24 C
Makassar
18 January 2026, 20:04 PM WITA

Harga Minyak Dunia Bergerak Fluktuatif Akibat AS Serang Venezuela

SulawesiPos.com – Pasar energi global mengawali perdagangan pekan pertama Januari 2026 dengan tensi tinggi. Harga minyak dunia bergerak fluktuatif menyusul langkah drastis Amerika Serikat yang melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.

Meski insiden ini memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dalam menakar dampak jangka panjangnya terhadap stabilitas energi global.

Berdasarkan data pasar yang dihimpun Bloomberg pada Senin (05/01/2026), harga minyak mentah jenis Brent sempat mengalami tekanan jual hingga 1,2% pada awal sesi perdagangan.

Namun, sentimen tersebut segera terkoreksi, harga Brent berbalik arah dan menguat tipis 0,21% ke level US$60,88 per barel.

Pola serupa terjadi pada West Texas Intermediate (WTI) yang bergerak terbatas dengan kenaikan 0,09% di kisaran US$57,37 per barel.

Meskipun Venezuela berstatus sebagai salah satu pendiri OPEC, peran strategisnya dalam peta pasokan minyak dunia telah mengalami penurunan signifikan dalam dua dekade terakhir.

Produksi minyak nasional Venezuela yang terus merosot membuat kontribusinya kini berada di bawah 1% dari total pasokan minyak global.

Baca Juga: 
Trump Klaim Venezuela Akan Serahkan Puluhan Juta Barel Minyak ke Amerika Serikat

Saat ini, sebagian besar arus ekspor minyak mentah negara tersebut dialokasikan secara khusus untuk pasar China.

Kondisi ini membuat para analis menilai bahwa guncangan politik di Caracas tidak akan memberikan efek kejut yang berarti bagi keseimbangan pasar.

Kepala Ekonom Capital Economics Ltd., Neil Shearing menyatakan bahwa jika terjadi gangguan produksi jangka pendek di Venezuela, pasar global masih memiliki kapasitas cadangan dari wilayah lain untuk menutup celah tersebut.

“Pertumbuhan pasokan global dalam satu tahun ke depan justru berpotensi menjadi sentimen negatif yang menekan harga minyak hingga mendekati level US$50 per barel,” ungkap Shearing.

Dalam sebuah konferensi video virtual yang berlangsung singkat pada Minggu (04/01/2026), aliansi OPEC+ yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia memutuskan untuk tetap pada rencana awal, yaitu menahan kenaikan pasokan pada kuartal pertama tahun ini.

Menariknya, isu penangkapan Maduro sama sekali tidak masuk dalam agenda pembahasan. Para delegasi menilai bahwa terlalu dini untuk menetapkan respons pasar terhadap eskalasi politik di negara Amerika Latin tersebut.

Baca Juga: 
Daftar Harga BBM Terbaru di Seluruh SPBU per 14 Januari

Di sisi lain, laporan lapangan menunjukkan bahwa infrastruktur energi vital di Venezuela masih dalam kondisi stabil.

Pasca-serangan militer AS yang terjadi pada Sabtu (03/01/2026), fasilitas strategis seperti Pelabuhan Jose, kilang minyak Amuay, serta kawasan produksi di Sabuk Orinoco dilaporkan tidak mengalami kerusakan fisik yang signifikan.

Tekanan Washington terhadap rezim Maduro tetap berlanjut melalui penyitaan sejumlah kapal tanker minyak mentah, yang memaksa Venezuela menutup beberapa sumur produksinya.

Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa sanksi terhadap industri minyak Venezuela tidak akan dicabut dalam waktu dekat.

Namun, Trump juga memberikan sinyal bagi sektor swasta dengan menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika Serikat siap membantu membangun kembali infrastruktur energi Venezuela yang telah usang.

Visi ini disambut skeptis oleh para manajer investasi. Haris Khurshid, Chief Investment Officer Karobaar Capital LP, menekankan bahwa investasi masif dan pelonggaran sanksi tidak akan menghasilkan pemulihan produksi secara instan.

“Faktor kelebihan pasokan global saat ini masih jauh lebih dominan dibandingkan risiko geopolitik, sehingga potensi kenaikan harga minyak yang tajam akibat isu Venezuela menjadi sangat terbatas,” tutup Khurshid.

Baca Juga: 
Harga Emas Hari Ini di Makassar Menguat, Naik Rp27.000 per Gram

Di ranah diplomatik, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengisyaratkan bahwa Washington akan memanfaatkan ketergantungan Venezuela pada sektor minyak sebagai alat tawar politik.

Di sisi berlawanan, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino tetap berdiri teguh menuntut pembebasan Maduro, sembari menegaskan bahwa kepemimpinan sah tetap berada di tangan presiden yang kini berada dalam tahanan AS tersebut. (amh)

SulawesiPos.com – Pasar energi global mengawali perdagangan pekan pertama Januari 2026 dengan tensi tinggi. Harga minyak dunia bergerak fluktuatif menyusul langkah drastis Amerika Serikat yang melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.

Meski insiden ini memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dalam menakar dampak jangka panjangnya terhadap stabilitas energi global.

Berdasarkan data pasar yang dihimpun Bloomberg pada Senin (05/01/2026), harga minyak mentah jenis Brent sempat mengalami tekanan jual hingga 1,2% pada awal sesi perdagangan.

Namun, sentimen tersebut segera terkoreksi, harga Brent berbalik arah dan menguat tipis 0,21% ke level US$60,88 per barel.

Pola serupa terjadi pada West Texas Intermediate (WTI) yang bergerak terbatas dengan kenaikan 0,09% di kisaran US$57,37 per barel.

Meskipun Venezuela berstatus sebagai salah satu pendiri OPEC, peran strategisnya dalam peta pasokan minyak dunia telah mengalami penurunan signifikan dalam dua dekade terakhir.

Produksi minyak nasional Venezuela yang terus merosot membuat kontribusinya kini berada di bawah 1% dari total pasokan minyak global.

Baca Juga: 
Harga Emas Hari Ini di Makassar Menguat, Naik Rp27.000 per Gram

Saat ini, sebagian besar arus ekspor minyak mentah negara tersebut dialokasikan secara khusus untuk pasar China.

Kondisi ini membuat para analis menilai bahwa guncangan politik di Caracas tidak akan memberikan efek kejut yang berarti bagi keseimbangan pasar.

Kepala Ekonom Capital Economics Ltd., Neil Shearing menyatakan bahwa jika terjadi gangguan produksi jangka pendek di Venezuela, pasar global masih memiliki kapasitas cadangan dari wilayah lain untuk menutup celah tersebut.

“Pertumbuhan pasokan global dalam satu tahun ke depan justru berpotensi menjadi sentimen negatif yang menekan harga minyak hingga mendekati level US$50 per barel,” ungkap Shearing.

Dalam sebuah konferensi video virtual yang berlangsung singkat pada Minggu (04/01/2026), aliansi OPEC+ yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia memutuskan untuk tetap pada rencana awal, yaitu menahan kenaikan pasokan pada kuartal pertama tahun ini.

Menariknya, isu penangkapan Maduro sama sekali tidak masuk dalam agenda pembahasan. Para delegasi menilai bahwa terlalu dini untuk menetapkan respons pasar terhadap eskalasi politik di negara Amerika Latin tersebut.

Baca Juga: 
Daftar Harga BBM Terbaru di Seluruh SPBU per 14 Januari

Di sisi lain, laporan lapangan menunjukkan bahwa infrastruktur energi vital di Venezuela masih dalam kondisi stabil.

Pasca-serangan militer AS yang terjadi pada Sabtu (03/01/2026), fasilitas strategis seperti Pelabuhan Jose, kilang minyak Amuay, serta kawasan produksi di Sabuk Orinoco dilaporkan tidak mengalami kerusakan fisik yang signifikan.

Tekanan Washington terhadap rezim Maduro tetap berlanjut melalui penyitaan sejumlah kapal tanker minyak mentah, yang memaksa Venezuela menutup beberapa sumur produksinya.

Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa sanksi terhadap industri minyak Venezuela tidak akan dicabut dalam waktu dekat.

Namun, Trump juga memberikan sinyal bagi sektor swasta dengan menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika Serikat siap membantu membangun kembali infrastruktur energi Venezuela yang telah usang.

Visi ini disambut skeptis oleh para manajer investasi. Haris Khurshid, Chief Investment Officer Karobaar Capital LP, menekankan bahwa investasi masif dan pelonggaran sanksi tidak akan menghasilkan pemulihan produksi secara instan.

“Faktor kelebihan pasokan global saat ini masih jauh lebih dominan dibandingkan risiko geopolitik, sehingga potensi kenaikan harga minyak yang tajam akibat isu Venezuela menjadi sangat terbatas,” tutup Khurshid.

Baca Juga: 
Anggota Komisi I Ingatkan AS dan Venezuela Untuk Patuhi Hukum Internasional

Di ranah diplomatik, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengisyaratkan bahwa Washington akan memanfaatkan ketergantungan Venezuela pada sektor minyak sebagai alat tawar politik.

Di sisi berlawanan, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino tetap berdiri teguh menuntut pembebasan Maduro, sembari menegaskan bahwa kepemimpinan sah tetap berada di tangan presiden yang kini berada dalam tahanan AS tersebut. (amh)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/