27 C
Makassar
18 January 2026, 18:30 PM WITA

Iran Menjadi Negara Pertama yang Berhasil Mematikan Jaringan Starlink

Untuk pertama kalinya dalam sejarah teknologi global, Iran tercatat sebagai negara pertama di dunia yang berhasil mematikan jaringan internet satelit Starlink secara sistematis, menandai babak baru dalam strategi pemadaman komunikasi digital negara modern.

Laporan Sky News menyebutkan bahwa pemadaman internet yang diberlakukan pemerintah Iran sejak Kamis malam, 8 Januari 2026, tidak lagi bersifat kasar seperti sebelumnya, melainkan jauh lebih presisi dan selektif, dengan tetap memungkinkan komunikasi terbatas bagi institusi negara (Sky News, 12 Januari 2026).

Berbeda dengan pemadaman total pada tahun-tahun sebelumnya, kali ini pemerintah Iran masih dapat berkomunikasi secara daring, sementara media pemerintah IRIB merilis daftar situs yang tetap dapat diakses publik, termasuk mesin pencari domestik, aplikasi peta lokal, dan kantor berita negara (Sky News, 12 Januari 2026).

Namun yang paling mengejutkan komunitas internasional adalah keberhasilan Iran menutup akses Starlink, jaringan satelit orbit rendah milik SpaceX, yang sebelumnya menjadi penyelamat komunikasi warga Iran saat protes besar 2022 menyusul kematian Mahsa Amini.

Baca Juga: 
Israel Siaga Tinggi Mengantisipasi Intervensi AS di Iran

Meski perangkat Starlink secara hukum tidak terdaftar di Iran, jaringan ini telah lama digunakan secara luas sebagai jalur komunikasi alternatif, hingga akhirnya pada Kamis malam lalu aktivitas Starlink di Iran anjlok drastis, sejajar dengan runtuhnya akses internet konvensional (Sky News, 12 Januari 2026).

Kelompok distribusi Starlink di Iran yang dikenal sebagai NasNet mengonfirmasi adanya gangguan berat akibat jamming dan kehilangan paket data, meski mereka mengklaim berhasil menurunkan tingkat packet loss dari sekitar 35 persen menjadi mendekati 10 persen melalui pembaruan perangkat lunak terbaru, seraya mengingatkan bahwa situasi ini adalah “permainan kucing dan tikus” yang bisa memburuk kembali sewaktu-waktu (Sky News, 12 Januari 2026).

Peta gangguan GPS yang dianalisis pada hari Kamis menunjukkan jamming intensif di sekitar Teheran, menguatkan dugaan bahwa Iran menggunakan peperangan elektronik darat untuk membutakan terminal Starlink dengan mengacaukan sinyal navigasi GPS yang dibutuhkan antena satelit untuk bekerja secara presisi.

Analisis mendalam The Guardian menyebut pemadaman ini sebagai “tonggak baru yang mengkhawatirkan” dalam sejarah sensor digital, karena berskala nasional sekaligus selektif, memungkinkan negara tetap beroperasi sambil memutus total komunikasi publik (The Guardian, 10 Januari 2026).

Baca Juga: 
Mentan Amran: Swasembada Pangan Jadi Kinerja Terbaik Kabinet Merah Putih, Berkat Gagasan Presiden dan Petani

Pakar hak digital Iran, Amir Rashidi, menyatakan bahwa sekitar 90 persen lalu lintas internet internasional Iran menguap dalam hitungan jam, sementara panggilan internasional terblokir dan ponsel domestik kehilangan sinyal sepenuhnya, termasuk di Teheran (The Guardian, 10 Januari 2026).

Yang membuat pemadaman ini berbeda dari kasus Mesir pada 2011 atau Afghanistan pada 2023 adalah kemampuannya mempertahankan saluran propaganda negara, karena Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tetap aktif memposting di platform X selama pemadaman berlangsung (The Guardian, 10 Januari 2026).

