27 C
Makassar
18 January 2026, 19:09 PM WITA

Kaleidoskop Perekonomian Nasional 2025

SulawesiPos.com – Sepanjang 2025, ekonomi Indonesia bergerak dinamis di tengah penyesuaian kebijakan fiskal, tekanan daya beli, dan ambisi pembangunan jangka panjang.

Berikut liku-liku perjalanan perekonomian Indonesia sepanjang tahun 2025.

  • Januari: Guncangan PPN 12%

Tahun 2025 dibuka dengan pemberlakuan resmi kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen.

Kebijakan ini segera terasa di kantong masyarakat, tercermin dari kenaikan harga barang dan jasa, mulai dari elektronik hingga langganan layanan digital.

Narasi “ikat pinggang” menguat, terutama di kalangan kelas menengah yang mulai menahan konsumsi.

  • Februari: Kick-off Makan Bergizi Gratis (MBG)

Perhatian publik bergeser ke realisasi Program Makan Bergizi Gratis. Tren utama bulan ini adalah penguatan rantai pasok lokal.

Koperasi dan UMKM daerah mulai terlibat sebagai pemasok bahan pangan, memicu perputaran ekonomi di tingkat desa dan kecamatan.

  • Maret: Inflasi Ramadan dan Tekanan Pangan

Memasuki bulan suci Ramadan, stabilitas harga pangan kembali menjadi sorotan.

Pemerintah menggelontorkan intervensi pasar berskala besar untuk menekan harga beras dan minyak goreng.

Baca Juga: 
Sri Mulyani Jadi Dewan Direksi Gates Foundation, CEO Yayasan: Ia Punya Pengalaman Membentuk Ekonomi Yang Adil

Isu ketahanan pangan pun mendominasi pemberitaan ekonomi nasional.

  • April: Lonjakan Konsumsi Lebaran dan Arus Mudik

Aktivitas ekonomi bergerak kencang seiring momentum Lebaran.

Sektor transportasi dan pariwisata menikmati lonjakan permintaan, sementara arus mudik mendorong perputaran uang di daerah.

Di saat yang sama, transaksi ekonomi digital melalui e-wallet dan belanja daring mencetak rekor baru.

  • Mei: Hilirisasi dan Investasi Teknologi

Rilis data kuartal I menunjukkan realisasi investasi yang solid, terutama di sektor hilirisasi mineral dan teknologi.

Sejumlah produsen kendaraan listrik asing, seperti BYD, memperluas fasilitas produksinya, mempertegas posisi Indonesia sebagai calon pusat industri kendaraan listrik regional.

  • Juni: Fenomena “Rohana” dan “Rojali”

Perilaku konsumsi baru muncul di pusat perbelanjaan: Rohana (rombongan hanya nanya) dan Rojali (rombongan jarang beli).

Fenomena ini menjadi cermin tekanan daya beli kelas menengah akibat akumulasi inflasi dan kenaikan pajak, meski indikator makroekonomi masih terlihat stabil.

  • Juli: Suku Bunga dan Stabilitas Rupiah

Isu moneter kembali mengemuka. Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi perhatian utama.

Baca Juga: 
Ekonomi Indonesia Tetap Melaju Saat Asia Melambat, Bank Dunia Soroti Peran Stimulus Negara

Seiring kebijakan suku bunga Bank Sentral AS yang memengaruhi langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas dan daya tarik pasar keuangan domestik.

  • Agustus: IKN dan Arah Baru Pertumbuhan

Peringatan HUT RI di Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi panggung ekonomi Kalimantan.

Investasi di sektor properti dan jasa di sekitar IKN melonjak, menandai pergeseran fokus pembangunan nasional yang kian menjauh dari pola Jawa-sentris.

  • September: Pergantian Menkeu

Pada September, sorotan ekonomi nasional mengarah pada pergantian Menteri Keuangan yang memicu perhatian pasar terhadap arah kebijakan fiskal ke depan.

Isu keberlanjutan APBN menjadi titik tekan, tercermin dari langkah pemerintah memperketat kriteria penerima BBM subsidi agar belanja negara lebih tepat sasaran.

  • Oktober: Setahun Pemerintahan Baru

Satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo menjadi momen evaluasi.

Publik menimbang capaian dan tantangan ekonomi melalui rapor merah-hijau, terutama terkait target pertumbuhan 5 persen serta dampak program strategis terhadap kemiskinan dan pengangguran.

  • November: Wacana Redenominasi Rupiah Mengemuka

Memasuki November, wacana redenominasi rupiah kembali mencuat dan menyita perhatian publik.

Baca Juga: 
Harga Emas Antam di Makassar Turun Tipis Hari Ini, Jadi Segini!

Isu ini memantik perdebatan luas, mulai dari kesiapan sistem keuangan, dampaknya terhadap psikologis masyarakat, hingga potensi risiko inflasi.

Pemerintah dan Bank Indonesia menegaskan bahwa redenominasi bukan pemangkasan nilai uang, melainkan penyederhanaan nominal, namun keraguan publik menunjukkan bahwa stabilitas kepercayaan masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam pengelolaan kebijakan moneter.

  • Desember: Penutup Tahun dan Outlook 2026

Tahun ditutup dengan optimisme di sektor pariwisata dan konsumsi akhir tahun.

Tren pengelolaan keuangan keluarga berbasis digital kian menguat, tercermin dari penguatan IHSG, serta kenaikan harga emas dan perak yang sejalan dengan meningkatnya minat masyarakat pada instrumen investasi modern.

Fenomena ini mencerminkan upaya publik menyiapkan bantalan finansial menghadapi tantangan ekonomi 2026 yang diperkirakan semakin kompleks.

