24 C
Makassar
6 February 2026, 21:08 PM WITA

Kenalan dengan Roko-Roko Cangkuning, Kue Segitiga Tradisional Makassar

Overview

  • Roko-Roko Cangkuning adalah kue tradisional Makassar berbentuk segitiga dengan isian kelapa parut dan gula merah.
  • Kue ini memiliki makna budaya, melambangkan harapan atau cita-cita (pakminasa), dan biasanya hadir di pesta atau ritual adat.
  • Selain sebagai suguhan acara, kue ini juga praktis dijadikan cemilan sehari-hari, termasuk bekal para petani di sawah.

SulawesiPos.com – Kalau kamu lagi ngobrolin kue tradisional Makassar, nggak lengkap rasanya kalau belum kenal roko-roko Cangkuning.

Kue ini punya bentuk unik, rasa manis gurih, dan sejarah budaya yang kuat. Selain enak, kue ini juga sarat symbol, makanya selalu hadir di momen penting masyarakat Sulawesi Selatan.

Bentuk dan Filosofi

Salah satu hal paling khas dari roko-roko Cangkuning adalah bentuknya yang menyerupai piramida atau segitiga runcing di atas.

Bentuk runcing ini bukan sekadar estetik, tapi punya makna filosofis dalam budaya Makassar.

Bagian atas yang runcing melambangkan harapan atau cita-cita, yang dalam bahasa lokal disebut pakminasa.

Beda dengan roko-roko unti yang biasanya diisi pisang, Cangkuning diisi parutan kelapa dan gula merah.

Baca Juga: 
Cucuruk Bayao, Kue Manis Khas Makassar yang Selalu Hadir di Acara Adat

Kombinasi rasa manis dan gurih ini bikin kue tradisional ini gampang diterima semua kalangan, dari anak-anak sampai orang tua.

Bentuk Penyajian

Roko-roko Cangkuning biasanya muncul di perayaan adat, mulai dari pesta pernikahan, sunatan, hingga akikah.

Sebuah pesta di Sulsel sering terasa kurang lengkap jika kue ini tidak hadir. Biasanya kue disusun dalam bosarak, wadah tradisional khas Makassar.

Selain itu, kue ini juga punya sisi praktis. Dulu, para petani sering membawa roko-roko Cangkuning ke sawah sebagai bekal ringan saat istirahat.

Overview

  • Roko-Roko Cangkuning adalah kue tradisional Makassar berbentuk segitiga dengan isian kelapa parut dan gula merah.
  • Kue ini memiliki makna budaya, melambangkan harapan atau cita-cita (pakminasa), dan biasanya hadir di pesta atau ritual adat.
  • Selain sebagai suguhan acara, kue ini juga praktis dijadikan cemilan sehari-hari, termasuk bekal para petani di sawah.

SulawesiPos.com – Kalau kamu lagi ngobrolin kue tradisional Makassar, nggak lengkap rasanya kalau belum kenal roko-roko Cangkuning.

Kue ini punya bentuk unik, rasa manis gurih, dan sejarah budaya yang kuat. Selain enak, kue ini juga sarat symbol, makanya selalu hadir di momen penting masyarakat Sulawesi Selatan.

Bentuk dan Filosofi

Salah satu hal paling khas dari roko-roko Cangkuning adalah bentuknya yang menyerupai piramida atau segitiga runcing di atas.

Bentuk runcing ini bukan sekadar estetik, tapi punya makna filosofis dalam budaya Makassar.

Bagian atas yang runcing melambangkan harapan atau cita-cita, yang dalam bahasa lokal disebut pakminasa.

Beda dengan roko-roko unti yang biasanya diisi pisang, Cangkuning diisi parutan kelapa dan gula merah.

Baca Juga: 
Katirisala, Kue Legit Bugis yang Lahir dari Sebuah “Kesalahan Manis”

Kombinasi rasa manis dan gurih ini bikin kue tradisional ini gampang diterima semua kalangan, dari anak-anak sampai orang tua.

Bentuk Penyajian

Roko-roko Cangkuning biasanya muncul di perayaan adat, mulai dari pesta pernikahan, sunatan, hingga akikah.

Sebuah pesta di Sulsel sering terasa kurang lengkap jika kue ini tidak hadir. Biasanya kue disusun dalam bosarak, wadah tradisional khas Makassar.

Selain itu, kue ini juga punya sisi praktis. Dulu, para petani sering membawa roko-roko Cangkuning ke sawah sebagai bekal ringan saat istirahat.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/