Untuk pertama kalinya dalam sejarah teknologi global, Iran tercatat sebagai negara pertama di dunia yang berhasil mematikan jaringan internet satelit Starlink secara sistematis, menandai babak baru dalam strategi pemadaman komunikasi digital negara modern.

Laporan Sky News menyebutkan bahwa pemadaman internet yang diberlakukan pemerintah Iran sejak Kamis malam, 8 Januari 2026, tidak lagi bersifat kasar seperti sebelumnya, melainkan jauh lebih presisi dan selektif, dengan tetap memungkinkan komunikasi terbatas bagi institusi negara (Sky News, 12 Januari 2026).

Berbeda dengan pemadaman total pada tahun-tahun sebelumnya, kali ini pemerintah Iran masih dapat berkomunikasi secara daring, sementara media pemerintah IRIB merilis daftar situs yang tetap dapat diakses publik, termasuk mesin pencari domestik, aplikasi peta lokal, dan kantor berita negara (Sky News, 12 Januari 2026).

Namun yang paling mengejutkan komunitas internasional adalah keberhasilan Iran menutup akses Starlink, jaringan satelit orbit rendah milik SpaceX, yang sebelumnya menjadi penyelamat komunikasi warga Iran saat protes besar 2022 menyusul kematian Mahsa Amini.

Baca Juga: 
Mentan Amran: Swasembada Pangan Jadi Kinerja Terbaik Kabinet Merah Putih, Berkat Gagasan Presiden dan Petani

Meski perangkat Starlink secara hukum tidak terdaftar di Iran, jaringan ini telah lama digunakan secara luas sebagai jalur komunikasi alternatif, hingga akhirnya pada Kamis malam lalu aktivitas Starlink di Iran anjlok drastis, sejajar dengan runtuhnya akses internet konvensional (Sky News, 12 Januari 2026).

Kelompok distribusi Starlink di Iran yang dikenal sebagai NasNet mengonfirmasi adanya gangguan berat akibat jamming dan kehilangan paket data, meski mereka mengklaim berhasil menurunkan tingkat packet loss dari sekitar 35 persen menjadi mendekati 10 persen melalui pembaruan perangkat lunak terbaru, seraya mengingatkan bahwa situasi ini adalah “permainan kucing dan tikus” yang bisa memburuk kembali sewaktu-waktu (Sky News, 12 Januari 2026).

Peta gangguan GPS yang dianalisis pada hari Kamis menunjukkan jamming intensif di sekitar Teheran, menguatkan dugaan bahwa Iran menggunakan peperangan elektronik darat untuk membutakan terminal Starlink dengan mengacaukan sinyal navigasi GPS yang dibutuhkan antena satelit untuk bekerja secara presisi.

Analisis mendalam The Guardian menyebut pemadaman ini sebagai “tonggak baru yang mengkhawatirkan” dalam sejarah sensor digital, karena berskala nasional sekaligus selektif, memungkinkan negara tetap beroperasi sambil memutus total komunikasi publik (The Guardian, 10 Januari 2026).

Baca Juga: 
Jaga Swasembada Pangan berkelanjutan, Kementan Perkuat Inovasi dan Modernisasi Pertanian di 33 Provinsi

Pakar hak digital Iran, Amir Rashidi, menyatakan bahwa sekitar 90 persen lalu lintas internet internasional Iran menguap dalam hitungan jam, sementara panggilan internasional terblokir dan ponsel domestik kehilangan sinyal sepenuhnya, termasuk di Teheran (The Guardian, 10 Januari 2026).

Yang membuat pemadaman ini berbeda dari kasus Mesir pada 2011 atau Afghanistan pada 2023 adalah kemampuannya mempertahankan saluran propaganda negara, karena Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tetap aktif memposting di platform X selama pemadaman berlangsung (The Guardian, 10 Januari 2026).

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/