Hal ini menyebabkan pengusaha skala menengah sering kali luput dari skema bantuan maupun penguatan regulasi.
Padahal, sektor menengah memiliki peran vital sebagai penyerap tenaga kerja massal dan bagian penting dari rantai pasok industri nasional.
“Pengusaha menengah ini sering berada di wilayah abu-abu. Tidak lagi kecil, tapi belum besar. Padahal mereka adalah tulang punggung ekonomi, pencipta lapangan kerja, dan jembatan penting bagi UMKM untuk naik kelas,” ucap dia.
Di sisi lain, Hipmi melihat melesatnya IHSG di awal tahun sebagai bukti nyata kepercayaan investor internasional terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Anthony memberikan apresiasi kepada Menteri Keuangan atas konsistensinya dalam menjaga kebijakan fiskal yang disiplin.
Hal ini dianggap sebagai modal utama bagi pelaku usaha untuk berani mengambil risiko dalam meningkatkan kapasitas produksi.
“Ini fondasi penting agar pengusaha, terutama di sektor menengah dan UMKM, berani berinvestasi dan melakukan ekspansi,” kata Anthony.
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan pada Jumat (2/1/2026) kemarin, IHSG Bursa Efek Indonesia mencatatkan kinerja gemilang dengan kenaikan sebesar 1,17 persen atau bertambah 101,19 poin, berakhir di level 8.748,13.
Pergerakan positif ini juga diikuti oleh indeks saham-saham unggulan (LQ45) yang merangkak naik ke posisi 852,00.
Angka-angka ini menjadi sinyal kuat bahwa sentimen pasar terhadap arah kebijakan ekonomi jangka menengah dan panjang Indonesia berada pada jalur yang tepat. (amh)

