SulawesiPos.com – Berawal dari catatan harian Kyai Haji (KH) Ahmad Surur al-Bugisi al-Pammani (1861-1932), tersingkap jejak ulama Pompanua dan jejaringnya.
Seperti yang diulas di tulis sebelumnya, KH Ahmad Surur merupakan putra dari Syekh Abdul Majid bin Abdul Hayyi al- Jawi al-Bugisi al-Buni pendiri perkampungan Pompanua (Sekarang Kelurahan Pompanua).
KH Ahmad Surur erat kaitannya dengan peradaban Islam di Pompanua. Beliau adalah imam pompanua yang pernah bermukim di Mekah lebih kurang 4 tahun.
Dia merupakan satu diantara 25 ulama muktabarah Sulsel yang diundang oleh Andi Mappanyukki Raja Bone pada pertemuan ulama di Bone tahun 1931.
Fadly Ibrahim menyimpan catatan harian beliau sejak 2012 yang sebelumnya disimpan kakeknya AGH Yusuf Surur.
Fadly Ibrahim Surur kemudian berinisiatif menulis perjalanan dakwah kakeknya berjudul Serpihan Jejak Ulama di Pompanua (Menyemai Dakwah Islam di Nusantara).
Sosok Fadly Ibrahim adalah general manager salah satu BUMN karya dan sekretaris yayasan Haji Ahmad Surur Kabupaten Bone.
Fadly Ibrahim merupakan alumni Lemhanas RI tahun 2022 dan pusat kepemimpinan Wikasatrian tahun 2024.
Sejak tahun 2009, Fadly Ibrahim aktif menulis artikel dan jurnal. Sebelumnya telah menulis buku Napak Tilas KH Ahmad Surur Al Bugisi Al Pammani (2018) dan anggota tim penulis buku perkembangan thariqah Al Muhammadiyah aktor dan jejaringnya di Sulawesi Selatan (2004).
KH Ahmad Surur lahir pada tahun 1861, putra pasangan Syekh Abdul Majid dengan Hajah Hadijah binti Abubakar.
Kepada wartawan, Fadly menceritakan perjalanan spiritual KH Ahmad Surur. Beliau lama bermukim, mengaji di Mekkah dan belajar dari beberapa ulama.
Beliau berinteraksi dengan sosok ulama seperti Sayyid Abdullah Dahlan dan Syekh Abdul Rasyid al-Bugisy, ayah kandung AGH. Muhammad As’ad, pendiri Pesantren As’adiyah.
Pengabdian KH Ahmad Surur diantaranya membina pengajian di Pompanua, beliau meneruskan pengajian yang dibina Syekh Abdul Majid dan AGH Abdul Hayyi. KH Ahmad Surur dikenal disiplin.
Pengajian yang dibinanya mendahului pesantren As’adiyah yang berdiri tahun 1930 maupun Pesantren Amiriyah Bone berdiri tahun 1933.
Selain mengajarkan kitab kuning di Pompanua, KH Ahmad Surur juga sebagai imam distrik sejak tahun 1923 untuk wilayah Palili Desa Pompanua (Saat ini Kelurahan Pompanua, Kecamatan Ajangale Kabupaten Bone Sulsel).
Pada tahun 1928 KH Ahmad Surur juga menghimpun kaum remaja yang diberi nama Yong Berejama sebagai remaja yang aktif di masjid dan kader untuk berdakwah yang dipusatkan di masjid.
Sejak bermukim di Pompanua, KH Ahmad Surur aktif menulis. Dalam temuan Fadly Ibrahim, naskah-naskah yang ditulis dalam catatan harian itu memberikan wawasan ihwal perjalanan hidupnya sewaktu menjabat imam di Pompanua sejak tahun 1925-1932.
KH Ahmad Surur menulis aktivitas hariannya pada kertas bergaris merah dan biru berukuran folio hingga 200 halaman. Catatan harian itu ditulis dengan aksara lontara dan bahasa arab.
Kegiatan harian sebagai imam dituangkan dalam catatan itu mulai hajatan masyarakat, pendirian masjid, jamaah yang meninggal atau syukuran aqiqah, pengajian, kunjungan ulama, penentuan bulan hijriah, hari-hari baik, serta agenda menerima tamu.
Pada bagian menerima tamu ini, ditemukan bahwa beliau sering menerima tamu dari ulama arab.
Di antara tamu yang dijamu di rumahnya di Pompanua sesuai catatan harian tersebut, Sayyid Abubakar bin Shafi al-Habsyi, Sayyid Umar bin Shafi al-Habsyi, Habib Ahmad bin Shaleh al-Habsyi, Syekh Said Al-Makkawiy hingga Sayyid Ahmad bin Muhamamd Babud dan Sayyid Ahmad bin Abdullah Al-Sulabiyah.
Sebagian ulama tersebut bermukim di Pompanua, Sengkang, Sidrap, Sinjai, Bone, Barru dan Makassar.
Semasa hidupnya, putra ulama Bugis, Al-Allamah Haji Abdul Majid ini mewakafkan dirinya untuk membina umat.
Fadli Ibrahim, mengatakan, KH Ahmad Surur adalah ulama yang gigih menguatkan tradisi Islam.
Dialah yang mengembangkan tradisi budaya Mambarazanji (pembacaan barzanji) dan Mambureddah (pembacaan Kitab Burdah) di Pompanua, Bone Utara dan sekitarnya.
“Beliau melakukan integrasi antara budaya yang dibawa oleh pendatang Hadramaut keturunan dari Syekh Abdullah Bafadal yang menyebarkan Islam di Bone Utara dengan tradisi di masyarakat setempat. Beliau menjadikan tradisi masyarakat setempat sebagai salah satu media dakwahnya,” jelas Fadly, Minggu (22/2/2026).
Untuk menggairahkan tradisi Mambarazanji dan Mambureddah , KH Ahmad Surur menerjemahkan Kitab Burdah ke dalam bahasa Bugis. Kitab Barazanji sendiri merupakan karya Syekh Jafar Al-Barzanji.
Terjemahan Kitab Burdah itulah yang didendangkan warga setiap kali menggelar hajatan, sepeti aqiqah, pernikahan, menebar benih hingga panen. Dia juga membuat sendiri gendering rabana untuk mengiringi barazanji.
“Beliau lakukan itu dalam rangka membentengi masyarakat dari pengaruh budaya yang dicoba diinfiltrasikan oleh penjajah Belanda. Sekaligus juga sebagai upaya untuk menguatkan nilai-nilai masyarakat,” ujar Fadly Ibrahim.
Kini keturunan KH Ahmad Surur, yakni H Faisal Ibrahim dan Fadly Ibrahim melanjutkan perjuangan dakwah sang kakek mendirikan lembaga tahfidz Al-Qur’an dibawah naungan Yayasan H Ahmad Surur . Yayasan ini telah mencetak puluhan hafidz penghapal Alquran. (kar)

