IPB University Tawarkan Langkah Murah Hadapi Ancaman OPT di Tengah “Godzilla El Nino”

SulawesiPos.com – Disela kunjungan kerja Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman ke Science Technopark Institut Pertanian Bogor di Bogor, Dosen dari IPB University, Prof. Hermanu, menawarkan pentingnya langkah preemptif yang murah, sederhana, dan dapat dilakukan secara masif oleh petani untuk mengantisipasi serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), khususnya penggerek batang padi, di tengah ancaman fenomena El Niño 2026.

Fenomena El Nino yang kali ini disebut dengan Godzilla El Nino, diperkirakan berlangsung mulai April hingga Oktober 2026, membawa risiko kemarau panjang yang tidak hanya menekan produksi padi, tetapi juga memicu peningkatan serangan hama seperti penggerek batang padi dan Wereng Batang Cokelat (WBC) di berbagai sentra produksi.

“El Nino biasanya diikuti OPT, ada kecenderungan penggerek, biasanya serangannya berat. Kalau tidak hati-hati sejak musim tanam, dampaknya bisa luas. Karena itu perlu gerakan masal,” ujar Hermanu, Kamis (9/4/2026).

Menurutnya, pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) harus diperkuat dengan strategi preemptif, yakni tindakan pencegahan yang dilakukan sebelum musim tanam dimulai. Pendekatan ini dinilai jauh lebih efektif dan ekonomis dibandingkan pengendalian setelah terjadi ledakan hama.

BACA JUGA: 
BRIN Wanti-wanti El Nino “Godzilla” 2026, Kemarau Panjang Ancam Lumbung Pangan

Salah satu langkah sederhana namun berdampak besar adalah pengumpulan kelompok telur penggerek batang padi di fase persemaian.

“Pengumpulan kelompok telur di persemaian itu penting untuk menekan populasi awal. Ini harus dilakukan di awal tanam, dengan pendekatan sederhana dan bisa dilakukan petani,” jelasnya.

Ia menambahkan, metode yang digunakan tidak membutuhkan teknologi mahal.

“Alatnya sederhana, bisa dari botol mineral yang dibalik. Ini langkah praktis untuk mengantisipasi ledakan penggerek sejak dini,” tambah Prof. Hermanu.

Secara ekonomi, langkah preemptif ini terbukti sangat efisien. Satu kelompok telur penggerek batang padi rata-rata berisi sekitar 50 telur.

Dalam tiga generasi, meskipun hanya sekitar 5 persen yang berkembang menjadi larva, dampaknya tetap signifikan. Satu kelompok telur dapat menyebabkan kerusakan hingga sekitar 300 malai padi, setara dengan 1,2 kg gabah kering panen (GKP).

Dengan asumsi harga GKP Rp6.500 per kilogram, maka potensi kerugian dari satu kelompok telur mencapai sekitar Rp8.125.

BACA JUGA: 
Hadapi El Nino Ekstrem, Strategi Amran Dipuji DPR: Indonesia Siap Lawan Krisis Pangan

Artinya, memusnahkan satu kelompok telur di persemaian sama dengan mencegah kerugian ekonomi senilai tersebut—sebuah langkah kecil dengan dampak besar jika dilakukan secara masif.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa ancaman ekonomi terbesar justru datang dari potensi ledakan Wereng Batang Cokelat (WBC).

Secara ekonomi, dampak ekonomi dari serangan WBC sangatlah menghancurkan, di mana ribuan hektar sawah bisa mengalami gagal panen total dalam hitungan hari.

Selain kerusakan fisik tanaman, WBC juga berperan sebagai vektor virus kerdil hampa dan kerdil rumput yang membuat tanaman tidak dapat berproduksi.

Prof. Hermanu pun mendorong pendekatan partisipatif dengan melibatkan masyarakat, termasuk anak-anak sekolah.

Pengumpulan kelompok telur dapat dijadikan kegiatan edukatif dengan memberikan insentif antara Rp500 hingga Rp2.000 per kelompok telur, tergantung tingkat kepadatan populasi.

Selain membantu petani, langkah ini juga menjadi sarana menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap dunia pertanian.

Dalam konteks yang lebih luas, strategi ini merupakan bagian dari PHT yang menitikberatkan pada pencegahan, konservasi musuh alami, serta penggunaan pestisida secara bijak sebagai opsi terakhir.

BACA JUGA: 
Hadapi El Nino, Kementan Pastikan Infrastruktur Siap dan Pangan Tetap Aman

Dengan menekan populasi awal hama sejak di persemaian, risiko ledakan hama di lahan utama dapat diminimalkan.

“Pendekatan preemptif murah seperti ini adalah kunci. Kalau kita bisa menahan populasi dari awal, maka ekosistem sawah tetap seimbang, penggunaan insektisida bisa ditekan, dan risiko ledakan hama besar seperti WBC dapat dihindari,” tegasnya.

