SulawesiPos.com – Sebanyak 30 ikhwan dari berbagai daerah di Indonesia dinyatakan lolos sebagai penerima Beasiswa Tahfidz Al-Qur’an AAS Foundation periode 2025–2026.
Mereka terpilih setelah melalui proses seleksi yang ketat dalam program pembinaan penghafal Al-Qur’an yang digelar AAS Foundation bekerja sama dengan Quantum Akhyar Institute.
“Diseleksi dulu administrasi. Sudah itu bacaan Al-Qur’an, di tes tajwidnya. Sudah itu diuji lagi pengetahuannya, contohnya hukum-hukum bacaan Al-Qur’an,” ujar Project Supervisor program beasiswa Tahfidz Ahmad Musa Said kepada SulawesiPos, Rabu (6/5/2026).
Program Beasiswa Tahfidz Al-Qur’an ini diperuntukkan bagi ikhwan berusia 18 hingga 30 tahun yang memliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik, komitmen kuat, serta semangat tinggi dalam menghafal.
Peserta terpilih akan menjalani pembinaan intensif menghafal 30 juz Al-Qur’an selama 40 hari penuh.
Program ini dirancang sebagai pembinaan terpadu untuk mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang disiplin, berkarakter, dan berkualitas.
Berdasarkan hasil seleksi akhir, 30 ikhwan terbaik resmi ditetapkan sebagai penerima beasiswa dari berbagai wilayah, baik dalam maupun luar negeri.
Daftar Penerima Beasiswa Tahfidz AAS Foundation 2025–2026
- Adani Bintang Ramadhan – Bogor
- Ade Indra Riksa – Bogor
- Adzka Faqih Fayyadh Pawaly – Bulukumba
- Alamsyah Akub – Gowa
- Andi Irhan – Makassar
- Arraihan Elshanty Attamimi – Bone Bolango
- Azzam Syauqi – Gowa
- Fahmi Maulana Kusuma – Bandung
- Faiz Ali Zurriyat – Makassar
- Fajar Nur Sidiq – Majalengka
- Fawwaz Mujahid – Pangkajene Kepulauan
- Ilham Yuwanda Pria Aqillah – Banyumas
- Izzul Islam bin Salahuddin Batubara – Perak, Malaysia
- Khairul Umam – Kubu Raya
- M. Hayyun Sahil – Halmahera Tengah
- Miqdad Tsabit – Wonosobo
- Mohammad Ali Reza Beik – Sumenep
- Muh. Dimas Fikri Rafan Nawfal – Makassar
- Muh. Ikhlasul Amal – Kolaka Utara
- Muh. Syawal Rifandi – Bone
- Muhammad Fahrul Rozi – Palembang
- Muhammad Hafizh Fadholi – Muaro Jambi
- Muhammad Luthfi Marzuq – Makassar
- Muhammad Restu Zikrullah – Lombok Tengah
- Muhammad Rikza Maulana – Kuningan
- Perdiansa S. Batalipu – Makassar
- Rahmatullah Arif – Gowa
- Ramdan Saputra – Bandung
- Yudistira – Bandung
- Muh. Zhafran Yakub – Luwu
Komitmen dan Kesediaan Jadi Penentu Kelulusan
Selain kemampuan teknis membaca dan memahami Al-Qur’an, panitia seleksi juga menaruh perhatian besar pada aspek komitmen peserta terhadap aturan serta keberlanjutan program setelah masa pembinaan berakhir.
Menurut Ahmad Musa atau akrab disapa Ustaz Uca, kesiapan mengikuti seluruh rangkaian program menjadi salah satu faktor krusial dalam menentukan kelulusan.
“Nah, sudah itu diminta kesediaannya. Pertama itu, apakah bersedia mengikuti semua peraturan? Kemudian yang kedua, apakah bersedia mengikuti program-program AS Foundation kalau nanti sudah selesai dari program tahfidz ini? Nah, ada yang menyatakan tidak bersedia ikut pengabdian, itu kita tidak luluskan,” kata dia.
Ustaz Uca menjelaskan, seleksi Beasiswa Tahfidz ini juga menjadi program perdana atau tahap uji coba, sehingga proses penyaringan peserta berlangsung cukup panjang dan ketat.
Hal itu dilakukan untuk memastikan peserta benar-benar siap mengikuti pembinaan secara penuh.
Keterbatasan waktu menjadi salah satu alasan utama banyak peserta tidak dapat melanjutkan ke tahap akhir seleksi.
Namun, setelah melalui beberapa kali penyaringan, panitia akhirnya menetapkan peserta terbaik yang dinilai paling siap secara kemampuan dan komitmen.
“Ini kan baru program pertama uji coba ya. Karena ini sebenarnya memang agak lama waktu seleksinya, karena ternyata waktu kita itu beasiswanya 40 hari full, itu memang banyak yang berguguran karena terkendala waktu,” ujarnya.
“Jadi tidak bisa pas waktunya. Makanya ini sekarang, setelah melalui beberapa kali penyaringan, akhirnya didapatkan 30 terbaik,” katanya menambahkan.
Arah Pengabdian dan Peluang Program Berlanjut
Setelah menyelesaikan program tahfidz, para penerima beasiswa tidak hanya diharapkan menyelesaikan hafalan, tetapi juga terlibat aktif dalam kegiatan pengabdian yang digelar oleh AAS Foundation di berbagai daerah.
“(Pengabdiannya) misalnya kalau ada programnya AS Foundation, misalnya mengirimkan imam untuk sholat Jumat atau sholat Tarawih, nah di situ mereka kita harap bisa berpartisipasi,” jelas Ustaz Uca.
Ia menuturkan, jangkauan kegiatan AAS Foundation mencakup berbagai wilayah di Indonesia hingga luar negeri.
Karena itu, para alumni program tahfidz diharapkan dapat berkontribusi sesuai dengan domisili dan kebutuhan daerah masing-masing.
“AAS Foundation ini kan kegiatannya di seluruh nusantara. Ya bisa saja mereka ini kan ada dari Malaysia, jadi ada dari Sumatera, ada dari Kalimantan. Jadi mereka semua bisa di mana pun, yang penting mereka nanti itu diharapkan ketika ada program AS Foundation misalnya di daerahnya, ya mereka ikut berpartisipasi,” ucap dia.
Terkait keberlanjutan program, Ustaz Uca menyebut pihaknya membuka peluang besar untuk kembali menggelar Beasiswa Tahfidz pada periode berikutnya, melihat antusiasme dan hasil seleksi tahun ini.
“Ya insyaallah (dibuka lagi),” tutupnya.

