SulawesiPos.com – Wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2/2026) dalam serangan gabungan yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat membuka babak baru dalam peta kekuasaan Rebuplik Iran.
Di tengah konflik eksternal yang masih berlangsung, perhatian kini tertuju pada siapa yang memegang kendali negara setelah kematian Khamenei?
Kendali Sementara di Tangan Dewan Penjaga
Sesuai konstitusi Iran, kekosongan jabatan Pemimpin Tertinggi langsung diisi oleh dewan kepemimpinan sementara.
Struktur ini terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Peradilan Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i, serta seorang ulama senior dari Dewan Penjaga Konstitusi.
Dewan tersebut bertugas menjalankan fungsi strategis kepala negara hingga Majelis Ahli, lembaga beranggotakan 88 ulama, menetapkan pemimpin tertinggi.
Saat ini, wewenang tertinggi Iran disebut diberikan kepada Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani.
Ali Larijani
Dalam situasi krisis, posisi ini memegang peran penting dalam pengambilan keputusan keamanan dan pertahanan.
Larijani dikenal sebagai tokoh yang memiliki kedekatan dengan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Selain itu, ia memiliki pengalaman panjang di bidang militer, media, dan legislatif yang membuatnya memahami seluk-beluk sistem politik Iran.
Ia kembali dipercaya memimpin Dewan Keamanan Nasional tak lama setelah konflik Iran-Israel memanas pada 2025, termasuk mengoordinasikan kebijakan pertahanan dan pengawasan program nuklir.
Jabatan ini pernah ia pegang hampir dua dekade lalu.
Tiga Kandidat Ulama Senior
Isu suksesi sebenarnya telah lama menjadi pembahasan tertutup di kalangan elite Iran.
Sejak konflik besar perang 12 hari pada Juni 2025 lalu, diketahui, pada malam pertama konfik pada 2025 lalu itu menyebabkan sembilan ilmuwan nuklir dan sejumlah kepala keamanan Iran tewas.
Kemudian, pada hari-hari berikutnya, sedikitnya 30 komandan terkemuka dan lebih banyak ilmuwan senior turut tewas.
Situasi ini mempertegas bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei diduga menjadi target.
Hal ini kemudian membuat para ulama senior dan komandan berpengaruh Iran disebut telah menyiapkan skenario jika terjadi hal buruk seperti ini terjadi mendadak.
Laporan media internasional The New York Times sebelumnya mengungkap bahwa Khamenei telah mempertimbangkan tiga ulama senior sebagai kandidat penerus.
Nama Mojtaba Khamenei, putranya, juga sempat menjadi bahan spekulasi, meski belum pernah diumumkan secara resmi.