SulawesiPos.com – Disela kunjungan kerja Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman ke Science Technopark Institut Pertanian Bogor di Bogor, Dosen dari IPB University, Prof. Hermanu, menawarkan pentingnya langkah preemptif yang murah, sederhana, dan dapat dilakukan secara masif oleh petani untuk mengantisipasi serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), khususnya penggerek batang padi, di tengah ancaman fenomena El Niño 2026.

Fenomena El Nino yang kali ini disebut dengan Godzilla El Nino, diperkirakan berlangsung mulai April hingga Oktober 2026, membawa risiko kemarau panjang yang tidak hanya menekan produksi padi, tetapi juga memicu peningkatan serangan hama seperti penggerek batang padi dan Wereng Batang Cokelat (WBC) di berbagai sentra produksi.

“El Nino biasanya diikuti OPT, ada kecenderungan penggerek, biasanya serangannya berat. Kalau tidak hati-hati sejak musim tanam, dampaknya bisa luas. Karena itu perlu gerakan masal,” ujar Hermanu, Kamis (9/4/2026).

Menurutnya, pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) harus diperkuat dengan strategi preemptif, yakni tindakan pencegahan yang dilakukan sebelum musim tanam dimulai. Pendekatan ini dinilai jauh lebih efektif dan ekonomis dibandingkan pengendalian setelah terjadi ledakan hama.

BACA JUGA: 
Panen Lebih Awal di Kuningan Jadi Penyangga Pasokan Beras di Tengah Antisipasi El Nino

Salah satu langkah sederhana namun berdampak besar adalah pengumpulan kelompok telur penggerek batang padi di fase persemaian.

“Pengumpulan kelompok telur di persemaian itu penting untuk menekan populasi awal. Ini harus dilakukan di awal tanam, dengan pendekatan sederhana dan bisa dilakukan petani,” jelasnya.

Ia menambahkan, metode yang digunakan tidak membutuhkan teknologi mahal.

“Alatnya sederhana, bisa dari botol mineral yang dibalik. Ini langkah praktis untuk mengantisipasi ledakan penggerek sejak dini,” tambah Prof. Hermanu.

Secara ekonomi, langkah preemptif ini terbukti sangat efisien. Satu kelompok telur penggerek batang padi rata-rata berisi sekitar 50 telur.

Dalam tiga generasi, meskipun hanya sekitar 5 persen yang berkembang menjadi larva, dampaknya tetap signifikan. Satu kelompok telur dapat menyebabkan kerusakan hingga sekitar 300 malai padi, setara dengan 1,2 kg gabah kering panen (GKP).

Dengan asumsi harga GKP Rp6.500 per kilogram, maka potensi kerugian dari satu kelompok telur mencapai sekitar Rp8.125.

BACA JUGA: 
Antisipasi Potensi Kekeringan, Kementan Dorong Optimalisasi Pompa Air untuk Hadapi El Nino 2026

Artinya, memusnahkan satu kelompok telur di persemaian sama dengan mencegah kerugian ekonomi senilai tersebut—sebuah langkah kecil dengan dampak besar jika dilakukan secara masif.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa ancaman ekonomi terbesar justru datang dari potensi ledakan Wereng Batang Cokelat (WBC).

Secara ekonomi, dampak ekonomi dari serangan WBC sangatlah menghancurkan, di mana ribuan hektar sawah bisa mengalami gagal panen total dalam hitungan hari.

Selain kerusakan fisik tanaman, WBC juga berperan sebagai vektor virus kerdil hampa dan kerdil rumput yang membuat tanaman tidak dapat berproduksi.

Prof. Hermanu pun mendorong pendekatan partisipatif dengan melibatkan masyarakat, termasuk anak-anak sekolah.

Pengumpulan kelompok telur dapat dijadikan kegiatan edukatif dengan memberikan insentif antara Rp500 hingga Rp2.000 per kelompok telur, tergantung tingkat kepadatan populasi.

Selain membantu petani, langkah ini juga menjadi sarana menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap dunia pertanian.

Dalam konteks yang lebih luas, strategi ini merupakan bagian dari PHT yang menitikberatkan pada pencegahan, konservasi musuh alami, serta penggunaan pestisida secara bijak sebagai opsi terakhir.

BACA JUGA: 
Hadapi El Nino Ekstrem, Strategi Amran Dipuji DPR: Indonesia Siap Lawan Krisis Pangan

Dengan menekan populasi awal hama sejak di persemaian, risiko ledakan hama di lahan utama dapat diminimalkan.

“Pendekatan preemptif murah seperti ini adalah kunci. Kalau kita bisa menahan populasi dari awal, maka ekosistem sawah tetap seimbang, penggunaan insektisida bisa ditekan, dan risiko ledakan hama besar seperti WBC dapat dihindari,” tegasnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru