik bukan yang mendominasi alam, melainkan yang beradaptasi dengannya, menghormati budaya lokal, dan meninggalkan jejak karbon seminim mungkin.

