24 C
Makassar
18 January 2026, 20:45 PM WITA

“Locked and Loaded”: Ketika Bahasa Militer Trump Membuka Ancaman Intervensi atas Iran

SulawesiPos.com – Sebuah frasa bernuansa militer yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memantik ketegangan antara Washington dan Teheran, ketika ia menyatakan Amerika Serikat berada dalam kondisi we are locked and loaded dalam menanggapi situasi protes di Iran.

Pernyataan itu disampaikan Trump melalui unggahan di Truth Social pada Jumat dini hari waktu Washington, dengan ancaman bahwa Amerika Serikat akan “turun tangan” jika Republik Islam Iran, menurut versinya, melakukan kekerasan terhadap para demonstran.

Dalam bahasa Persia, ungkapan locked and loaded diterjemahkan sebagai āmade-bāsh-e kāmel atau “siaga penuh”, namun secara substantif frasa tersebut memiliki makna yang jauh lebih spesifik dan berbahaya, karena berasal dari terminologi klasik militer yang berarti senjata telah dikunci, terisi peluru, dan siap ditembakkan.

Istilah ini bukan metafora retoris biasa, melainkan perintah kesiapan tempur yang telah dikenal dalam doktrin militer Amerika Serikat sejak abad ke-18 dan secara resmi masuk dalam buku pedoman senjata pada 1940, bersamaan dengan Perang Dunia II.

Baca Juga: 
Percepatan Rehabilitasi Irigasi Dorong Swasembada Pangan Nasional

Karena itu, penggunaan frasa tersebut oleh seorang presiden aktif tidak dapat dilepaskan dari pesan ancaman operasional, terlebih ketika diarahkan pada negara berdaulat yang tengah menghadapi dinamika sosial internal.

Pemerintah Iran menilai pernyataan Trump sebagai bentuk intervensi terbuka dalam urusan domestik negara lain, yang berpotensi mengguncang stabilitas kawasan secara luas.

Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan bahwa campur tangan Amerika Serikat dalam persoalan internal Iran akan membawa konsekuensi serius bagi kepentingan Washington sendiri.

“Trump seharusnya menyadari bahwa intervensi Amerika dalam masalah internal ini akan berarti destabilisasi seluruh kawasan dan penghancuran kepentingan Amerika,” ujar Larijani dalam pernyataannya di platform X.

Ia juga mengingatkan bahwa Amerika Serikat memiliki kehadiran militer yang luas di Irak dan kawasan Teluk Persia, sehingga setiap eskalasi akan menempatkan pasukan Amerika dalam posisi rawan.

Lebih jauh, Larijani membedakan secara tegas antara para pedagang dan warga yang menyampaikan protes ekonomi secara sah dengan aktor-aktor perusuh yang berupaya mengeksploitasi situasi demi menciptakan kekacauan.

Baca Juga: 
Ketua Bidang PBNU Aizzudin Diduga jadi Perantara Kasus Korupsi Kuota Haji

SulawesiPos.com – Sebuah frasa bernuansa militer yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memantik ketegangan antara Washington dan Teheran, ketika ia menyatakan Amerika Serikat berada dalam kondisi we are locked and loaded dalam menanggapi situasi protes di Iran.

Pernyataan itu disampaikan Trump melalui unggahan di Truth Social pada Jumat dini hari waktu Washington, dengan ancaman bahwa Amerika Serikat akan “turun tangan” jika Republik Islam Iran, menurut versinya, melakukan kekerasan terhadap para demonstran.

Dalam bahasa Persia, ungkapan locked and loaded diterjemahkan sebagai āmade-bāsh-e kāmel atau “siaga penuh”, namun secara substantif frasa tersebut memiliki makna yang jauh lebih spesifik dan berbahaya, karena berasal dari terminologi klasik militer yang berarti senjata telah dikunci, terisi peluru, dan siap ditembakkan.

Istilah ini bukan metafora retoris biasa, melainkan perintah kesiapan tempur yang telah dikenal dalam doktrin militer Amerika Serikat sejak abad ke-18 dan secara resmi masuk dalam buku pedoman senjata pada 1940, bersamaan dengan Perang Dunia II.

Baca Juga: 
Iran Menjadi Negara Pertama yang Berhasil Mematikan Jaringan Starlink

Karena itu, penggunaan frasa tersebut oleh seorang presiden aktif tidak dapat dilepaskan dari pesan ancaman operasional, terlebih ketika diarahkan pada negara berdaulat yang tengah menghadapi dinamika sosial internal.

Pemerintah Iran menilai pernyataan Trump sebagai bentuk intervensi terbuka dalam urusan domestik negara lain, yang berpotensi mengguncang stabilitas kawasan secara luas.

Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan bahwa campur tangan Amerika Serikat dalam persoalan internal Iran akan membawa konsekuensi serius bagi kepentingan Washington sendiri.

“Trump seharusnya menyadari bahwa intervensi Amerika dalam masalah internal ini akan berarti destabilisasi seluruh kawasan dan penghancuran kepentingan Amerika,” ujar Larijani dalam pernyataannya di platform X.

Ia juga mengingatkan bahwa Amerika Serikat memiliki kehadiran militer yang luas di Irak dan kawasan Teluk Persia, sehingga setiap eskalasi akan menempatkan pasukan Amerika dalam posisi rawan.

Lebih jauh, Larijani membedakan secara tegas antara para pedagang dan warga yang menyampaikan protes ekonomi secara sah dengan aktor-aktor perusuh yang berupaya mengeksploitasi situasi demi menciptakan kekacauan.

Baca Juga: 
Tanpa Suara Mahasiswa, Prof Jamaluddin Jompa "Oppo" Jadi Rektor Unhas Hanya Sisakan Satu Suara untuk Prof Budu

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/