SulawesiPos.com – Dua jalan akumulasi modal global di 2025: Amerika bertumpu pada platform, China mengandalkan negara.
Di tengah perlambatan ekonomi global dan ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya mereda, lanskap akumulasi modal dunia pada 2025 memperlihatkan satu kenyataan penting: jarak antara Amerika Serikat dan China bukan semata soal angka, melainkan soal arsitektur ekonomi.
Perbandingan terhadap 20 perusahaan terbesar di kedua negara menunjukkan kontras yang mencolok.
Total nilai pasar raksasa korporasi Amerika Serikat mencapai sekitar 30,5 triliun dolar AS, lebih dari enam kali lipat nilai gabungan perusahaan-perusahaan teratas China yang berada di kisaran 4,7 triliun dolar AS.
Namun, kesenjangan ini tidak hanya mencerminkan perbedaan skala ekonomi, melainkan juga menyingkap dua logika pembangunan kapitalisme yang berjalan berlawanan arah.
Di Amerika Serikat, akumulasi modal terkonsentrasi pada segelintir perusahaan teknologi berbasis platform.
Raksasa digital ini membangun kekuatan ekonomi melalui skala global, eksploitasi data, kecerdasan buatan, dan inovasi berkelanjutan.
Model bisnis mereka bertumpu pada jaringan lintas negara, dominasi ekosistem digital, dan kemampuan mengubah pengguna menjadi sumber nilai ekonomi jangka panjang.
Kapitalisme yang bekerja di sini bersifat pasar-sentris dan platform-driven, dengan ekspansi global sebagai prasyarat utama pertumbuhan.
Sebaliknya, perusahaan-perusahaan terkemuka China memperlihatkan pola yang berbeda.
Akumulasi modal terbesar masih berpusat pada sektor keuangan, energi, infrastruktur, dan industri strategis—sektor yang secara historis berada dalam pengaruh kuat negara.
Alih-alih mengejar dominasi platform global secara agresif, perusahaan China menunjukkan bahwa pertumbuhan kapital tetap ditambatkan pada kerangka institusional nasional dan pasar domestik yang besar.
Perbedaan ini mencerminkan dua paradigma pembangunan ekonomi. Amerika Serikat merepresentasikan kapitalisme platform yang berorientasi pasar, di mana negara berperan minimal dalam pengaturan langsung korporasi, sementara inovasi dan ekspansi global menjadi mesin utama pertumbuhan.
China, sebaliknya, mempertahankan logika pembangunan institusional-negara, dengan intervensi kebijakan, pengendalian sektor strategis, dan stabilitas domestik sebagai fondasi akumulasi modal.
Dalam konteks ini, divergensi ekonomi Amerika Serikat dan China pada 2025 bukan sekadar persaingan korporasi, melainkan pertarungan dua model kapitalisme global.
Yang satu mengandalkan pasar dan platform sebagai lokomotif nilai, yang lain menegaskan peran negara dan institusi sebagai jangkar pembangunan.
Bagaimana kedua model ini akan bertahan di tengah disrupsi teknologi, fragmentasi geopolitik, dan krisis iklim global, masih menjadi pertanyaan besar yang akan menentukan arah ekonomi dunia dalam dekade mendatang. (Ali)