SulawesiPos.com – Sepanjang 2025, ekonomi Indonesia bergerak dinamis di tengah penyesuaian kebijakan fiskal, tekanan daya beli, dan ambisi pembangunan jangka panjang.

Berikut liku-liku perjalanan perekonomian Indonesia sepanjang tahun 2025.

  • Januari: Guncangan PPN 12%

Tahun 2025 dibuka dengan pemberlakuan resmi kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen.

Kebijakan ini segera terasa di kantong masyarakat, tercermin dari kenaikan harga barang dan jasa, mulai dari elektronik hingga langganan layanan digital.

Narasi “ikat pinggang” menguat, terutama di kalangan kelas menengah yang mulai menahan konsumsi.

  • Februari: Kick-off Makan Bergizi Gratis (MBG)

Perhatian publik bergeser ke realisasi Program Makan Bergizi Gratis. Tren utama bulan ini adalah penguatan rantai pasok lokal.

Koperasi dan UMKM daerah mulai terlibat sebagai pemasok bahan pangan, memicu perputaran ekonomi di tingkat desa dan kecamatan.

  • Maret: Inflasi Ramadan dan Tekanan Pangan

Memasuki bulan suci Ramadan, stabilitas harga pangan kembali menjadi sorotan.

Pemerintah menggelontorkan intervensi pasar berskala besar untuk menekan harga beras dan minyak goreng.

Baca Juga: 
Awal 2026 Harga Emas dan Perak Mulai Stabil Usai Tekanan Akhir Tahun

Isu ketahanan pangan pun mendominasi pemberitaan ekonomi nasional.

  • April: Lonjakan Konsumsi Lebaran dan Arus Mudik

Aktivitas ekonomi bergerak kencang seiring momentum Lebaran.

Sektor transportasi dan pariwisata menikmati lonjakan permintaan, sementara arus mudik mendorong perputaran uang di daerah.

Di saat yang sama, transaksi ekonomi digital melalui e-wallet dan belanja daring mencetak rekor baru.

  • Mei: Hilirisasi dan Investasi Teknologi

Rilis data kuartal I menunjukkan realisasi investasi yang solid, terutama di sektor hilirisasi mineral dan teknologi.

Sejumlah produsen kendaraan listrik asing, seperti BYD, memperluas fasilitas produksinya, mempertegas posisi Indonesia sebagai calon pusat industri kendaraan listrik regional.

  • Juni: Fenomena “Rohana” dan “Rojali”

Perilaku konsumsi baru muncul di pusat perbelanjaan: Rohana (rombongan hanya nanya) dan Rojali (rombongan jarang beli).

Fenomena ini menjadi cermin tekanan daya beli kelas menengah akibat akumulasi inflasi dan kenaikan pajak, meski indikator makroekonomi masih terlihat stabil.

  • Juli: Suku Bunga dan Stabilitas Rupiah

Isu moneter kembali mengemuka. Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi perhatian utama.

Baca Juga: 
Sri Mulyani Jadi Dewan Direksi Gates Foundation, CEO Yayasan: Ia Punya Pengalaman Membentuk Ekonomi Yang Adil

Seiring kebijakan suku bunga Bank Sentral AS yang memengaruhi langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas dan daya tarik pasar keuangan domestik.

  • Agustus: IKN dan Arah Baru Pertumbuhan

Peringatan HUT RI di Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi panggung ekonomi Kalimantan.

Investasi di sektor properti dan jasa di sekitar IKN melonjak, menandai pergeseran fokus pembangunan nasional yang kian menjauh dari pola Jawa-sentris.

  • September: Pergantian Menkeu

Pada September, sorotan ekonomi nasional mengarah pada pergantian Menteri Keuangan yang memicu perhatian pasar terhadap arah kebijakan fiskal ke depan.

Isu keberlanjutan APBN menjadi titik tekan, tercermin dari langkah pemerintah memperketat kriteria penerima BBM subsidi agar belanja negara lebih tepat sasaran.

  • Oktober: Setahun Pemerintahan Baru

Satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo menjadi momen evaluasi.

Publik menimbang capaian dan tantangan ekonomi melalui rapor merah-hijau, terutama terkait target pertumbuhan 5 persen serta dampak program strategis terhadap kemiskinan dan pengangguran.

  • November: Wacana Redenominasi Rupiah Mengemuka

Memasuki November, wacana redenominasi rupiah kembali mencuat dan menyita perhatian publik.

Baca Juga: 
Harga Emas Antam di Makassar Hari Ini Stagnan di Rp2,4 Juta per Gram

Isu ini memantik perdebatan luas, mulai dari kesiapan sistem keuangan, dampaknya terhadap psikologis masyarakat, hingga potensi risiko inflasi.

Pemerintah dan Bank Indonesia menegaskan bahwa redenominasi bukan pemangkasan nilai uang, melainkan penyederhanaan nominal, namun keraguan publik menunjukkan bahwa stabilitas kepercayaan masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam pengelolaan kebijakan moneter.

  • Desember: Penutup Tahun dan Outlook 2026

Tahun ditutup dengan optimisme di sektor pariwisata dan konsumsi akhir tahun.

Tren pengelolaan keuangan keluarga berbasis digital kian menguat, tercermin dari penguatan IHSG, serta kenaikan harga emas dan perak yang sejalan dengan meningkatnya minat masyarakat pada instrumen investasi modern.

Fenomena ini mencerminkan upaya publik menyiapkan bantalan finansial menghadapi tantangan ekonomi 2026 yang diperkirakan semakin kompleks.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/