Dalam forum tersebut, Ar. Nick Sissons dari Glenn Murcutt Architecture Foundation Australia membedah bagaimana filosofi tersebut bisa diterjemahkan secara kontekstual di Asia Tenggara yang kaya akan keragaman budaya.
Simposium bertajuk “Shaping Resilient Futures: Heritage and Modernity in Steel Architectural Design,” itu menghadirkan sekitar 190 pakar arsitektur dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Australia.
Mereka berkumpul untuk satu misi: merumuskan masa depan arsitektur kawasan yang tidak hanya mengikuti tren global, tetapi juga berakar pada kearifan lokal.
Ar. Budi Pradono, arsitek senior Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) yang turut hadir, menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara.
“Kemitraan ini menegaskan vitalitas aliansi regional kita dan akan memotivasi komunitas arsitek ASEAN menuju pencapaian yang lebih berani dan berdampak,” ujarnya.
Sementara itu, Ar. Steve Woodland dari COX Architecture Australia yang menjadi keynote speaker dalam forum tersebut, turut membahas bagaimana teknologi material modern seperti baja berlapis bisa menjawab tantangan arsitektur masa depan yang semakin kompleks di masa depan.
Baja sebagai Medium, Bukan Tujuan
Salah satu gagasan menarik dari forum tersebut adalah pergeseran paradigma dalam memandang material baja.
Tidak lagi dipandang sebagai simbol modernitas yang monoton dan impersonal, baja kini dilihat sebagai medium untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yakni menciptakan harmonisasi yang selaras antara manusia dan alam.
Jenny Margiano, Country President PT NS BlueScope Indonesia, menjelaskan bahwa material baja modern memiliki karakteristik yang sejalan dengan kebutuhan arsitektur berkelanjutan.

