SulawesiPos.com – Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel) tak hanya dikenal dengan keindahan pantainya, tetapi juga menyimpan destinasi wisata religi yang sarat sejarah dan nilai spiritual.
Salah satu yang paling menarik perhatian wisatawan adalah Pemandian Hila-Hila atau Sumur Panjang Hila-hila, sebuah kolam alami yang dipercaya sebagai warisan dakwah Dato Tiro, ulama besar penyebar Islam di Sulsel.
Dato Tiro yang memiliki nama asli Al Maulana Khatib Bungsu dikenal sebagai tokoh agama terpandang yang meninggalkan pengaruh besar, tidak hanya dalam syiar Islam, tetapi juga melalui peninggalan fisik yang hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat.
Salah satu peninggalan tersebut adalah sumur panjang yang kemudian dikenal dengan nama Pemandian Hila-Hila.
Pemandian Hila-Hila terletak di Kecamatan Bonto Tiro, tepat di sekitar kawasan masjid kuno peninggalan Dato Tiro.
Hingga kini, kolam alami ini menjadi destinasi favorit, terutama saat musim liburan, karena menawarkan suasana sejuk sekaligus pengalaman wisata religi yang unik.
Kisah Sumur Panjang dan Tradisi Wisata Religi
Keberadaan kolam Hila-Hila tidak terlepas dari kisah mukjizat Dato Tiro.
Konon, Dato Tiro hanya menggoreskan tongkatnya membentuk garis panjang yang berkelok. Dari bekas goresan tersebut, air kemudian keluar dengan deras hingga membentuk kolam memanjang.
Bentuk kolam ini berkelok-kelok dan dimanfaatkan jemaah sebagai tempat berwudhu sebelum melaksanakan ibadah.
Seiring perkembangan zaman, kebutuhan air untuk masjid kini telah dilengkapi keran, namun sumber airnya tetap berasal dari kolam Hila-Hila.
Keberadaan kolam ini pun berkembang menjadi daya tarik wisata.
Banyak pengunjung datang sekadar menikmati dinginnya air, bahkan sebagian membawa pulang air kolam dalam botol karena diyakini memiliki khasiat penyembuhan.
Tak jauh dari kolam, sekitar 100 meter, terdapat makam Dato Tiro yang juga ramai diziarahi wisatawan lokal.
Umumnya, peziarah terlebih dahulu mendatangi makam untuk berdoa, kemudian melanjutkan kunjungan ke kolam Hila-Hila untuk berendam sebagai simbol pembersihan diri.
Masjid Tertua di Bulukumba
Usai berziarah dan mandi, pengunjung dapat melaksanakan ibadah di Masjid Nurul Hilal Dato Tiro, masjid kuno yang dahulu bernama Masjid Hila-Hila.
Nama masjid ini berubah pada 1971, namun nilai sejarahnya tetap terjaga.
Masjid tertua di Bulukumba ini dibangun sekitar tahun 1605 Masehi dan memiliki keunikan arsitektur.
Kubahnya menyerupai atap rumah adat Jawa dengan tiga tingkatan, sementara desain dinding dan jendelanya mengadopsi ciri khas rumah tradisional Sulawesi Selatan.
Perpaduan wisata alam, religi, dan sejarah menjadikan Pemandian Hila-Hila bukan sekadar tempat berlibur, melainkan ruang refleksi yang mempertemukan pengunjung dengan jejak dakwah Islam dan kearifan lokal yang masih hidup hingga kini.

