SulawesiPos.com – Perayaan Hari Raya Idul Fitri tahun 1447 H kali ini mengalami perbedaan. Hal ini disebabkan karena terjadi perbedaan tanggal 1 Syawal yang ditetapkan pemerintah dan Muhammadiyah.
Pemerintah menyatakan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu (21/3/2026), sedangkan Muhammadiyah menetapkan jatuh pada Jumat (20/3/2026).
Kendati demikian, perbedaan tanggal ini bukanlah hal yang aneh, bahkan sering beberapa kali terjadi perbedaan.
Daripada tenggelam dalam perdebatan mengenai perbedaan tanggal tersebut, ada amalan yang perlu dipahami bacaannya saat Lebaran Idul Fitri tahun 1447 H.
Amalan tersebut berupa takbiran. Malam Idul Fitri selalu diiringi lantunan takbir yang menggema di berbagai penjuru.
Bacaan takbiran menjadi simbol pengagungan kepada Allah SWT sekaligus ungkapan syukur atas berakhirnya bulan Ramadan.
Takbiran yang umum dilantunkan umat Islam berbunyi:
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar.
Allahu Akbar wa lillahil hamd.”
Kalimat tersebut mengandung makna pengakuan atas kebesaran Allah serta penegasan bahwa tiada Tuhan selain Allah.
Selain itu, terdapat ungkapan rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan, termasuk kesempatan menjalankan ibadah puasa.
Selain versi pendek, umat Islam juga mengenal bacaan takbiran panjang yang lebih lengkap dan sarat makna.
Lantunan ini kerap dikumandangkan pada malam Idul Fitri sebagai bentuk syiar dan penguatan nilai spiritual.
Adapun bacaan takbiran panjang yang sering dilantunkan adalah:
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar.
Allahu Akbar wa lillahil hamd.
Allahu Akbar kabira, walhamdulillahi katsira,
wa subhanallahi bukratan wa asila.
Laa ilaaha illallah wahdah,
shadaqa wa’dah, wa nashara ‘abdah,
wa a’azza jundah, wa hazamal ahzaaba wahdah.
Laa ilaaha illallah, wallahu akbar.
Allahu Akbar wa lillahil hamd.”
Bacaan ini tidak hanya berisi pengagungan kepada Allah, tetapi juga penegasan atas janji-Nya, pertolongan kepada hamba-Nya, serta kemenangan atas berbagai kesulitan.
Oleh karena itu, takbiran sering dimaknai sebagai refleksi kemenangan spiritual setelah menjalani Ramadan.
Dalam praktiknya, takbiran biasanya dilantunkan secara berjamaah di masjid atau dalam kegiatan takbir keliling.
Irama dan kekompakan dalam melantunkan bacaan ini turut menambah kekhidmatan suasana malam Idul Fitri.
Dengan kandungan makna yang lebih mendalam, takbiran menjadi pelengkap dalam syiar Idul Fitri.
Lantunan tersebut tidak hanya memperkuat nilai ibadah, tetapi juga mempererat kebersamaan umat Islam dalam merayakan hari kemenangan, meski terdapat perbedaan dalam penentuan hari raya.

