Hadapi El Nino, Kementan Percepat Transformasi Pertanian Lahan Kering di Enrekang melalui Program HDDA

SulawesiPos.com, Enrekang — Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat ketahanan sektor pertanian di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, melalui implementasi program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP) sebagai langkah strategis menghadapi ancaman fenomena El Nino yang berpotensi menyebabkan musim kemarau panjang dan kekeringan ekstrem.
Penguatan dilakukan melalui penerapan teknologi pertanian, pengembangan kawasan hortikultura terpadu, serta dukungan sarana dan prasarana produksi bagi petani.
Upaya ini dibahas dalam audiensi dan rapat koordinasi yang melibatkan pemerintah daerah, penyuluh, serta petani di Enrekang.
Pemerintah daerah menilai bahwa kondisi iklim yang semakin tidak menentu menuntut adanya langkah adaptif dan terukur untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian, khususnya pada lahan kering yang rentan terdampak kekeringan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Enrekang *Zulkarnain Kara* menegaskan bahwa fenomena El Nino harus diantisipasi dengan pendekatan berbasis teknologi dan kolaborasi lintas sektor.
“Kita akan menghadapi El Nino yang berpotensi menyebabkan kekeringan di berbagai wilayah. Oleh karena itu, diperlukan langkah antisipatif melalui pemanfaatan teknologi pertanian. Kami menyambut baik program HDDAP sebagai solusi konkret dalam menghadapi tantangan tersebut,” ujarnya.
Program HDDAP di Kabupaten Enrekang akan dilaksanakan di 10 kecamatan dengan fokus pengembangan komoditas unggulan hortikultura, yakni bawang merah sebanyak 13 klaster dan kentang sebanyak 4 klaster.
Komoditas bawang merah sendiri menjadi penggerak utama ekonomi daerah, dengan nilai perputaran ekonomi diperkirakan mencapai Rp40 triliun per tahun.
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian sekaligus Project Director HDDAP, Freddy Lumban Gaol, menyampaikan bahwa keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh sinergi seluruh pemangku kepentingan.
“Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, penyuluh, dan petani merupakan kekuatan utama dalam mendorong kemajuan sektor hortikultura. Seluruh pihak yang terlibat dalam HDDAP harus memiliki semangat yang sama untuk mentransformasi pertanian menuju sistem agribisnis modern,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Doktor Pertanian Jebolan Hokkaido University of Japan itu menekankan bahwa program HDDAP diarahkan untuk mendorong petani naik kelas melalui penguatan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) sebagai pusat pengelolaan agribisnis terpadu, mulai dari budidaya, pascapanen, hingga pemasaran berbasis kualitas.
Anggota Kelompok Tani Santabi, Kadirbali menyambut positif implementasi program HDDAP yang dinilai memberikan harapan baru bagi petani.
“Kami sangat terbantu dengan adanya program ini. Dukungan seperti pompanisasi, benih, serta sarana produksi lainnya sangat penting untuk meningkatkan produktivitas lahan kering,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, HDDAP juga mencatat progres signifikan, antara lain verifikasi dan validasi CPCL bawang merah yang telah mencapai 95 persen dan kentang 100 persen.
Selain itu, penyusunan dokumen perencanaan kawasan (Horticulture Cluster Development Plan/HCDP) terus dipercepat untuk memastikan implementasi kegiatan berjalan tanpa jeda.
Berbagai isu strategis turut mengemuka dalam diskusi, seperti keterbatasan sumber air di dataran tinggi, ketergantungan pada musim hujan, fluktuasi harga, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), serta terbatasnya akses pasar.
Untuk itu, solusi yang disiapkan meliputi pengembangan sistem irigasi berbasis pompa, pemetaan sumber air, pengendalian OPT melalui pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), hingga penguatan rantai pasok dan kemitraan dengan offtaker.
Selain meningkatkan produktivitas, program HDDAP juga membuka peluang pengembangan pasar ekspor.
Produk bawang merah Enrekang diketahui telah memiliki potensi untuk menembus pasar internasional, seperti Timur Tengah, meskipun masih memerlukan penguatan pada aspek pemasaran dan konsistensi produksi.
Secara sosial, program ini juga memberikan dampak positif melalui penciptaan lapangan kerja baru, khususnya bagi tenaga fasilitator dan tenaga ahli lokal yang terlibat dalam pendampingan petani.
Kementerian Pertanian menegaskan bahwa percepatan implementasi HDDAP pada tahun 2026 menjadi prioritas utama dengan prinsip tidak boleh ada kekosongan kegiatan di lapangan.
Penguatan kelembagaan petani, dukungan infrastruktur air, serta integrasi hulu-hilir menjadi kunci keberhasilan program dalam meningkatkan produktivitas dan nilai tambah hortikultura di lahan kering.
Melalui langkah ini, Kementerian Pertanian optimistis sektor hortikultura di Kabupaten Enrekang mampu bertahan dan berkembang di tengah tantangan perubahan iklim, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
Program HDDAP di Enrekang juga diyakini masyarakat akan meningkatkan produksi bawang merah dan kentang. Tim Ditjen Hortikultura yang ditugaskan di Enrekang juga sangat optimis sebagaimana tagline mereka “Keluarga HDDAP Enrekang Gas Poll”.
BACA JUGA: 
Swasembada Beras Nyata: Produksi Naik Tajam, Stok Muat, Tanpa Impor
SulawesiPos.com, Enrekang — Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat ketahanan sektor pertanian di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, melalui implementasi program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP) sebagai langkah strategis menghadapi ancaman fenomena El Nino yang berpotensi menyebabkan musim kemarau panjang dan kekeringan ekstrem.
Penguatan dilakukan melalui penerapan teknologi pertanian, pengembangan kawasan hortikultura terpadu, serta dukungan sarana dan prasarana produksi bagi petani.
Upaya ini dibahas dalam audiensi dan rapat koordinasi yang melibatkan pemerintah daerah, penyuluh, serta petani di Enrekang.
Pemerintah daerah menilai bahwa kondisi iklim yang semakin tidak menentu menuntut adanya langkah adaptif dan terukur untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian, khususnya pada lahan kering yang rentan terdampak kekeringan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Enrekang *Zulkarnain Kara* menegaskan bahwa fenomena El Nino harus diantisipasi dengan pendekatan berbasis teknologi dan kolaborasi lintas sektor.
“Kita akan menghadapi El Nino yang berpotensi menyebabkan kekeringan di berbagai wilayah. Oleh karena itu, diperlukan langkah antisipatif melalui pemanfaatan teknologi pertanian. Kami menyambut baik program HDDAP sebagai solusi konkret dalam menghadapi tantangan tersebut,” ujarnya.
Program HDDAP di Kabupaten Enrekang akan dilaksanakan di 10 kecamatan dengan fokus pengembangan komoditas unggulan hortikultura, yakni bawang merah sebanyak 13 klaster dan kentang sebanyak 4 klaster.
Komoditas bawang merah sendiri menjadi penggerak utama ekonomi daerah, dengan nilai perputaran ekonomi diperkirakan mencapai Rp40 triliun per tahun.
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian sekaligus Project Director HDDAP, Freddy Lumban Gaol, menyampaikan bahwa keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh sinergi seluruh pemangku kepentingan.
“Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, penyuluh, dan petani merupakan kekuatan utama dalam mendorong kemajuan sektor hortikultura. Seluruh pihak yang terlibat dalam HDDAP harus memiliki semangat yang sama untuk mentransformasi pertanian menuju sistem agribisnis modern,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Doktor Pertanian Jebolan Hokkaido University of Japan itu menekankan bahwa program HDDAP diarahkan untuk mendorong petani naik kelas melalui penguatan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) sebagai pusat pengelolaan agribisnis terpadu, mulai dari budidaya, pascapanen, hingga pemasaran berbasis kualitas.
Anggota Kelompok Tani Santabi, Kadirbali menyambut positif implementasi program HDDAP yang dinilai memberikan harapan baru bagi petani.
“Kami sangat terbantu dengan adanya program ini. Dukungan seperti pompanisasi, benih, serta sarana produksi lainnya sangat penting untuk meningkatkan produktivitas lahan kering,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, HDDAP juga mencatat progres signifikan, antara lain verifikasi dan validasi CPCL bawang merah yang telah mencapai 95 persen dan kentang 100 persen.
Selain itu, penyusunan dokumen perencanaan kawasan (Horticulture Cluster Development Plan/HCDP) terus dipercepat untuk memastikan implementasi kegiatan berjalan tanpa jeda.
Berbagai isu strategis turut mengemuka dalam diskusi, seperti keterbatasan sumber air di dataran tinggi, ketergantungan pada musim hujan, fluktuasi harga, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), serta terbatasnya akses pasar.
Untuk itu, solusi yang disiapkan meliputi pengembangan sistem irigasi berbasis pompa, pemetaan sumber air, pengendalian OPT melalui pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), hingga penguatan rantai pasok dan kemitraan dengan offtaker.
Selain meningkatkan produktivitas, program HDDAP juga membuka peluang pengembangan pasar ekspor.
Produk bawang merah Enrekang diketahui telah memiliki potensi untuk menembus pasar internasional, seperti Timur Tengah, meskipun masih memerlukan penguatan pada aspek pemasaran dan konsistensi produksi.
Secara sosial, program ini juga memberikan dampak positif melalui penciptaan lapangan kerja baru, khususnya bagi tenaga fasilitator dan tenaga ahli lokal yang terlibat dalam pendampingan petani.
Kementerian Pertanian menegaskan bahwa percepatan implementasi HDDAP pada tahun 2026 menjadi prioritas utama dengan prinsip tidak boleh ada kekosongan kegiatan di lapangan.
Penguatan kelembagaan petani, dukungan infrastruktur air, serta integrasi hulu-hilir menjadi kunci keberhasilan program dalam meningkatkan produktivitas dan nilai tambah hortikultura di lahan kering.
Melalui langkah ini, Kementerian Pertanian optimistis sektor hortikultura di Kabupaten Enrekang mampu bertahan dan berkembang di tengah tantangan perubahan iklim, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
Program HDDAP di Enrekang juga diyakini masyarakat akan meningkatkan produksi bawang merah dan kentang. Tim Ditjen Hortikultura yang ditugaskan di Enrekang juga sangat optimis sebagaimana tagline mereka “Keluarga HDDAP Enrekang Gas Poll”.
BACA JUGA: 
Mentan Amran Libatkan Mahasiswa Perkuat Ekonomi Rakyat Lewat Brigade Pangan dan Hilirisasi Pertanian

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru