Menkeu Purbaya Sebut RI Mulai Keluar dari Kutukan Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen

SulawesiPos.com – Pemerintah menyebut pertumbuhan ekonomi nasional mulai menunjukkan tren positif setelah mencatatkan angka 5,61 persen pada Triwulan I-2026.

Capaian tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan sebelumnya yang berada di level 5,39 persen.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai peningkatan tersebut menjadi sinyal bahwa berbagai program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai memberikan dampak terhadap perekonomian nasional.

“Kita sudah keluar dari kutukan pertumbuhan ekonomi 5%,” ujar Purbaya dikutip dari Siaran Pers Kemenkeu, Senin (11/5/2026).

Menurutnya, selama ini pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung tertahan di kisaran 5 persen atau lebih rendah.

Purbaya mengatakan percepatan pelaksanaan program strategis pemerintah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.

Ia menilai dukungan pembiayaan yang cepat sangat penting agar program-program prioritas dapat berjalan optimal.

Beberapa program yang disebut mendapat percepatan pendanaan antara lain program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, hingga sektor pupuk dan energi.

“MBG butuh uang, saya kasih cepat. Koperasi Merah Putih, itu dengan Danantara ya. Tapi saya jamin pembayaran cepat,” jelasnya.

BACA JUGA: 
Menkeu Purbaya Beri Sinyal Jeffrey Hendrik Jadi Pjs Dirut BEI Gantikan Iman Rachman

Menurut Purbaya, percepatan pencairan dana juga membantu menekan biaya pendanaan atau cost of fund bagi sektor terkait sehingga program bisa lebih efisien.

Pertahankan Subsidi untuk Jaga Stabilitas

Selain mendorong belanja program prioritas, pemerintah juga berupaya menjaga daya beli masyarakat melalui kebijakan subsidi, khususnya subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Purbaya mengakui pencabutan subsidi secara penuh berpotensi memicu gejolak sosial dan mengganggu pembangunan.

Karena itu, pemerintah memilih melakukan penyesuaian subsidi secara bertahap dengan mengurangi porsi bagi kelompok masyarakat mampu.

“Lebih baik saya pilih subsidi sebagian di sistem, sebagian dikurangi untuk orang-orang kaya. Tapi masyarakatnya tenang dan kita bisa membangun dengan tenang,” katanya.

Pemerintah juga mempercepat penyaluran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar dampak belanja negara dapat dirasakan lebih merata sepanjang tahun.

Selain itu, pemerintah melakukan injeksi likuiditas dengan memindahkan dana sebesar Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke sistem perbankan.

Langkah tersebut disebut bertujuan memastikan likuiditas di sektor keuangan tetap terjaga sehingga aktivitas ekonomi dapat bergerak lebih cepat.

BACA JUGA: 
Menkeu Purbaya Sebut Hitungan Bank Dunia Keliru, Optimistis Ekonomi RI 2026 Tetap Tumbuh di Atas 5%

Purbaya menilai kombinasi percepatan belanja negara, subsidi yang terjaga, dan dukungan likuiditas akan menjadi faktor penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.

SulawesiPos.com – Pemerintah menyebut pertumbuhan ekonomi nasional mulai menunjukkan tren positif setelah mencatatkan angka 5,61 persen pada Triwulan I-2026.

Capaian tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan sebelumnya yang berada di level 5,39 persen.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai peningkatan tersebut menjadi sinyal bahwa berbagai program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai memberikan dampak terhadap perekonomian nasional.

“Kita sudah keluar dari kutukan pertumbuhan ekonomi 5%,” ujar Purbaya dikutip dari Siaran Pers Kemenkeu, Senin (11/5/2026).

Menurutnya, selama ini pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung tertahan di kisaran 5 persen atau lebih rendah.

Purbaya mengatakan percepatan pelaksanaan program strategis pemerintah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.

Ia menilai dukungan pembiayaan yang cepat sangat penting agar program-program prioritas dapat berjalan optimal.

Beberapa program yang disebut mendapat percepatan pendanaan antara lain program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, hingga sektor pupuk dan energi.

“MBG butuh uang, saya kasih cepat. Koperasi Merah Putih, itu dengan Danantara ya. Tapi saya jamin pembayaran cepat,” jelasnya.

BACA JUGA: 
Menkeu Siapkan Efisiensi Anggaran untuk Jaga Defisit APBN 2026 di Bawah 3 Persen

Menurut Purbaya, percepatan pencairan dana juga membantu menekan biaya pendanaan atau cost of fund bagi sektor terkait sehingga program bisa lebih efisien.

Pertahankan Subsidi untuk Jaga Stabilitas

Selain mendorong belanja program prioritas, pemerintah juga berupaya menjaga daya beli masyarakat melalui kebijakan subsidi, khususnya subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Purbaya mengakui pencabutan subsidi secara penuh berpotensi memicu gejolak sosial dan mengganggu pembangunan.

Karena itu, pemerintah memilih melakukan penyesuaian subsidi secara bertahap dengan mengurangi porsi bagi kelompok masyarakat mampu.

“Lebih baik saya pilih subsidi sebagian di sistem, sebagian dikurangi untuk orang-orang kaya. Tapi masyarakatnya tenang dan kita bisa membangun dengan tenang,” katanya.

Pemerintah juga mempercepat penyaluran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar dampak belanja negara dapat dirasakan lebih merata sepanjang tahun.

Selain itu, pemerintah melakukan injeksi likuiditas dengan memindahkan dana sebesar Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke sistem perbankan.

Langkah tersebut disebut bertujuan memastikan likuiditas di sektor keuangan tetap terjaga sehingga aktivitas ekonomi dapat bergerak lebih cepat.

BACA JUGA: 
Setiap Jumat WFH, Kebijakan Baru ASN Tunggu Pengumuman Resmi

Purbaya menilai kombinasi percepatan belanja negara, subsidi yang terjaga, dan dukungan likuiditas akan menjadi faktor penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru